Falsafah Gerakkan Insani

Falsafah Gerakan Insani

Oleh: Ridhwan Kulaniy

552bf0db6ea8348f738b4567

Pancasila Sakti

Di zaman yang sudah berkembang sedemikian rupa ini, kita di tuntut memahami segala hal yang kita jalani secara menyeluruh dan mengenali berbagai pemikiran serta kegiatan atau gerakan secara mendalam mengenai sumber dan asal – muasal pemikiran atau gerakan tersebut. Dalam hal apapun itu, contohnya Informasi atau berita. Ketika kita mendapatkan sebuah berita, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah membaca atau menyimak isi dari berita tersebut secara menyeluruh dan detail (Jangan sekedar membaca judul dan inti). Selanjutnya kita harus mengetahui apakah media penayang berita tersebut adalah media yang memiliki “kredibilitas dan terpercaya.” Sehingga kebenaran atau aktualitas dari berita tersebut bisa atau dapat di pertanggungjawabkan. Agar kita tidak terjebak dalam permainan atau tujuan lain dari penyebaran berita tersebut yang berasal dari sumber yang mengeluarkan atau mengkampanyekannya.

Gerakan atau sebuah prinsip atau pemikiran yang berhubungan dengan keyakinan dalam kehidupan manusia (Ideologi) di dunia. Dalam dunia pemikiran yang makin dewasa ini, berbagai ideologi  semakin berkembang dan makin bertambah. Yaitu dengan bermunculannya Isme – isme baru yang tampil sesuai dengan perkembangan zaman dan mengusung hasrat – hasrat pemikiran baru yang konon tercipta karena manusia harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ada yang “katanya” berlandaskan pada HAM, Kesetaraan Gender, Modernisasi, Kebebasan berpendapat, dll. Semua tampil dan berkampanye menuntut orang – orang atau masyarakat luas untuk mengakui Kebenaran dari Isme – isme yang mereka anut.

Dasar Pandangan dalam terbentuknya Ideologi/Isme

Untuk memahami tujuan dari semua isme – isme itu, mari kita bersama – sama mengkaji atau menelaah unsur atau dasar – dasar dari terbentuk atau tercetusnya Pemikiran atau Isme – isme tersebut. Disini saya akan membahasnya secara lebih umum, tapi mohon maaf jika di dalamnya beberapa kali saya akan menampilkan beberapa kisah dari sejarah, yang memang menjadi sumber utama dari pengkajian atau pembahasan ini dan merupakan sebuah disiplin Ilmu yang saya pahami. Dan beberapa nama Tokoh Dunia yang sengaja saya sebut secara lebih umum.

Terdapat dua Pandangan yang menjadi dasar tercetusnya sebuah Isme dalam sejarah Pemikiran Manusia :

  1. Pandangan Dunia Berdasarkan Ketuhanan (Dunia Ilahis)

Yaitu, Ideologi yang lahir berdasarkan pada beberapa faktor. Faktor duniawi, rohani dan spiritualitas manusia berdasarkan teks – teks suci al-Kitab (Veda, Zabur, Taurat, Injil, al-Qur’an). Yang secara umum disebut sebagai Wahyu, Sabda atau Firman yang berasal Tuhan Maha Pencipta. Tokoh – tokoh pergerakkan ini pun dapat kita ketahui dengan jelas. Sepert Nabi Idris (Shidarta Gautama), Daud, Musa, Isa’ (Yesus) dan Muhammad. Dan juga tokoh – tokoh lainnya yang mewarisi dan menerapkan Ideologi tersebut ke dalam pandangannya dan pemikirannya. Lewat tokoh yang lebih Umum kita bisa mengenal sosok – sosok lain yang juga berpandangan Dunia Ilahis. Seperti Soekarno, Che Guevara, Fidel-Castro, Dalai Lama, Mahatma Ghandi, dll.

