KEDUDUKAN FIQH DALAM ISLAM

Oleh: Anna Rukmana
Nara Sumber: Al-Habbib Abdurrahman Baragbah

Dalam islam, terdapat dua cabang pembahasan, yaitu ushuludin dan furu’udin. Salah satu yang termasuk dalam furu’udin adalah fiqh. Sedangkan Pembahasan dalam ushuludin adalah seperti aqidah, kepercayaan terhadap hari akhir, keimanan terhadap malaikat, rasul, dan keyakinan akan keadilan Tuhan.

image

KUMM (Kuliah Umum Masyarakat dan Mahasiswa)

Seperti yang sudah disebutkan diatas, bahwa salah satu pembahasan dalam ushulludin adalah tentang keadilan Tuhan.

Keadilan Tuhan meniscayakan bahwa Allah itu mustahil dzolim. Salah satu bentuk keadilan Tuhan adalah dengan memberikan petunjuk-petunjuk kepada setiap makhluk-Nya, yang petunjuk-petunjuk tersebut sebagian besar tertuang dalam fiqh.

Seseorang yang meyakini keadilan Allah, ia meyakini bahwa Allah menciptakan setiap makhluk-Nya tidaklah tanpa tujuan. Untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan-Nya, maka Allah harus memberikan petunjuk-petunjuk terhadap manusia ataupun terhadap makhluk-makhluk yang lain. Sebagaimana dalam Qs. (20) Thaa Haa : 50, Allah. SWT berfirman :

قال ربنا الذى اعطى كل شيء خلقته ثم هذى

“Musa berkata ; Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk”.

Petunjuk-petunjuk Allah tidak hanya diberikan kepada manusia, melainkan juga kepada makhluk-makhluk lainnya. Sebagaimana yang dikisahkan dalam  beberapa ayat al-Qur’an, bahwa lebah, laba-laba, mereka mendapat wahyu dari Allah. Begitupun dengan binatang yang lainnya, hal ini yang kita kenal sebagai hidayah takwini.

Diantara hidayah-hidayah yang diberikan Allah kepada manusia, yang paling menonjol adalah fiqh atau ibadah. Fiqh mempunyai hubungan ketergantungan yang mutlak dengan petunjuk Allah. 

Karna, seperti naskah aqidah, dia bersifat aqliyah. Manusia dengan kemampuan akal bisa mencari kebenaran. Sehingga, ayat-ayat yang mengandung tentang petunjuk, dan hadis-hadis yang terkait dengannya, hanya berperan sebagai penunjang akal manusia. Selain itu, ada beberapa hal dalam agama yang tidak bisa di pahami oleh akal manusia.

Nah! Disinilah peran ayat dan hadis untuk menunjang akal tersebut.
Manusia yang meyakini keberadaan Allah, maka ia wajib bersyukur. Bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah kepadanya.  untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah, maka selain kita mempunyai dalil-dalil naqli, akal kita secara jelas menegaskan bahwa kita harus bersyukur terhadap apa yang telah Allah karuniakan kepada kita.

Sebagaimana ketika kita mendapat pertolongan atau perlakuan baik dari oranglain, maka akal kita menegaskan bahwa kita wajib untuk berterimakasih kepada orang tersebut.

Namun, bagaimana cara kita untuk berterimakasih kepada Allah?

Hal ini yang sebagian besar manusia tidak memahaminya. Untuk berterimakasih kepada-Nya, maka kita perlu petunjuk-Nya. Karna hal tersebut berada diluar batas kemampuan akal manusia.

image

Sehingga, seseorang yang tidak meahami, akan menafsirkannya sesuai dengan persepsi dan cara masing-masing. Tanpa hidayah dan petunjuk dari Allah, maka kita tidak akan tahu, bagaimana seharusnya kita menyembah-Nya.

Maka, dalam islam kita mengenal ibadah yang dicontohkan dan diajarkan oleh para utusan-Nya.
Salah satu wujud syukur kita adalah dengan melaksanakan ibadah. Salah satunya sholat.

Sholat mempunyai tata cara tersendiri, seperti dimulai dengan takbiratul-ikram, membaca surat al-fathihah, bukan surat yang lain, kemudian diikuti dengan surat-surat yang ada dalam al-Qur’an, rukuk, sujud, dengan bacaan-bacaan yang sudah ditentukan dan gerakan dengan bacaan yang telah ditentukan lainnya. Tata cara inilah yang ditentukan oleh Allah swt.

Ibadah mempunyai dua syarat, yaitu adanya perintah (yang disertai dengan petunjuk dari-Nya) dan dalam pelaksanaan ibadah harus dengan ikhlas. Perintah dari Allah, sebagaimana yang kita ketahui ada yang bersifat wajib dan ada yang bersifat sunah.

Begitu pula dengan larangan dari Allah, kita mengenal ada yang bersifat haram dan makruh. Sedangkan diantara keduanya ada yang tidak ada hukum, yaitu mubah.

Ketika Allah memerintahkan sesuatu, maka perintah tersebut harus disertai dengan petunjuk-petunjuk pelaksanaannya. Itu niscaya. Karna jika tidak, maka Allah melanggar salah satu sifat-Nya, yaitu adil. Dengan tidak memberikan petunjuk atas apa yang telah diperintahkan-Nya, maka itu berarti Allah telah berbuat dzolim (naudzubillah).

Seorang muslim, atau orang yang memperyacayai dan meyakini keberadaan-Nya, diwajibkan untuk taat mutlak kepada-Nya. Sebagaimana difirmankan dalam QS (6) al-An’aam : 61.

Fiqih atau ibadah adalah tuntunan bagaimana kita menataati Allah swt. Ketika seseorang telah memahami keberadaan Allah, memahami keadilan-Nya, maka dia akan menjalani fiqh dengan baik dan nyaman. Karna fiqh selaras dengan ushul.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s