Diri

Diri
Diri Real: Aku
Diri Ilusi : aku-aku
12977205_1154187004600386_8411294526833479347_o
Sahabatku terkasih, Arie Sai Bhumi , punya kata-kata sederhana yang jarang diperhatikan orang. Arie bilang, “berbenah diri dulu barulah berbenah di RI.” Mantap. Betul juga ya, orang sering sangat sibuk berbenah di RI tapi tidak sempat berbenah diri. Bisa aja bung Arie. Ya, setiap hari kamu bilang “diri”ku, “diri” mu. Pernahkah kamu merenungkan apa makna “diri” itu? Pernahkah kamu merenungi “diri”mu itu apa dan siapa? Apakah dirimu itu sosok fisikmu? Apakah setiap kamu berkata AKU itu adalah benar-benar menunjuk pada dirimu? Apakah yang kamu bilang sebagai dirimu itu wujud real, wujud nyatai Sang Aku, atau wujud ilusi, wujud jejadian, wujud rekaan, wujud diri akuaku? Bagaimana kamu tahu bahwa wujud dirimu itu real atau ilusi, palsu,?
Kawanku tercinta. Sesungguhnya dirimu tidak ada. Dirimu hanyalah bayangan dari yang mengadakanmu. Dirimu hanyalah citra yang mengadakanmu. Dirimu adalah perpanjangan tangan Dia yang mengadakanmu. Dirimu hanyalah cerminan dari Dia yang mengadakanmu. Dia yang mengadakanmu itulah realitas yang sebenarnya, yang nyata. Sedang dirimu adalah bayangan-Nya. Bayangan hanya menunjuk pada realitasnya. Dirimu adalah cerminan pantulan-Nya saja. Cerminan hanyalah sosok tak nyata berfungsi untuk memperlihatkan sosok realnya. Dirimu tidak ada. Ketika dirimu bilang “Aku”, itu hanya berfungsi sebagai tanda panah menunjuk pada realitas Sang Aku sesungguhnya Yang Nyata. Yaitu, Yang Maha Benar, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang. Ketika kamu bersikap benar, mencintai, mengasihi, dan menyayangi, maka itulah dirimu yang sebenarnya karena di saat itu dirimu sedang berfungsi sebagai bayangan-Nya, sebagai cerminan-Nya, sebagai tanda panah yang sedang menunjuk pada kebenaran-Nya.
Dirimu yang sebenarnya adalah kebenaran, keadilan, keluhuran, kebijaksanaan, keindahan, cinta dan kasih sayang. Dirimu yang sebenarnya adalah kehadiran-Nya, citra diri-Nya, tanda yang menunjuk pada-Nya, cerminan-Nya, utusan-Nya, jejak-Nya, proyeksiNya, gambaranNya, suaraNya, perpanjangan tangan-Nya, dan kata Sukarno dirimu yg sebenarnya adalah perkakas-Nya. Dirimu yang sebenarnya adalah yang memproyeksikan sifat-sifat ketuhanan dan kemanusiaan. Jika tidak begitu pasti itu bukanlah dirimu. Mengapa? Karena jika tidak begitu, sesungguhnya dirimu sedang berilusi. Sedang berfantasi. Sedang berhalusinasi. Sedang berlari menjauh dari-Nya. Sedang mencari pengakuan bahwa kamu mandiri. Bahwa kamu bukanlah berasal dari-Nya. Bahwa kamu tidak punya hubungan apapun dengan-Nya. Bahwa kamu sedang mengklaim dan mengaku-aku dapat hidup tanpa-Nya. Tanpa bimbingan-Nya. Tanpa topangan dari-Nya. Tanpa kekuatan-Nya. Diri yang menyalahi kebenaran adalah diri ilutif. Diri kepentingan. Diri jejadian. Diri “aku-aku”. Diri “aku duluan”. Diri “aku duluan” adalah diri reptil.
Diri reptil adalah diri yang berorientasi pada kepentingannya sendiri. Kepentingan kaum reptil berputar-putar di sekitar makan, minum, sex, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dirinya saja. Demi orientasi pemenuhan dan keberlangsungan hidup biologisnya itu para reptil bergerak cepat tanpa pikiran, saat haus instingnya bekerja cepat langsung cari minum, saat lapar langsung cari makan, saat libido naik langsung cari cabe-cabean. Reptil tidak berpikir tentang pengabdian, belas-kasihan, perjuangan dan pengorbanan demi nilai-nilai luhur. Hukum reptil adalah hukum the survival of the fittest. Yang kuat yang menang. Yang menang yang berkuasa. Oleh karena sifat mencari keamanan, keselamatan dan kenyamanan inilah kaum reptil cenderung protektif dan reaktif. Demi makanan yang telah disimpannya untuk tujuh keturunannya, kaum repril akan melakukan proteksi dengan cara dan jalur apa saja, jalur intrik, jalur hukum, jalur preman dan sebagainya. Kaum reptil bersumbu pendek. Tujuannya jangka pendek. Makan, minum, sex dan tidur nyenyak. Manusia Indonesia dengan dasar kebangsaan Pancasila idealnya adalah kumpulan atau himpunan diri-diri real, diri berketuhanan, dan berkemanusiaan. Diri-diri real adalah diri kaum pecinta. Mereka visioneer. Mereka memandang jauh ke depan. Mereka kaum merdeka. Pejuang sejati.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s