Terimakasih atas segala dustamu, Mama..

Terimakasih atas segala dustamu, Mama..

Oleh: Eza Azerila

PhotoGrid_1460828702930[1]

 

Ma, mama tadi aku dapat cerita dari bu Guru donk. Bagus dech ma critanya. Kancil pencuri ktimun. Seruuuuu bangetz…

Oya ? Mama mau dengar donk nak..

Anak dengan smangat bercerita tentang Kancil Pencuri ketimun. Cerita yang mamanya sudah tau. Sang Mama begitu arifnya. Dia tidak mematahkan semangat belajar anaknya. Dia berlagak tidak pernah tau cerita itu. Dia “dusta”. Dia bijak.

Bayangkan jika mamanya menjawab, ” Naaakkk, mama bilang apa kemarin. Skali lagi ya mama bilang sama kamu. Mama sudah SD lebih dulu dari kamu. Mama sudah tau apa yang bakal kamu critakan..!! ” . WOWW.

Kadang orang tidak butuh kejujuranmu. Serigkali orang butuh kebijaksanaanmu. Butuh “dusta”mu yang membantu menggairahkan mereka. Memang sih mama yang kedua tadi benar. Jujur. Tp kejujurannya telah membunuh semangat belajar anaknya. Kebenarannya tadi membuat hubungan tidak mesra lagi. Yaudah, kalo mama sudah tahuu.. Bye mama.

Hidup ini tdk sekaku itu. Tidak hanya satu sudut pandang. Tidak hanya hitam putih. Tidak segitu-gitu amat kaleee

Pertikaian antar golongan, antar mazhab, antar orang tua dan anak seringkali disebabkan semua ingin menyampaikan kebenarannya. Mereka lupa bahwa waktu adalah bagian tak terpisahkan dalam penyelesaian berbagai problem dan persoalan. Mereka lupa bahwa banyak sekali cara untuk bersatu dan berhimpun.

Mereka lupa selain logika ada bahasa cinta. Logika bicara kebenaran apa adanya. Cinta bicara keutuhan. Jika sepasang kekasih menggunakan logika dalam pdkt nya maka pacaran bubaran pada hari keduanya.

Bahasa logika :

Ini hidung siapa diikk, ” . Kata si pria sambil menunjuk hidung gadisnya.

Abang gimana sih. Masak kayak gini aja ditanya. Ya pasti hidung dindalaah. Nempelnya aja di siniii bukan di situu..

Mau tanya ini mata siapa? Ini pipi siapaa? Ini rambut siapa…? Gk jadi dech. Pasti jawabannya sama. Logika. Gak mesra amat.

Bahasa Cinta :

Ini hidung siapa diikkk..? ”

Hidung abang

Ini mata siapa yg lentik..?

Mata abang doonk..

Memang adik ni siapaa

Ya adik ni abang…

Bahasa logika mencari perbedaan. Bahasa cinta mencari kesamaan. Bahasa logika kaku. Bahasa cinta lembut. Bahasa logika dualitas. Bahasa cinta monorealitas. Bahasa logika formal. Bahasa cinta unformal. Bahasa logika kamu bukan aku, aku bkn kamu. Bahasa cinta aku adalah kamu ya kamu itu aku.

Ya pertamakali kamu harus logis untuk menentukan pilihanmu tapi ketika kamu sudah temukan kamu mesti naikkan ke gigi berikutnya yaitu gunakan bahasa cinta.

Lihatlah bagaimana Tuhan bertanya pada Musa.

Wahai Musa. Apa itu yang ada di tangan kananmu..?

Musa menjawab. O ini tongkatku. Aku bertelekan denganya. Aku gunakan untuk menggembala domba-dombaku. Dan aku gunakan untuk berbagai keperluanku yang lain.

Alangkah mesranya hubungan terjalin antara Tuhan dan hambaNya. Semua serba indah. Semua berisi seolah-olah. Seolah-olah Tuhan tidak tahu apa yang di tangan Musa. Seolah- olah Tuhan perlu diajarkan tentang fungsi sebuah tongkat dari Musa. Seolah-olah Musa tidak tahu bahwa Tuhan Maha Tahu.

Bayangkan klo Musa gunakan bhs logikanya. Musa pasti menjawab :

Lha,, katanya Engkau maha tahu.. Kok nanya apa yang ada di tangan kanankuuuu..

Kamu yang akhirnya menjadi semangat belajar katakanlah pada ibumu yang bijak dan penuh bahasa cinta itu :

Ooo, terimakasih atas segala dustamu, mamaaa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s