Rahasia Kehebatan Sukarno, Gandhi dan Teresa

Setiap hariku semakin jatuh cinta pada Pancasila. Semakin tergila-gila. Semakin kesemsem. Semakin sakau.

Rahasia Kehebatan.jpg

 

“Ah. Pancasila biasa-biasa aja sih. Dari dulu juga gak berubah. Paling cuma lima butir sila itu. Hebat apanya..??!!”

 

Kamu kenal Sukarno ?

Gandhi ?

Madam Teresa ?

“Mereka hebat karena Pancasila” Kataku.

 

“Apalagi nih. Gandhi dimana ?  Madam Teresa dimana ?  Pancasila dimana… ?

Kalau Sukarno karena Pancasila, okelaah tapi kalau kehebatan Gandhi dan Madam Teresa karena Pancasila gimana ceritanya sih..?!!”

Satu miliar orang India, yang namanya mengemuka di dunia hanya Gandhi. Banyak keturunan Albania, yang mengguncang sejarah kemanusiaan cuma bunda Teresa. Jutaan penduduk Indonesia, yang namanya masih dikenang di dunia hanya Sukarno.

 

Kehebatan Gandhi bukan karena kebangsaan Indianya, bukan karena karir pengacaranya. Kehebatan Madam Teresa bukan karena ke-Albaniannya, bukan pula karena kebiarawatiannya. Kehebatan Sukarno bukan karena kebangsaan Indonesianya, bukan pula karena karirnya sebagai seorang insinyur.

 

Ketiga orang itu hebat, karena mengukir secara benar ke dalam dirinya nilai-nilai luhur ketuhanan, nilai-nilai mulia kemanusiaan, nilai-nilai suci persatuan, nilai-nilai agung kebijaksanaan, nilai-nilai sejati keadilan. Bukankah semua nilai itu adalah nilai-nilai Pancasila ? Lalu bukankah kehebatan mereka karena Pancasila ?

 

Jika Gandhi, dan Madam Teresa terbukti kehebatannya karena Pancasila, mengapa kamu yang punya Pancasila malah menganggap remeh warisan ideologimu itu ?

 

Kawan, Pancasila ini nilai-nilai universal yang hebat. Siapapun yang mengukir nilai-nilai itu maka dia jadi hebat.

 

Leluhurmu mewariskan nilai sedemikian luar biasa hebatnya. Dan kehebatan itu mesti terukir menjadi dirimu. Sehingga seluruh bangsa di dunia akan tercengang berdecak kagum, karena ternyata Pancasila bukan hanya melahirkan Sukarno. Tapi juga kamu-kamu yang sedang membaca artikel ini.

 

Advertisements

Dicari! Pemimpin Dunia

Dicari! Pemimpin Dunia.

dicari-pemimpin-dunia

Dunia hari ini, masih belum mencapai cita-cita idealnya. Masih terkungkung dalam ilusi tribalismenya. Masih terkotak-kotak dalam ilusi nasionalismenya. Masih terjerat dalam hayalan chauvinistiknya. Masih terpenjara dalam ideologi-ideologi sektoral parsialnya. Masih terbawa dalam gagasan saling menguasai oleh dan terhadap bangsa lain. Masih bermental zaman batu dengan kemasan teknologi.

Belum ada kemajuan. Masih menggunakan logika yang kuat yang menang. Yang kuat yang menguasai. The survival of the fittest. Sejak ribuan tahun lamanya, belum ada kemajuan berarti. Masih doyan perang, demi penguasaan dan penjajahan. Masih sangat primitif. Yang membedakan hanya alat-alat perang yang digunakan. Tetapi watak perang dan doyan membunuh demi menguasai bangsa lain masih sama. Watak barbarnya belum berubah sama sekali. Watak primitifnya masih sangat kuat.

Ciri ciri watak primitif adalah berorientasi pada penguasaan demi keberlangsungan hidup fisik biologis. Bahkan dunia hari ini dengan watak primitifnya lebih ganas. Lebih massive. Daya jangkaunya lebih jauh. Daya cakupnya lbh luas. Daya melumpuhkannya lebih efektif dan akurat.

Dunia hari ini disebut maju hanya di tingkat teknikal. Di level teknologi. Di kelas instrumental. Di skala alat-alat belaka. Wataknya tidak punya kemajuan. Kesadarannya jalan di tempat. Beda kaum primitif sekarang dengan yang dulu hanya di level instrumental equipment. Dahulu mereka naik kuda sekarang naik tank baja. Dahulu mereka pakai senjata panah beracun sekarang mereka gunakan senjata berhulu ledak nuklir. Jiwa barbariannya sama.

