Kategorisasi

Kategorisasi
13000158_1154733064545780_7174307310020058037_n
Satu ketika kepada Eza ada yang bertanya begini,
“Menurut bung Eza manusia itu sebenarnya pembagian kualitasnya bagaimana..?”. “Tergantung”. Kataku.
“Tergantung bagaimana.?” Tanyanya mendesak.
“Ya tergantung pakai kacamata apa memandang manusianya. Kan setiap orang melihat dengan dunianya masing-masing.” Kataku.
Misalnya , dunia kesehatan membagi manusia jadi dua, orang sehat dan orang sakit. Dunia pendidikan membagi orang jadi dua, orang bodoh dan oranh pintar. Dunia sosial membagi orang jadi dua, orang sukses dan orang gagal. Dunia materi membagi orang jadi dua orang kaya dan orang miskin. Dunia kejiwaan membagi orang jadi dua, orang bahagia dan orang menderita. Dunia militer membagi orang jadi dua, orang kuat dan orang lemah. Dunia relijius membagi orang jadi dua, orang saleh dan orang jahat. Dunia seni membagi manusia jadi dua, manusia berbakat dan tidak berbakat, dan dunia politik membagi orang jadi dua manusia pemimpin dan manusia yang dipimpin. Kalo bung Eza sendiri secara pribadi cenderung dengan cara pandang dunia yang mana..? ” Bagiku, cara pembagian seperti itu tak satupun yang menarik . Tidak ilmiah, tidak alamiah , terlalu banyak, dan tidak memberi solusi. Karena tidak menyentuh inti persoalan manusia.” Jawabku.
Bagi Eza pembagian yang benar ya yang dapat melihat berbagai persoalan dan berbagai pandangan.
“Rumusannya gimana?” Katanya lagi.
Secara nyata dan ilmiah, apapun agama, suku, kebangsaan, status sosial ekonomi, jabatan, pekerjaan, dan pendidikannya, manusia terbagi menjadi tiga bagian. Dan kamu pasti ada di salah satunya. Kamu tidak akan keluar dari salah satunya. Apa itu ketiga katagori yang dimaksud bung Eza?? Ya, manusia hanya ada pada satu dari tiga kemungkinan dirinya : manusia terjajah, manusia bebas, dan manusia merdeka.
Pertama, manusia terjajah. Manusia jenis ini adalah manusia yang paling banyak mendiami bumi. Mereka orang-orang lemah kepribadian, dangkal pikiran, pendek akal, tak punya pendirian,terombang-ambing, tidak punya keteguhan dan ikut-ikutan. Mereka minta persetujuan pihak lain untuk menentukan apakah melangkah ke kiri atau ke kanan, ke Timur atau ke Barat. Mereka disebut terjajah karena terbawa arus dan terkondisikan oleh pihak lain. Ke sana oke ke sini oke. Mereka tidak dapat menentukan nasibnya sendiri. Nasibnya ditentukan dan dipilihkan oleh pihak lain. Bahasa hariannya, adalah “habis mau apa.. “, “yah, memang sudah nasib.. ” “Kita gak mungkin bisaaa.. ” “terima ajalaaahh.. “. Dsb. Jika hidupmu hanya ikut-ikutan, mau didikte, mau dikendalikan, mau diarahkan, mau dijajah dan mau ditentukan nasib dirimu oleh pihak lain maka saat itu dirimu masuk dalam katagori pertama. Saat itu dirimu masuk dalam katagori terjajah, meskipun jabatanmu presiden, menteri, meskipun kamu dosen atau mahasiswa, meskipun kamu atlet berbadan kokoh. Mental terjajah dapat menjangkiti semua ras, semua kalangan, dan semua status sosial ekonomi.
Kedua, manusia bebas. Jenis manusia yang ini hidupnya tidak mau dikendalikan pihak lain. Tidak mau diatur. Tidak mau dibimbing. Tidak mau dikelola. Dia BEBAS. Dia hanya mau mengendalikan dirinya sendiri. Suka-suka sendiri. Semau-maunya sendiri. Pihak manapun, bahkan agama dan Tuhan sekalipun, tidak boleh masuk ke dalam wilayah kebebasannya. Freedom. Absolutely free. Dalam dunia politik dia machievalist, dalam dunia ekonomi dia kapitalist, dalam dunia sosial dia memanifestasi dalam pola hidup suka-suka. Bahasa hariannya adalah, “..,mang gue pikirinnn.. ” “…masa bodokkk.. ” “…suka-suka gue, apa urusan lohh… “. “…urus aja urusan loh sendiri… “dst. Jenis kedua ini, memang nampak seperti tidak dikendalikan, dan dijajah pihak lain, tapi sesungguhnya dia sedang dijajah, dipaksa, diperkosa, diintimidasi, dibelenggu oleh naluri reptilnya, oleh watak insting hewannya. Dia sedang menjadi korban kebuasan dan keganasan libido syahwat kehewanan yang bercokol di dalam dirinya. Jika dalam hidupmu, apakah dalam politik, sosial, ekonomi, seni, agama, dan apapun peran dan fungsi sosialmu, jika kamu lakukan suka-suka, semau-mau, tanpa aturan, maka kamu masuk dalam katagori ini.
Ketiga, ialah manusia merdeka. Manusia ini tidak pernah mengkhianati kecemerlangan akalnya. Mereka tidak membiarkan dirinya diolah oleh pihak lain, tidak membiarkan dirinya dijajah dan dikendalikan pihak manapun. Mereka tidak menari dari tabuhan musik pihak lain. Mereka bahkan tidak dijajah dan diperkosa oleh kecenderungan diri hewannya, diri ilusinya, diri libidonya. Mereka tegar bersama kecemerlangan nuraninya, ketajaman akalnya, keagungan rasionalnya, kelembutan emosionalnya dan tanggungjawab aktualitasnya. Mereka hanya berpihak dan berpijak pada nilai-nilai luhur ketuhanan, kemanusiaan, hikmat kebijaksanaan, keadilan, keindahan, cinta dan kasih sayang. Jika mereka melihat kebenaran ada di bintang suraya mereka terbang dengan sayap sayap buraq pengetahuannya untuk menggapainya. Makanan mereka adalah hikmat, kebijaksanaan, pengetahuan, kejujuran, kehormatan, dan keluhuran. Gandi, Sukarno, Hatta, bunda Teresa, HOS Cokroaminoto masuk dalam katagori ini. Surga lebih merindukan mereka daripada mereka merindukan surga. Dengan memilih dan mengulang-ulang kata MERDEKA, para pendiri negara Pancasila ini menginginkan agar kalian jadi bangsa berjiwa merdeka, bukan bangsa berjiwa bebas yang terjajah oleh bangsa bangsa tak berketuhanan dan tak berkemanusiaan.
12961631_1154733067879113_2891986158766054057_n
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s