Antara Politik dan Intrik

Oleh: Eza Azerila

image

Pemerintahan Diri menjadi Unsur penting dalam Mewujudkan Politil Adiluhur.

Pelaku Politik YES, Pemain Intrik NO

Indonesiaku tercinta..

Dalam satu obrolan, teman Eza menyergap dengan pertanyaan yang gimanaaa gituhh..

Sambil menyebut nama-nama teman dekat Eza yang sudah jadi mentri, gubernur dan sebagai anggota dewan terformat (salah ketik, terhormat maksudku hm), teman itu bertanya, “kenapa Eza tidak terjun ke dunia politik…? “.

“Siapa bilang Eza tidak berpolitik? “ Jawabku.

Kok, Eza tidak berhasil kayak teman-teman Eza si Anu dan Si Ani..? “. Desaknya

Hm. Emang politik apa sih? “. Tanya Eza memancing..

Dia keliatan gelagapan, gak nyangka akan nerima pertanyaan balik… Akhirnya supaya dia tidak nervous mending Eza melanjutkan menjelaskan tentang apa itu politik dan bedanya dengan intrik.

Eza melanjutkan.

Kalau orang mengerti politik, dia pasti tidak akan jadi korban politik.

Maksudnya..?

Politik itu kan artinya seni mengendalikan manusia oleh manusia untuk mencapai kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Iya. Terus…

Dan banyak orang lupa, mereka mengendalikan orang lain, pihak lain, massa, dan rakyat. Dan lupa bahwa dirinya juga manusia. Bahkan dirinya adalah manusia yang paling penting dan paling terjangkau untuk dikendalikan.

Proses politik pertama kali berperistiwa di zona wilayah pemerintahan diri. Apakah kesadaran ketuhananmu yang mengendalikan dirimu atau kesetananmu. Jika ketuhananmu ambil kendali terhadap dirimu itu artinya kamu sedang berpolitik. Kamu menjadi bahagia dan membahagiakan, menjadi cinta dan mencintai, menjadi berkemanusiaan dan memanusiakan, menjadi damai dan mendamaikan, harmoni dan mengharmonikan dst.

Tapi kalo kamu lupa kepada dirimu sendiri, sehingga kamu dikuasai dan dijajah oleh kecenderungan emosionalismemu, dan kamu menjadi kesetanan, maka itu artinya kamu gagal dalam berpolitik yang suci, luhur, dan mulia, yang tujuannya adalah mendamaikan dan membahagiakan manusia. Maka ketika kamu telah menjadi korban keganasan naluri reptilmu, kamu mulai bermain intrik. Jiwamu menderita dan menderitakan pihak lain, jiwamu rusak dan membuat kerusakan, jiwamu resah dan meresahkan, jiwamu hancur dan menghancurkan, jiwamu bingung dan membingungkan, jiwamu terjajah dan menjajah, jiwamu gelap dan menggelapkan, jiwamu rugi dan merugikan, jiwamu sengsara dan menyengsarakan.

Seorang yang mengerti politik tidak mungkin melakukan intrik. Politik itu suci, luhur, dan mulia. Jika kesucian, keluhuran dan kemuliaan sudah tidak ada maka itu bukan politik melainkan intrik. Politik is not intrict at all.

Politik itu membangun keluhuran diri bukan membinasakan dan menderitakan diri. Poltik oleh karenanya dimulai dari mengelola wilayah pemerintahan diri. Dengan demikian, berpolitik tidak harus jadi menteri, atau gubernur, atau anggota dewan terformat. Format aja diri sendiri dengan format ketuhanan dan kemanusiaan dari pada diformat untuk berlawanan dengan ketuhanan dan kemanusiaan.

Jadi, Eza lebih cinta berpolitik daripada bermain intrik.

Kalo kamu mengerti politik, maka sebenarnya setiap saat bahkan setiap tarikan dan hembusan nafasmu adalah kamu sedang berpolitik.

………., temanku termangu. Ternyata dia sering mengamati dunia intrik yang dikiranya dunia politik hmmm…

Yuk kita masyarakatkan dunia politik sehingga bangsa tercinta tidak masuk dan sibuk di dunia intrik..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s