Semakin Mati Semakin Hidup

Oleh: Eza Azerila

image

Cinta Memanggilmu...

Semakin Mati Semakin Hidup

“Tuhan, perlihatkan padaku, bagaimana Kau hidupkan yang mati”. Begitu pinta Abraham satu momen kepada Tuhannya.

“Ambillah beberapa ekor burung wahai utusanku, potong dan cincang-cincang tubuh burung-burung itu. Letakkan serpihan tubuh burung-burung itu diatas bukit. Kemudian, panggillah, maka mereka semuanya akan datang menghampirimu”. Begitu Tuhan menjawab. Sedap kali jawabannya ya bung Thomas al-Akbar Siregar, bung Denny Siregar, bung Husin Siregar…,hm

Abraham sang utusan Tuhan melakukan semua perintah-Nya. Dan kemudian, sang utusan memanggil burung-burung tersebut.“Suittsuiiiiiiittt.. “.

Dan ternyata benar. Burung-burung yang sudah jadi serpihan tersebut datang menghampiri Abraham. Amazing!!

Ini bukan cerita kesaktian. Bukan pula cerita kaum illusionis. Bukan cerita dongeng. Ini cerita hikmah. Cerita perumpamaan bahwa semakin mati maka semakin hidup.

Kok…!!??

Ya justru karena sudah mati maka saat dipanggil mereka datang. Jika mereka masih hidup dengan kebebasannya, saat dipanggil mereka akan pergi membawa diri dan kebebasannya.

Burung di sini bermakna kebebasan. Bermakna ingin terbang pergi sesuka hati. Suka-suka. Semau-mau. Bebas bukan merdeka.

Ketika kebebasan yang adalah diri ilutif itu sudah dibunuh. Dicincang-cincang. Dan sudah mati, yang tersisa adalah kesiapan untuk dipanggil oleh suara ketuhanan, suara kebenaran, suara keadilan, suara kebijaksanaan, suara cinta kasih, suara kemanusiaan.

Setiap saat, kebenaran, keadilan, kejujuran, dan kemanusiaanmu membisikkanmu dan memanggilmu untuk datang berpihak padanya, untuk berjalan bersamanya. Sang Cinta itu, Sang Kebenaran itu ingin memelukmu dalam dekapan kasih sayangnya.

Saat mereka memanggilmu, jika naluri kebebasanmu masih hidup, masih liar, masih ganas, masih buas, maka pasti kamu akan terbang dengan kebebasanmu itu, menjauh sejauh-jauhnya dari jangkauan tangan-tangan kebenaran, dari suara-suara keadilan.

Tapi jika naluri kebebasanmu sudah mati, sudah tercincang, sudah tak bersisa, maka dengan langkah pasti, langkah berani, kamu segera, secepat kilat datang menghampiri kehidupan sejatimu, menghampiri tangan kebenaran yang merangkulmu, mendatangi suara cinta yang ingin memelukmu dengan sepenuh kelembutan dan kasih sayang. Saat itu, semakin hiduplah kamu, semakin bergairahlah kamu, semakin merdeka dirimu dan semakin tenggelamlah dirimu dalam samudera tak terbatas ketunggalan Sang Maha Kekasih.

Semakin mati kebebasanmu semakin hidup kemerdekaanmu. Semakin mati kemerdekaanmu semakin liar kebebasanmu.
Bagaimanakah cara kamu melihat posisimu apakah sudah mati keliaran dan kebebasanmu yang karenanya dirimu semakin hidup dan merdeka?
Lihat saja apakah kamu datang oleh panggilan Pancasila, panggilan ketuhanan, panggilan kemanusiaan, panggilan persatuan, panggilan kebijaksanaan, dan panggilan keadilan atau kamu pergi menjauh darinya ??

Manakala kemerdekaan seseorang belum hidup dan kebebasan serta keliarannya belum mati maka panggilan suci ketuhanan tidak menarik baginya. Dia akan terbang pergi jauh sejauh-jauhnya membawa kebebasannya bahkan bisa jadi bukan hanya membawa kebebasannya dia juga pergi sambil menyanyikan syair-syair ketuhanan.., hmm?????

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s