Sintesa Cinta

Dalam ilmu logika dikenal dialektika tesa vs anti tesa melahirkan sintesa. Dan sintesa inipun menjadi tesa baru yang dihadapkan dengan anti tesa, sehingga melahirkan sintesa baru. Dan begitu seterusnya, tesa-anti tesa dan sintesa ini menyempurna.

sintesa Cinta.jpg

Dialektika adalah cara berpikir dualitas untuk menemukan unitas yang disebut sintesa. Segala dualitas akan bertemu dalam satu pernikahan yang melahirka anak yang tidak dual lagi yaitu sintesa. Logika beroperasi di alam dialektis dan dualitas. Cinta mengawinkan keduanya dan hanya beroperasi di alam sintesa. Sintesa cinta namanya.

Dalam perkembangan hidup, kita-kita terlatih untuk berlogika. Alam logika ini, sangat diperlukan agar kita dapat memilih dan memilah antara dua hal benar dan salah, menang dan kalah, baik dan buruk dst. Namun pada tingkat kedewasaan tertentu logika kita semakin berkebijaksanaan.

Saat dia berkebijaksanaan maka dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu alam cinta.

Di alam cinta tidak ada lagi dialektika. Tidak ada lagi dualitas. Tidak ada lagi baik buruk, benar salah, menang kalah. Yang ada hanya satu. Yang ada sintesa dari keduanya. Dalam logika kita cenderung untuk memilih satu pihak dari suatu masalah yang kita hadapi. Seolah kita harus memilih ini atau itu sebagai satu-satunya cara kita memperhatikan situasinya : jika sesuatu itu benar maka logikanya, kebalikannya pasti salah. Jika satu sisi menang maka sisi lainnya pasti kalah.

Namun saat logikamu sudah tunduk dalam alam cintamu, maka kamu mulai bersikap dengan pola sintesa. Sintesa cinta, istilahku. Saat itu kamu tidak lagi berpikir dualitas. Tapi kamu mengolah dialektika yang bermuara pada sintesa. Dengan takaran-takaran unsur kimiawi dari dua hal yang nampaknya berbeda itu kekuatan cintamu akan menemukan sikap harmoni, selaras dan kompromi. Kekuatan cintamu akan berupaya mencari jalan keluar yang bukan siapa salah siapa benar, siapa menang siapa kalah.

Dan ketika kekuatan cinta beropersi di dirimu maka kamu tidak ada keinginan salah satu berada di pihak yang kalah. Ketika tidak seorang pun yang harus kalah, bukankah semua keluar menjadi pemenang. Namun ketika cinta absen dari dirimu. Kamu ingin melihat satu pihak pemenang dan satu pihak sebagai pecundang, dan di saat itu yang terjadi sesungguhnya adalah tidak ada yang menang.

Sintesa cinta mencari kebenaran. Berpikir dualitas mencari alasan-alasan pembenaran. Sintesa cinta menghimpun dan mengharmonikan serta mendekatkan jarak perbedaan. Berpikir dualitas mencari-cari alasan dan membuat persoalan sepele jadi seperti kiamat. Sintesa cinta memadukan. Bersikap dualitas menceraikan.

Cinta bermuara pada sintesa menang-menang. Bersikap dualitas berakhir menang kalah. Cinta berbahasa spiritual. Dualitas adalah bahasa hukum.

Firman hukum berbunyi, gigi dibalas gigi, mata dibalas mata. Firman cinta berbunyi, jika ditampar pipi kirimu berikanlah pipi kanamu. Firman sintesa cinta berbunyi, dan balasan keburukan adalah keburukan yang setimpal dengannya, namun siapa yang memaafkan dan memperbaiki hubungan maka dia menerima efek balasan tak terhingga dari sisi Tuhan. Memaafkan adalah kekuatan. Jika kamu dalam posisi kuat membalas dan mampu namun kamu memaafkan itulah kekuatan cinta namanya. Tapi saat kamu tidak punya kekuatan membalas lalu kamu memaafkan itu ketertindasan namanya.

Apapun, tak ada yang lebih kuat daripada cinta. Karena cinta adalah kekuatan Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

When there is God there is Love
Where there is love there is life
When there is real life there is happiness

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s