Rahasia Kehebatan Sukarno

Rahasia Kehebatan Sukarno

Fajar Sidiq

Oleh: Eza Azerila

PhotoGrid_1460568249105[1].jpg

The Real Power is PANCASILA

 
Hidup ini simpel. So simple. Kataku tadi malam dalam satu obrolan dengan komunitas manusia Indonesia di bilangan Pondok Labu.

Hidup ini hanya agar kamu memilih di antara dua hal saja. Selebihnya hanya asesory, hanya instrumen pendukung, hanya sekunder, boleh ada boleh tidak.

Hidup ini hanya memilih untuk menjadi manusia bahagia atau menderita, merdeka atau terpenjara, gitu aja. Kataku

Semakin kamu terlepas dari berbagai penjara ilusimu semakin merdekalah kamu. Semakin merdeka dirimu semakin bahagia lah kamu. Semakin kamu bahagia semakin berkualitas hidupmu. Hidup ini cuma memilih bagaimana menjadi merdeka dan tidak memenjarakan dirimu dalam berbagai ilusi.

Persoalannya, kata teman teman bagaimana agar kita merdeka yang karenanya kita bahagia..?

Orang merdeka adalah orang yang tidak berpihak ke mana pun kecuali pada kebenaran. Kataku

Iyaaa, tauuuu, tapi gimana maksudnyaaaa…?

Ya, kamu mesti menguatkan dan menajamkan logikamu agar kamu tahu kebenaran. Kataku

Kalau kamu sudah tahu kriteria kebenaran dan kamu hanya berpihak dan berpijak padanya, maka saat itu tidak ada lagi ilusi yang dapat memenjarakanmu. Saat itu kamu adalah manusia paling merdeka di bawah kolong langit. Kataku melanjutkan

Oleh karenanya, kenalilah ciri ciri dan kriteria kriteria kebenaran maka kamu akan tahu apakah kamu bagian dari mereka yang mendukungnya yang karenanya kamu menjadi manusia merdeka, atau kamu menjadi oposannya sehingga kamu terjerat dengan ilusi ilusi yang kamu ciptakan yang karenanya kamu kehilangan kemerdekaan..

Ukurlah ketokohan atau kegiatan apapun dengan ukuran kriteria kebenaran, dan jangan kamu mengukur kebenaran dengan ketokohan seseorang.

Sukarno memang hebat tapi kehebatan bukanlah Sukarno. Sukarno memang benar tapi kebenaran bukan Sukarno. Kebenaran lah sebagai standar untuk mengukur ketokohan Sukarno. Bukan ketokohan Sukarno menjadi tolok ukur kebenaran.. Kataku

Lha kalau Sukarno saja bukan ukuran begimane tokoh tokoh yang lain? Kata mereka

Ya, kebenaran melampaui ketokohan siapapun. Kebenaran sifatnya permanen, dia tidak pernah mati dan tidak pernah kan ada perubahan. Kataku

Cwappekkk, dengerinnya. Langsung aja dah ke kriteria kebenarannyaaaaa… ,protes mereka

Pancasila itulah kebenaran. Kataku

Pancasila masuk dalam kriteria kebenaran. Berpihak padanya berpihak pada kebenaran menolaknya menolak kebenaran. Kenapa?

Karna Pancasila itu logis, rasional, dapat dipertanggungjawabkan di mahkamah akal intelektual.

Akal cemerlang mana ( yang cemerlang yaa), yang menolak ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kebijaksanaan, dan keadilan. Tidak kan ada manusia yang lebih merdeka daripada manusia yang mengukir (bukan menghapal) dirinya dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Adakah yang lebih hebat daripada manusia yang full power ketuhanan dan kemanusiaan menurut akalmu?

Berpihaklah pada Pancasila, kehebatan Sukarno karena beliau berpihak dan berpijak pada nilai-nilai Pancasila. Kehebatan Pancasila bukan karena berpihak pada Sukarno. Semakin Sukarno berjiwa Pancasila semakin hebatlah ia.

Jadi rahasia kehebatan seorang mendiang Sukarno karena beliau berpihak pada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan, saat Barat dan Timur dalam kegelapan dunia materialisme, kegelapan dunia kapitalisme, kegelapan dunia imperialisme, kegelapan dunia hedonisme, kegelapan dunia agamisme dan sebagainya.

Kehadiran Sukarno dengan keberpihakkannya pada cahaya ketuhanan YME dan cahaya kemanusiaan menjadi sosok sang fajar, saat terang datang melenyaplah kegelapan Barat dan Timur. Jika, sebagaimana Sukarno, kamu hanya berpihak pada kebenaran, pada ketuhanan, pada kemanusiaan, pada cinta, adakah manusia yang lebih merdeka darimu? Adakah saat itu manusia yang lebih bahagia darimu? Adakah manusia yang lebih membahagiakan darimu? Dan adakah manusia yang kehadirannya lebih dirindukan kehadirannya darimu?

Dulu ketika Sukarno memperkenalkan gerakan pancasila dengan jiwa pancasilanya yang menawan dunia Barat dan Timur glagapan dan gemetaran. Akhirnya mereka memberimu mainan boneka bonekaan demokrasi, dan ketika kamu asyik dengan mainanmu itu kini kamu yang klabakan kehilangan kepercayaan diri.
.
Benar kan Tantowi Jouhari, Muh Irvan, De Fatah, Abah Surya, Agus Budiarto, Reza Fahlevi, Brusman Kennedy, Thomas Al Akbar Siregar, Satriyo Aljawi, Abrahami dan lain-lain??

Betapapun, masih ada waktu agar kamu memainkan musikmu sendiri membuat yang lain menari. Daripada kamu menari streaping gak karuan megikuti broken music mereka?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s