Dunia Barat dan Timur dengan ideologinya gagal membawa dunia pada kemajuan. Pada kedamaian. Pada kemanusiaan. Pada keadilan. Mengapa ?

Karena ideologinya berporos pada materialisme.

Dalam dunia yang sekarang ini materialisme menjadi satu-satunya ukuran kebenaran. Satu-satunya standar pembelaan diri. Meski tuhan disebut, agama diberi ruang, dan hak asasi manusia dikumandangkan, tapi semuanya hanya berfungsi sebagai alat untuk menegakkan watak materialismenya. Tuhan, kemanusiaan, dan agama masuk dalam domain alat dan instrumen penguasaan kaum materialisme.

Jiwa materialis adalah jiwanya kaum barbar dan primitif yang berjaya pada 500 juta tahun lalu. Watak mereka watak kanibal. Watak reptil. Orientasi watak reptil adalah pada pemenuhan kebutuhan biologis : watak dasarnya adalah hidup untuk makan, minum, dan berkembang biak. Tidak ada kegiatan yang lebih suci bagi kaum materialis kecuali makan, minum, dan berkembang biak. Demi orientasi makan, minum, dan berkembang biak ini, maka kaum primitif sangat possesif, sangat protektif, sangat reaktif, dan sangat defensif destruktif.

Mereka dengan berbagai cara, metode, teknik dan strategi untuk dapat menguasai sumberdaya alam untuk kelestarian hidup ras mereka. Untuk keselamatan mereka. Untuk kenyamanan mereka. Di sinilah watak penjajahan mental primitif beroperasi.

Kepemimpinan dunia yang disebut negara-negara maju sebenarnya ilusi. Mereka gagal membawa umat manusia pada cita-cita ideal kemanusiaan. Dari segi teknologi memang maju tapi dari segi watak dasar primitif, mereka masih jalan di tempat. Sampai hari ini umat manusia masih dalam pencarian model kepemimpinan ideal yang membawa mereka pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan kebijaksanaan, dan keadilan.

Kepemimpinan dunia ideal harus datang dari konsep ideologi yang ideal. Dan berita gembiranya, ideologi ideal yang akan membawa umat manusia pada kemajuan nilai hakikinya adalah ideologi yang berorientasi pada ketuhanan, kemanusiaan, kebijaksanaan, kebenaran dan keadilan. Dan ideologi itu hanya ada di nusantara ini.

Jadi darimanakah pemimpin dunia itu akan muncul ?

Dengan logika ini maka calon pemimpin dunia itu berasal dari nusantara.

Siapakah dia itu ?

Salah satu calonnya adalah kamu, dirimu.

SEMAKIN MENGUAT DIRIMU MENGUKIR NILAI NILAI PANCASILA, SEMAKIN MENGUAT PULA KAMU SEBAGAI CALON PEMIMPIN DUNIA.

.

Hanya Pancasila yang memenuhi syarat sempurna, menjadi ideologi dunia. Ideologi Pancasila begitu universal. Adakah yang lebih agung daripada isu ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan. Adakah yang dapat menyatukan umat manusia dari perbedaan suku, ras, kebangsaan, dan agama selain Pancasila.

Sedemikian hebat ideologi yang kamu warisi ini, maka kamu dijauhkan dari warisan ideologimu karena jika kamu menguat dengan ideologimu, kepemimpinan dunia kamulah yang paling pantas dan paling berhak atasnya.

Hidup, Antara Cinta dan Kepentingan

Kusembahkan tulisan ini buat dinda Radinda Amelia

cintadankepentingan
“Hidup ini hanya soal sikap menyikapi. Tidak ada yang lain.” Kataku
“Maksudnya !!?”

 

Setiap orang selama hidupnya, ia hanya berada pada soal sikap menyikapi. Saat dia berinteraksi dengan dirinya saat itu ia menyikapi dirinya. Saat dia berinteraksi dengan lingkungannya, saat itu ia menyikapi lingkungannya. Saat ia berinteraksi dengan Tuhannya, saat itu bagaimana ia menyikapi Tuhannya. Saat dia berinteraksi dengan profesi atau pekerjaannya, saat itu ia menyikai profesinya. Dan saat ia berinteraksi dengan orang-orang, dengan orangtuanya, dengan sahabatnya, dengan kekasihnya dst, di saat itu dia menyikapi orrang-orang itu.

 

“Oooo yaa…, trusss.. !??”

 

“Lalu bagaimana soal sikap menyikapi pun hanya dua saja basisnya. Apakah ia berbasis cinta atau berbasis kepentingan. Gitu saja.” Kataku.

 

“Kalau yang berbasis cinta, cirinya apa.. !??”

 

Yang berbasis cinta, cirinya permanen seumur cinta itu sendiri. Yang berbasis kepentingan cirinya temporal, sebatas kepentingan itu sendiri.