Karakteristik Ideologi yang berdasarkan pada Pandangan Dunia Ilahis diantaranya adalah :

  • Membangun,
  • Menata
  • Menciptakan Keharmonisan dalam 4 Hal: Yaitu Hubungan Manusia dengan Tuhan, Hubungan Manusia dengan Alam, Hubungan Manusia dengan Manusia dan Hubungan Manusia dengan dirinya sendiri.
  • Berlandaskan pada Rahmat, Cinta dan Kasih Sayang.
  • Pergerakkan yang jauh dari Kepentingan pribadi maupun kelompok (Egoisme Individual atau Egoisme Kelompok)
  1. Pandangan Dunia Berdasarkan Humanisme (Matrealisme)

Dalam Pandangan Matrealis menjadikan Manusia sebagai Asas Utama atau Tuan dalam tercetus atau terbentuknya sebuah Isme. Pandangan ini pada akhirnya melahirkan berbagai Isme, yang sampai saat ini pun terus bermunculan dan semakin ramai di kampanyekan. Seperti Liberalis, Sekulerisme, Sosialis Komunis yang berkembang menjadi Neo-Sosialis, Demokrasi, Kapitalisme dll. Yang lalu berkembang ke dalam Ideologi lain yang juga mengadopsi paham – paham sebelumnya yang tujuannya untuk melakukan pergerakan Modernisme, Kosmopolisme, Globalisme terhadap pemikiran – pemikiran mereka tersebut. Karena bagi mereka yang berpandangan Dunia Matrealis, hanya Ideologi merekalah yang paling Relevan dan mampu menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang.

Sebenarnya saya merasa tidak perlu lagi menyebutkan sosok – sosok atau Negara yang menganut Isme – isme tersebut, karena bukan hal yang tabu lagi bagi Pemikiran kita yang dewasa ini. Tapi saya berikan sedikit contoh, seperti Negara Setan Besar Amerika Serikat, Penjajah Israel, dll.

Kriteria atau karakteristik Ideologi Matrealisme adalah Melakukan apa saja untuk mencapai berbagai macam Tujuan Individu atau Kelompok mereka. Bahkan dengan cara – cara yang terbilang bertentangan dengan Kemanusiaan, dan pertumpahan darah.

Untuk mendukung dua Pandangan diatas, dalam hal ini saya menampilkan sebuah tragedi sejarah yang secara umum siapapun mengetahui mengenai hal ini terutama para penganut Keyakinan Agama Samawi. Yaitu peristiwa pertumpahan darah yang pertama kali terjadi di kalangan umat manusia.

Kita semua pasti mengenal Nabi Adam…?

Ya dan sebuah tragedi bersejarah yang tertulis dengan jelas dalam teks – teks al-Kitab. Perselisihan yang terjadi antara Keturunan Adam, yaitu Habil dan Qabil (Habel dan Kain dalam al-Kitab Injil dan Taurat).

Peristiwa ini secara jelas memiliki latar belakang historis yang memiliki hikmah bagi kita. Mengingat bahwa sejarah adalah sebuah sekolah dimana kita dapat mengambil pelajaran daripadanya. Kedua karakter tersebut berasal dari satu rahim dan juga mendapatkan atau menerima pendidikan yang sama dari ayah mereka, Adam. Tapi pada hakikatnya, mereka berdua memiliki pandangan kehidupan (Ideologi) yang berbeda. Habil sebagai Wujud dari Pandangan Dunia Ilahis, sementara Qabil sebagai Wujud dari Pandangan Dunia Matrealis.

Betapa Karakter Qabil menampakkan Wujud Matrealis yang sangat kental. Demi mencapai tujuan Individualnya, ia nekad membunuh saudara kandungnya sendiri. Sementara Habil, sosoknya sangatlah mencerminkan Wujud Ilahis. Bahkan dalam satu teks suci, dikatakan bahwa ketika Qabil bersumpah untuk membunuhnya, ia menunjukkan sikap penuh kasih sayang dan berusaha menciptakan keharmonisan antara ia dan saudaranya tersebut.

Dasar yang kita gunakan dalam Pembahasan dan Pengkajian ini adalah, Pemikiran Logis dan Hikmah yang berasal dari Awal Sejarah Umat Manusia.

Jadi sudah semestinya kita mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah di masa lampau. Dan menerapkan Pandangan Dunia Ilahis sebagai dasar dari Gerakan Insani atau Ideologi kita dalam kehidupan ini. Agar berbagai Pemikiran, Gerakan dan Sistemnya tidak mengacu kepada keuntungan dan kepentingan individu atau kelompok.

Membahas Pandangan Dunia Ilahis, berarti menyentuh Ideologi yang berlandaskan kepada Ketuhanan dan Kemanusiaan (Memanusiakan Manusia).

Anugerah terbesar bagi seluruh umat manusia adalah Ketuhanan. Maka Karakteristik Utama orang yang berketuhanan adalah bersedia mengabdi kepada Tuhannya, Tuhan Yang Maha Esa.

Menariknya, kita sebagai benar satu bangsa terbesar di dunia. Memiliki Semboyan atau asas Negara yang secara jelas belandaskankan kepada Prinsip-prinsip Ketuhanan dan Kemanusiaan. Yaitu, Pancasila.

