Pancasila, Kombinasi Sempurna Ideologi

Proklamasi, Depok. 25 Maret 2016
Oleh: Ridhwan Kulaniy

image

Manusia dan Kemanusiaan adalah Hikmat

PDKT with PANCASILA

Indonesia merupakan Benar satu Negara yang memiliki Asas Dasar Negara yang berbeda daripada kebanyakan Negara di dunia.

Indonesia Negara dengan Asas Dasar kombinasi antara Spiritualisme, Humanisme, Federalisme, Demokrasi, dan Komunis-Sosialisme. Tetapi, Indonesia Absolute (Mutlak) bukanlah sebagai Isme-isme tersebut. Karena, Asas Dasar Negara Republik Indonesia Mutlak Pancasila. Tanpa bisa di tawar, tanpa bisa di lobby-lobby.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa (Ketuhanan, Spiritualisme).

Ada beberapa Negara lain yang juga menerapkan sistem Ketuhanan dalam Kenegaraan, namun tidak se-eksklusif Indonesia dalam Tatanan Asas Dasar Kenegaraannya.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Humanisme).

Hampir seluruh Negara menjunjung tinggi Kemanusiaan, tetapi kebanyakan mereka mengekang rakyatnya untuk berekspresi berdasarkan Kebudayaan, Keberadaban dan Kearifan (keadilan) yang berlaku di dalam masyarakatnya. Sehingga menciptakan isu-isu kemanusiaan baru yang cenderung salah kaprah dan tidak arif atau tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma Budaya serta Adat Istiadat yang ada di masyarakat. Dan hasilnya terlahirlah benturan-benturan peradaban dan benturan-benturan sentimen masyarakat.

3. Persatuan Indonesia (Federalisme).

Bisa disebut sebagai Perserikatan antar Bangsa (Persatuan Kesukuan). Kebanyakan Negara-negara serikat pada akhirnya berpecah-belah, saling memerdekakan wilayahnya masing-masing, karena tidak ada satu Asas yang secara Rill dan menyatukan atau mengikat mereka kedalam satu nama yaitu Persatuan. Indonesia memiliki Bhinneka Tunggal Ika sebagai Asas Rill Persatuan Kebangsaan dan juga cita-cita luhur.

4. Kerakyatan yang di Pimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan, dalam Permusyawaratan Perwakilan (Demokrasi).

Banyak Negara yang menerapkan Demokrasi di Negaranya yang pada akhirnya, mengalami dis-stabilitas di dalam Negaranya. Baik dalam hal kesenjangan sosial, ekonomi, politik, dll. Karena Demokrasi sendiri di ciptakan dengan tujuan utama mengangkat suara para Elite Politik untuk mendapat pengaruh di kalangan masyarakat yang awam (tidak memiliki suara atau pemahaman dan pengalaman Politik), dalam hal ini terjadi perebutan pengaruh antara satu elite dengan elite yang lain. Ini sudah mulai nampak juga melalui ParPol-Parpol yang mengambil peran sebagai kaum para Elite yang masing-masing memiliki kepentingan pribadi atau kelompok. Sebenarnya politik semacam itu bukan lagi disebut sebagai Demokrasi, melainkan sebagai Aristokrasi atau Pantonim daripada Demokrasi itu sendiri. Secara teoritis Keduanya saling bertentangan, tapi pada kenyataannya kini sudah tidak jelas lagi perbedaannya. Maka Demokrasi saat ini lebih tepat disebut sebagai Demokrasi Liberal yang mulai ramai di kampanyekan Pasca Revolusi Amerika, Revolusi Perancis, lewat prinsip Modernisasi hingga kini pun terindikasi perkembangannya di Indonesia.

Indonesia sendiri mempunyai standar Demokrasi, yaitu berlandaskan pada “Hikmat Kebijaksanaan”. Hikmat sendiri dapat diartikan sebagai Ilmu atau Pemahaman yang tinggi dalam hal Kerakyatan dan Kenegaraan. Dan “Kebijaksanaan” sendiri mengarah kepada Pengetahuan dan Pemahaman Tertinggu Manusia mengenai Manusia dan Ketuhanan. Jadi, sekalipun di Indonesia mau di terapkan Demokrasi. Yang dalam pembahasan buku-buku di sekolah disebut dengan Kekuasaan Rakyat. Maka sudah semestinya seluruh Rakyat Indonesia memahami atau memiliki Hikmat Kebijaksanaan dalam dirinya sehingga dapat mencapai hasil yang paling baik dalam penerapan Demokrasi itu sendiri. Tapi jika tidak, maka sudah semestinya Permusyawaratan Perwakilan yang berdasarkan pada Hikmat Kebijaksanaan seperti yang disebutkan dalam Sila ke-4 dari Pancasila itu sendiri. Perwakilan Permusyawaratan itu sendiri harus memenuhi syarat Hikmat Kebijaksanaan, sehingga tidak terpengaruh oleh Kepentingan Pribadi maupun kelompok. Melainkan untuk Kepentingan Bangsa dan Negara.

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Komunis-Sosialisme).

Negara-negara Komunis saat ini malah cenderung otoriter. Dalam beberapa kondisi keotoriteran dapat berdampak baik, yaitu menekan para anti-Nasionalis dan mendongkrak jiwa Patriotisme Bangsa. Namun dapat menimbulkan efek jengah dan malah berdampak pada miss-humanisme atau kehilangan kemanusiaan. Karena prinsip Sosialis itu sendiri di sandarkan kepada Pemahaman dari Rezim itu sendiri. Sedangkan Pancasila, mengangkat Keadilan Sosial dengan penyerahan Hak dengan penjelasan “bagi” seluruh Rakyat Indonesia. Tentunya selama apa yang di lakukan atau di usung Rakyat tidak bertentangan dengan seluruh Isi serta penjabaran dan pemahaman mengenai Pancasila itu sendiri.

image

Manusia Indonesia adalah Pancasila yang Hidup dan Nyata.

Jadi tidak perlu saling ngotot membela kiri, kanan, atas, bawah, depan atau belakang. Pancasila secara gamblang dan menyeluruh telah mendikte kita mengenai seluruh Ideologi Kenegaraan yang ada di dunia ini.

Lalu, masih mau bangga dengan kekirian atau kekananan, dst…??

Banggalah pada Pancasila, supaya kita menjadi Manusia Indonesia seutuhnya.

Salam Pancasila!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s