Mengukir dan Mengukur Cinta

Mengukir dan Mengukur Cinta

Meta Thomson dan Richard A H Nainggolan

ukiran

Mengukir dan Mengukur Cinta, Oleh Eza Azerila

“Kamu adalah cinta. Apapun yang kamu cintai, itulah kamu.”  Kataku pada suatu kali.

 

“Maksudnya ?”

 

“Maksudnya, cinta itu ialah mengukir diri dengan bentuk dan rupa apa yang kamu cintai. Cinta itu ukiran hidup. Cinta itu kualitas. Cinta itu mengukir kualitas suatu yang kamu cintai untuk selanjutnya ia menjadi kualitas dirimu.”

 

“Misalnya ??”

 

“Misalnya, jika kamu mencintai Tuhan maka kamu mengukir dirimu dengan kualitas-kualitas ketuhanan. Ya, sebagaimana kualitas Tuhan yang Maha Mengasihi kamupun mengukir kualitas mengasihi, Tuhan Maha Pemurah, kamupun mengukir kualitas kemurahan hati, Tuhan Maha begini dan begitu, kamu pun mengukir kualitas-Nya yang begini dan begitu. Akhirnya kamu adalah cintamu dan cintamu adalah dirimu.”

 

Jadi, setiap orang yang mencintai sesuatu ia mengukir dirinya dengan kualitas-kualitas yang dicintai itu. Seseorang menjadi sesuatu yang dicintainya dan sesuatu yang dicintainya menjadi dirinya.

 

Orang boleh saja lisannya mengatakan bahwa dirinya mencintai Tuhan, tapi jika yang terukir dalam dirinya adalah kualitas-kualitas setan. Maka pengakuan lisannya tidak bermakna dan tidak berlaku. Yang berlaku adalah kualitas yang diukirnya itu. Dan begitu pula sebaliknya.

 

Jadi siapakah kamu ?

 

Kamu adalah apa yang kamu cintai. Apakah yang kamu cintai ?

Apapun yang kualitas-kualitasnya kamu ukir menjadi kualitasmu maka itulah dirimu.

 

Sesuatu disebut sesuatu bukan karena bentuk dan nama yang membungkusnya, tapi karena sifat dan kualitas yang diukir dan menyelimutinya. Pada akhirnya, kamu akan menjadi sesuatu yang kamu ukir. Kamu bisa menjadi apa saja. Tergantung kualitas apa yang kamu cintai dan kamu ukir.

 

Kamu bisa menjadi setan, saat kualitas kualitas setan yang kamu ukir : panas, marah-marah, memfitnah, pendengki, pembenci, penghasut, permusuhan, pemecah-belah, gemar menciptakan penderitaan, gemar mengutuk, mencari kesalahan, kepalsuan, dusta, dst.

 

Kamu bisa menjadi hewan, saat kualitas-kualitas hewan yan kamu ukir : berorientasi hidup pada seputar makan, minum, seks, hidup penuh aksi-reaksi demi keamanan, keselamatan, dan kenyamanan.

 

“Terus, maksudnya mengukur itu apa ?”

 

“Ya, setelah kamu mengukir kecintaanmu dan dirimu terukir dengan kualitas-kualitasnya, saat itu segala sesuatu di luar dirimu kamu ukur dengan diri ukiranmu itu. Enak dan tidak enak, selera dan tidak selera, asyik dan tidak asyik, suka dan tidak suka, menyenangkan atau tidak semuanya kamu ukur, kamu timbang, dan kamu nilai berdasarkan dirimu itu.”

 

“Jadi, kamu jangan heran jika selera setiap orang berbeda, kesenangannya berbeda, dunianya berbeda, pandangannya berbeda, karena ukiran dirinya berbeda. Jangan samakan Sukarno dengan Hitler. Meski sama-sama orator dan sama-sama agitator, tapi secara kualitas ukiran berbeda, Sukarno inspirator, Hitler provokator. Sukarno memerdekakan, Hitler memenjarakan. Sukarno mencerahkan, Hitler menghipnotis. Sukarno suka perdamaian dunia, Hitler gemar kehancuran dunia, dst dst.”

 

Siapakah kamu ?

Kamu adalah sesuatu yang kamu ukir. Apakah sesuatu yg kamu ukir ?

Yang kamu ukir adalah sesuatu yang kamu cintai. Apakah yang tidak kamu cintai ?

Apapun yang tidak sesuai dengan ukiran cintamu maka kamu tidak akan pernah mencintainya.
Cinta dalam bentuk, warna, pola, dan skala apapun hanya bercerita tentang dirinya.
Kamu adalah ukiran cintamu. Apa yang kamu cintai dan kamu ukir itulah dirimu.

Now, do you know who really you are…??!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s