Hafalkan..?? Jangan sampai ada lagi salahsatu dari kita, sebagai penerus Bangsa yang tidak hafal dan tidak memahami Semboyan Agung Negeri Tercinta ini.

Pancasila di rumuskan berdasarkan kepada Asas-asas Ketuhanan dan Prinsip-prinsip kemanusiaan yang secara logis itu berlatar belakang Pandangan Dunia Ilahis.

photogrid_1459316101853.jpg

Lima Kecerdasan, Lima Mtiara, Butir – butir Pancasila.

Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang di pimpin oleh Hikmat, Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan, Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pancasila juga menjelaskan secara filosofis sebuah langkah penegakkan Sistem Kenegaraan atau Sistem Pemerintahan Ideologi yang berlandaskan pada Pandangan Dunia Ilahis.

Dimana pada penjabarannya, secara gamblang Pancasila menentang berbagai macam Isme yang saat ini ada di dunia.

Berikut Kajian Filosofis Pancasila yang sekaligus menjabarkan sistem atau Pola Gerakan Insani dalam Pemerintahan yang berlandaskan kepada Pandangan Dunia Ilahis.

 

Ketuhanan Yang Maha Esa

Pada Sila Pertama ini, menggambarkan Sosok Pemimpin yang memiliki Pandangan Ketuhanan serta memahami Ketuhanan baik secara Teori maupun Praktek dan Realitasnya. Disini bisa merujuk kepada siapa saja tanpa terkecuali, yang pada Hakikatnya mereka Berketuhanan dan Menjadi Pemimpin Pemerintahan sebagai Wujud atau Bentuk Pengabdian kepada Tuhan Yang Esa.

Pemimpin disini bukanlah menjadi orang berkuasa, melainkan menjadi orang yang siap mengabdikan dirinya sebagai Pelayan Masyarakat secara riil dalam bingkai Ketuhanan dan Kemanusiaan. Juga merupakan Pemimpin yang memiliki Ideologi Pandangan Dunia Ilahis, sehingga rakyat terhindar dari ancaman kelaliman, kezhaliman, sikap tirani dan juga segala bentuk KKN.

Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Adil dan Beradab adalah dua Sikap yang menjadi wujud tindakkan dari sifat Kebijaksanaan. Adil adalah menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Lalu, Beradab adalah melakukan sesuatu tanpa melanggar Asas-asas Ketuhanan dan Kemanusiaan yang ada dalam Pola atau Sistem penegakkan Pemerintahan Ideologi Ilahis.

Pemimpin yang Adil akan menerapkan Kebijakan-kebijakan sesuai dengan porsi dan kapasitasnya, sesuai dengan ilmu pengetahuan yang menghasilkan solusi dan tindakan yg sesuai dengan urusan dan permasalahan yang ada sebuah negara.

Persatuan Indonesia

Nah!! Yang terpenting Pemimpin ini adalah Orang yang Menjunjung tinggi Persatuan dan menjadi sosok Pemersatu Rakyat. Yang dimana setiap kebijakkannya bisa membuat rakyat besatu dan bekerjasama dalam menciptakan kesejahteraan Sosial dan Kedamaian Nasional.

 

Kerakyatan Yang di Pimpin oleh Hikmat, Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan, Perwakilan.

Disinilah (Ideologi) Sistem atau Pola Struktur Gerakan Insani Ilahis di gambarkan secara gamblang. Bahwa dalam Sistem Pemilihan Pemimpin, itu harus menerapkan Sistem Kerakyatan yang di pimpin oleh“Hikmat Kebijaksanaan” dalam “Permusyawaratan, Perwakilan.

Jadi bukan Demokrasi, dan calon-calon Pemimpin itupun tidak berasal dari Partai Politik. Karena Demokrasi dan Partai Politik adalah Struktur Organisasi Konvensional yang memang sengaja di bentuk oleh kaum Matrealis untuk mengkotak-kotakkan masyarakat dalam ruang lingkup kepartaian, keorganisasian dan kecendrungan Ideologi. Namun Demokrasi dan Sistem Partai Politik bisa menjadi layak atau sesuai dengan Pancasila, ketika Rakyat yang menjadi pemilik suara disini memahami dan menerapkan Pancasila sepenuhnya. Sehingga tercipta dengan sendirinya sebuah Kepemimpinan yang berlandaskan pada Hikmat Kebijaksanaan dalam diri setiap Masyarakat. Dan meminimalisir dampak perpecahan itu sendiri.

