Berbuah Tanpa Musim

Oleh: Eza Azerila

image

Setiap orang bisa menanam Pohon, tapi belum tentu bisa berbuah.

Berbuah Tanpa Musim

Indonesiaku..

Sekitar 4 tahun lalu, dari kumpulan konkow (komat-kamit and kopi) berhimpun dan mengidentifikasi komunitas itu sebagai Semangat Merah Putih, Semeru. Sekarang di presideni oleh bung Engki Koto . Program kami diberi sandi buah a-pel, aksi pelayanan.

Sampai sekarang buah apel masih dapat dinikmati masyarakat dalam bentuk pelayanan kesehatan cuma-cuma, pelayanan kopi, dan pelayanan kebersihan. Dari manakah pendanaan proyek apel semeru untuk tenaga medis, obat-obatan, alat-alat pembersih sampah, pengadaan kopi, gula, alat masak, dan terutama awak-awak tenaga pelayanannya?
Sumber pendanaan kegiatan apel berasal dari kantong-kantong kami sendiri. Saweran. Philantrophy. Hmm

Dua orang tokoh sepuh yang kami mintai petuah-petuahnya adalah Om Hwee Lee (Mantan Pejabat di Kedutaan Vatikan) dan Mayjen Mustopo (purn).

Lalu apa hubungannya, judul tulisan dengan cerita Semeru segala?

Aku hanya ingin cerita yang nyata dan yang aku alami. Bahwa sebenarnya seberapapun skala himpunan atau komunitas, yang penting dapat melakukan sesuatu yang produktif. Asal berorientasi solusi bukan problem. Asal memberi buah bukan duri.

Perumpamaan kebenaran itu bagaikan pohon yang sehat. Akarnya menghunjam ke dasar bumi, dahan dan rantingnya menjulang ke angkasa. Dan pohon itu terus memberikan buahnya setiap saat tanpa musim.

Apapun agama atau ideologi yang kamu yakini itu adalah akar. Akar tak perlu diperlihatkan. Urusan akar bagaimana ia menghunjam sedalam-dalamnya agar pohon menguat. Akar tidak perlu dipamerkan. Akar tidak perlu diberikan ke orang-orang. Orang lain tidak butuh akar, tidak butuh agama, tidak butuh ideologimu.

Pohon datang demi buah. Buah agama adalah pelayanan. Solusi hidup. Penyelesaian problem ekonomi, politik, sosial, kesehatan, pendidikan, kebersihan dsb. Beragama bukan saling memperlihatkan akar. Masyarakat menunggu buah dari pohon agamamu, pohon keyakinanmu, pohon ideologimu. Mereka tidak butuh agama, mazhab, aliran, ajaran, atau doktrin-doktrin agamamu. Yang mereka butuhkan buah-buah manis agama berupa kasih sayangmu, pelayananmu, dan penyelesaian persoalan mereka olehmu.

Itulah ciri beragama yang benar. Berlomba memberikan buah. Sebaik baik pohon adalah yang memberikan buahnya setiap saat tanpa musim. Karena banyak juga pohon yang berbuah perlima tahun. Musim pilkada, pilgub, dan musim pilpres. Ada juga pohon yang memberikan durinya. Menyakitkan sekali. Alih-alih mengharap buahnya, semua orang berharap pohon itu tidak tumbuh di lingkungannya. Berduri dan beracun.

Alangkah indahnya negeri ini jika setiap pemeluk keyakinan berlomba memberikan buah termanis dari agamanya. Semua sibuk memperkuat akar masing-masing, dan semua dengan kesehatan pohon masing-masing memberikan buah pelayanan terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Perselisihan, pertengkaran, perpecahan, terhentinya pembangunan, stopnya saling melayani, dan hilangnya kepedulian ketika masing-masing pemeluk agama jualan agamanya, mencari umat, mencari pendukung, mencari lapak memperluas jaringan pasar.

Berhentilah menjadikan agama sebagai komoditi nonmigas yang membuatmu masing-masing sibuk membangun strategi penguasaan pasar, analisa swot, memperkuat merk dan branding, membuka distributor, dan sibuk melakukan kaderisasi agen-agen marketing.

Sebenarnya kamu mau beragama apa jualan sih…??

Indonesiaku..

Tahukah kamu siapakah para pendusta agama? Mereka adalah yang datang ke rumahmu, yang mampir di kronologimu, yang datang di berandamu, mencaci-maki agama lain, kelompok lain, golongan lain, memecah-belah persaudaraan, kebangsaan, dan kemanusiaan, dan mengiming-imingi surga dan bidadarinya agar kamu masuk ke dalam kelompoknya.

Indonesiaku..

Tuhan Maha Kasih Sayang , ciri bahwa manusia bertuhan adalah manusia yang berbuah cinta, berbuah kasih, berbuah kemurahan hati dan berbuah sayang. Biasanya, mereka terbuka, toleran, berwawasan, logikanya berfungsi , berbahasa Indonesia yang baik, wajahnya ramah, air mukanya menyejukkan, senyumnya aduh hay…,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s