Arab Vs Pancasila

Oleh: Eza Azerila

image

Kebodohan dalam Beragama

Arab vs Pancasila

Bosan naik pesawat domestik Manila – Zamboanga, sekali-sekali saat pulang aku putuskan naik Super Ferry, dari pelabuhan Zamboanga ke kota Manila. Lumayan makan waktu tiga hari melihat pemandangan laut.

Kesepian, sendiri ngga ada teman. Eh, kebetulan ada orang Arab berkebangsaan Yordania juga sendirian. Hm. Rejeki nomplok. Untung dia bisa berbahasa Arab jadi bisa konkow seluas-luasnya.

Bla bla bla, akhirnya aku menginap satu hotel sehari bersamanya sambil nunggu jadwal keberangkatanku ke SHIA Cengkareng esok hari. Rupanya aku berhasil mempromosikan kemolekan Indonesia. Dan beberapa bulan kemudian dia nelpon dari Yordan siap ziarahin Nusantara.

Sesampai di Jakarta aku carikan hotel di kawasan Cikini. Dan tentu saja akhirnya dengan sukarela aku jadi guide freelance untuknya.

Awalnya dia berkhayal mau lakukan bisnis ini dan anu. But you know, Im exactly not a business man guys..

Berhari-hari saya datang menemuinya di hotel. Dia mulai masuk pembicaraan ke dalam domain agama. Dia pikir cara aku beragama seperti dia. Dan dia pikir dia karena Arabnya patut diamini kalo soal agama. Dia mulai menanamkan agama yang skriptural, harfiah, narrowmindedness, fanatik, serba main ayat, dan yang lebih penting dari itu dia menyampaikan agama yang anti logika.
Aku senyum-senyum aja menanggapinya. Rupanya dia kecewa, dia inginnya aku berjoget semangat mengikuti fanatismenya. Dia semakin kecewa ketika aku mulai bicara agama yang terbuka, logic, rasional, dan ramah. Kataku, beginilah mengapa di Indonesia meski banyak agama tapi tetap rukun. Dan mengapa Arab sering dilanda perang karena mempertuhankan agama. Bagi kami orang Indonesia, Tuhan lebih tinggi posisinya dari agama kami.

Mendengar ucapanku dia nampak sangat kecewa. Dia gagal menanamkan agama sempitnya itu kepada agama yang sudah dipancasilakan. Gara-gara itu dia mulai malas-malasan ketemu. Beberapa hari kemudian dia pamit kembali ke Yordania la bisnis wa laa agama. Bisnis gagal, misi agama gak berhasil. Hmmm…

Belakangan ternyata di negeri ini sudah mulai masuk paham paham kayak bung Yordan itu. Sedikit-sedikit sesat. Sebentar-sebentar mendaftar para calon penghuni neraka. Akhirnya negeri ini sedang mengarah pada perpecahan dan bisa jadi ada kepentingan-kepentingan tertentu yang menghendaki terjadinya perang saudara seperti yang terjadi di Timur Tengah.

Bangsa bodoh sepanjang sejarah mudah diadu-domba. Mereka dikondisikan dan diciptakan untuk beragama tanpa akal. Tanpa nalar. Tanpa pemahaman. Tanpa pengertian. Tanpa perenungan. Tanpa ruhani. Tanpa cinta. Tanpa kasih sayang dan tanpa toleransi.

Ketika mereka sibuk saling bertengkar para kapitalis sedang membangun gurita ekonomi, menguatkan pengaruh politik, membuat gedung-gedung sentra-sentra bisnis, mengeruk sumberdaya alam. Mereka dapatkan surga yang real. Sementara yang sedang bertengkar tengah kehilangan kekayaan realnya, surga yang nyatanya, dan saking frustasinya menginginkan mati demi surga yang diciptakan dalam hayalannya masing-masing.

Akhirnya, para pemeluk agama meninggalkan generasi anak yang tidak punya apa-apa. Nelangsa. Gigit jari. Menjadi budak di rumahnya sendiri. Di negerinya yang kaya raya.

Lanjutkanlah pertikaianmu jika kamu ingin seperti Timur Tengah, seperti Suriah, Yaman, Arab Saudi.

Jangan buru-buru mengiyakan tulisanku ya bisa jadi ada gagasan lebih cemerlang misalnya ya oplos aja sekalian agama-agama biar gak bertengkar. Misalnya!!?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s