Beda Nama Satu Tingkah

Beda Nama Satu Tingkah

PhotoGrid_1460123366230[1]

Bersatu dalam Perbedaan, Mengikat dengan Kesamaan. Persatuan.

Oleh: Eza Azerila

Sesuatu disebut sesuatu lebih dikarenakan sifat, watak, karakter dan kualitas yang meliputinya daripada nama, casing dan bentuk-bentuk yang membungkusnya. Patung harimau, semua bentuk, warna, dan nama harimau ada padanya. Tapi semua orang tau bahwa itu bukan harimau karena tidak ada sifat dan kualitas harimau. Patung harimau tidak membuat takut anak kecil sekalipun.

Orang-orang kadang hanya beda keyakinan, beda nama agamanya, beda nama alirannya, beda nama mazhabnya, tapi pada dasarnya mereka sama persis pada sisi sifat dan kualitas, ketika mereka sama-sama mencaci sesama mereka, sama-sama menjelekkan agama dan keyakinan, sama-sama emosian, sama-sama bertengkar, dan sama-sama saling tuduh sesat-menyesatkan serta saling goblok-goblokan, sebenarnya mereka cuma beda di nama, beda di casing, beda di sebutan, beda di atribut, beda di symbol-symbolnya saja.

Sebenarnya mereka satu dan sama. Sama isinya. Kualitasnya sama. Sifatnya sama. Emosinya sama. Kekanak-kanakannya sama. Kegemaran memecah-belahnya sama. Kesukaan saling menghujat nya sama. Hoby untuk membangun kebencian, permusuhan, dan perpecahannya sama.

Di antara mereka hanya beda nama namun serupa dalam sifat, sikap kualitas. Di antara mereka tidak ada yang lebih baik. Tidak ada yang lebih benar. Mereka saling berguru dan saling belajar serta saling mencontoh satu dengan lainnya. Saling belajar meremehkan. Saling belajar menjatuhkan. Saling belajar tidak menghargai Tuhan dan agama yang mereka anut.

Ada satu cerita seorang panglima perang yang bijak. Di satu pertempuran, pasukannya tidak dapat akses air sungai. Sepanjang sungai Eufrat dikuasai musuh. Ada perang, ada pula kemanusiaan. Karena manusia butuh air, maka sang panglima ini mengajukan permintaan agar pasukannya diberi akses untuk mengambil air sungai. Ini kebutuhan mendasar. Tapi pihak musuh mencegah dan tetap tidak memberi kesempatan bagu pasukannya mengambil air.

Dengan kekuatan penuh akhirnya, panglima bijak ini dapat membuat musuh mundur. Terjauh dari sungai. Kini pasukan sang panglima bijak menguasai penuh jalur sungai. Saat pihak musuh memohon akses ke sungai, sang panglima dengan penuh jaminan keamanan memberikan mereka akses ke sungai sepuas kebutuhan mereka. Melihat sikap sang panglima, sebagian prajurit mempertanyakan dan mempersoalkan, kenapa?

Bukankah kita sudah dapat memukul mundur mereka?

Bukankah dulu mereka tidak memberi ampun ke kita untuk memperoleh air?

Kenapa kini sang panglima memberi izin pada mereka untuk mendapatkan air?

Sang panglima menjawab penuh kebijaksanaan, “kalau aku tidak mengizinkan mereka memperoleh air apa bedanya aku dengan mereka, berarti aku belajar kepada mereka. Mereka lah yang harus belajar kepadaku bagaimana hidup berkemanusiaan dan berkebijaksanaan”.

Dan dalam kisah ini, konon agama sang panglima dan agama musuhnya sama mereknya. Jadi kadang kita melihat beda di sisi mereka namun sama di sisi kualitas. Dan kadang pula sama di sisi merk namun beda di sisi kualitas. Jadi jangan heran kalo di dunia ini ada yang mempertuhankan agama dan mazhabnya yaitu mereka yang mengorbankan Tuhan, ketuhanan, keadilan, kebijaksanaan, persatuan demi membela tuhan ciptaan mereka dalam bentuk patung berupa merk dan symbol-symbol agamanya. Hemmm…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s