Pengkotak-kotakan itu secara jelas di tolak oleh Asas dalam Sila ke-3 dari Pancasila itu sendiri. Bagaimana bisa kita secara situasional berorganisasi, berpartai, berideologi sendiri dan menolak Pancasila, padahal kita sedang berdiri di dalam sebuah Konstitusi Negara yang berlandaskan pada Pancasila..?

Ini sangat tidak Relevan dan justru seolah-olah sudah mementahkan Konsep dan Pola Sistem Kenegaraan yang ada dalam Pancasila.

 

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Siapapun yang berstatus Warga Negara Indonesia, Menaati Pancasila, Mencintai Persatuan, Menjunjung Kemanusiaan dan Memperjuangkan Keadilan, maka ia berhak pula mendapatkan Keadilan dalam segi Hak-hak Rakyat, dan Hak-hak Manusia Indonesia. Yaitu dalam hal beragama, bekerja, berpartisipasi dalam setiap usaha membangun, menjaga dan membela Tanah Air.

 

Berikut adalah Asas-asas Penegakkan Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam kaidah yang lebih Umum:

1. Menyerahkan Kepemimpinan kepada para Ahli dan Pakar yang secara Pemikiran dan Pemahaman, merupakan Manusia-manusia yang Berketuhanan dan berkemanunusiaan.

Tentu saja itu boleh seorang ‘Ulama, Pendeta, Bikshu, Budha, Ningrat, Rakyat Biasa, Dokter, dll. Tidak terbatas pada apapun pekerjaan atau kedudukan sosialnya. Intinya ia secara aktif menerapkan dan berpegang kepada Nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan.

 

2. Pemetaan Tim Investigasi dan Jurnalistik.

Ini bermaksud untuk membentuk sebuah Gerak Solutif dalam sistem dan tanggungjawab Kenegaraan. Sehingga bisa melaksanakan nilai-nilai Keadilan, ke-Beradaban serta Kebijaksanaan.

 

3. Menolak Struktur Keorganisasian Konvensional.

Tujuannya adalah untuk mempertahankan dan mengkukuhkan Persatuan dalam setiap Elemen Masyarakat, baik yang terbentuk dalam Parlemen maupun Komunitas-komunitas Kemasyarakatan. Sehingga secara menyeluruh dapat menjaga Keutuhan dan Kesetiaan setiap Warga Negara terhadap Ideologi Kenegaraan yang di terapkan di Negaranya.

 

4. Kebebasan Kerja/Gerak.

Namun tetap terkoordinasi kepada Parlemen atau Pimpinan. Sehingga tiap Pergerakkan atau Kinerja tetap dalam kooridor dan pengawasan Parlemen Kenegaraan.

 

5. Menghimpun Segenap Potensi untuk membangun Masyarakat Insani, membimbing manusia dari rintangan dan serangan pengaruh pemikiran luar. Baik secara Internal maupun eksternal.

Sehingga disini bukan hanya Parlemen atau para Pimpinan saja yang tercerdaskan, melainkan semua elemen masyarakat ikut berkontribusi dalam kesenjangan dan kecerdasan sosial baik berupa materi maupun non-materi.

 

6. Asas Nilai.

Jadi seseorang di menjadi berpengaruh atau memiliki kedudukan bukan di karenakan jabatan atau strata sosialnya. Melainkan berdasarkan kepada Kreasi, Hasil Kerja dan Aktivitas Sosialnya.

 

7. Persatuan.

Menjunjung Tinggi nilai-nilai Persatuan, Persaudaraan dan Perdamaian.

 

8. Budaya Insani.

Yaitu penerapan moralitas, norma-norma Ketuhanan dan Kemanusiaan. Cinta dan Kasih Sayang, Gotong Royong, Tenggang rasa, dll.

Sampai disini, semoga kita semua mampu bersama-sama memahami pandangan Filosofis dar Gerakan Insani atau Dasar-dasar Ideologi Pergerakan manusia dalam Kehidupan.

Besar harapan agar kita mampu bersatu dan berhimpun dalam perjuangan Mewujudkan Indonesia yang berketuhanan, berkemanusiaan, berjiwa persatuan, berkebijaksanaan, dan berkeadilan. Penuh Cinta, Kasih sayang dalam Persaudaraan dan Perdamaian.

Diambil dari Pembahasan KUMM (Kuliah Umum Mahasiswa dan Masyarakat) Minggu, 13 Maret 2016.

(Penyunting: KOMANDO)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s