 

Misalnya interaksimu dengan Tuhanmu, jika basisnya cinta kamu akan tetap bersemangat kepada-Nya . Betapapun doa-doamu seolah tidak mendapatkan jawaban dan pengabulan. Tapi, jika basisnya kepentingan maka kamu semangat kepada Tuhanmu saat memohon dan pergi saat permohonanmu sudah diberikan. Atau lesu saat kepentinganmu tidak kunjung kamu dapatkan. Karena hubunganmu kamu ukur sebatas kepentinganmu, sebatas hasratmu, sebatas seleramu, sebatas pihakmu.

 

Misalnya lagi, interaksimu dengan orang-orang dalam pergaulan sosial, politik, bisnis, ekonomi dsb. Jika basisnya cinta pergaulanmu tetap terpelihara dengan baik, tapi jika basisnya kepentingan hubunganmu berlangsung sebatas kepentinganmu apakah tercapai atau tidak. Sehingga ada ungkapan tiada yang abadi kecuali kepentingan. Ungkapan itu terjadi bukan hanya di dunia intrik. Tapi di kehidupan sehari-hari. Seharusnya ungkapan itu berbunyi tiada yang abadi selain cinta.

 

Sederhananya, sikap cintamu berorientasi permanent, keabadian, kebahagiaan, manfaat bagi semua pihak, kesetiaan, kesabaran, ketangguhan, kepedulian, dan tanggungjawab. Karena cintamu mengandung cherist every moment, peace every moment, happy ecerymoment. Sikap cintamu bertenaga, berenerzi, berkekuatan yg berasal dari inner-power, inner-beauty, inner-dynamic. Tak ada kekuatan apapun yang dapat merusak hubungan interaktifmu dengan apa dan siapapun jika basisnya adalah cinta.

 

Hubungan persahabatan, kekeluargaan, perjuangan, keagamaan, kemasyarakatan, pergerakan, keorganisasian, perintrikan, perekonomian, perniagaan, menjadi rusak biasanya karena dibangun atas fondasi yang rapuh. Fondasi kepentingan. Bangunan tegak selama kepentingan masih menjadi harapan. Ketika kepentingan sudah tak ada lagi, maka seluruh bangunan persahabatan, perniagaan, perpolitikan, kemasyarakatan tadi yang telah dibangun bertahun-tahun, runtuh dalam sekejap mata, roboh dalam hitungan kurang dari satu detik.

Hidup hanya soal sikap-menyikapi. Sikap-menyikapi hanya soal cinta atau kepentingan. Cinta berorientasi permanen. Kepentingan berorientasi temporal. Gitu saja kawan.

Selamat berinterkasi dan menyikapi hidup kawan.

Siapapun Kamu Bukan Musuhku

Indonesiaku..

bukan-musuhku

 

Memang Pancasila hebat. Bagaimana tidak hebat fokus perhatiannya hanya pada ketuhanan dan kemanusiaan. Bangsa yang orientasinya pada program ketuhanan tidak akan pernah punya musuh. Dan bangsa itu akan sangat produktif.

 

“Saat kamu tidak punya musuh, maka hidupmu akan menjadi sangat produktif. Kamu hanya konsentrasi pada pembangunan dan peningkatan kualitas ketuhanan dan kemanusiaan. Kamu hanya sibuk membangun dan membangun hidup ,kehidupan dan penghidupan dengan kualitas ketuhanan dan kemanusiaan. Dan saat itu siapapun di hadapanmu bukanlah musuhmu.” Kataku

 

“Terlalu idealis kamu, yang realistis dong! Mana ada hidup gak punya musuh ? Orang yang gak punya musuh itu hanya orang munafik.” Kata mereka.

 

Perhatikan redaksi yang aku nyatakan “siapapun bukanlah musuh di hadapanmu”. Kataku

 

“Maksudnya?”

 

“Ya, bukan berarti gak punya musuh. Musuh harus tetap ada. Tanpa musuh hidup ini gak dinamis.” Kataku. “Betul orang yang tidak punya musuh itu munafik. Tapi jangan sampai kita salah menentukan musuh.”

 

“Jadi musuh kita siapa?”

 

“Bukan siapa tapi apa.” Kataku.

 

“Ya deh, apa ?”

 

Musuh bangsa yang oriantasinya Pancasila adalah kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, kedunguan, perpecahan. Semua elemen bangsa yang beda suku, agama, golongan, partai bukan musuh. Semua adalah saudara. Semua harus berhimpun, merakit dan merekar, mengait dan menguat bersatu padu untuk menghadapi musuh bersama. Musuh bersama kita adalah kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, ketidakadilan, perpecahan.

 

Dengan pemetaan musuh yang benar, bangsa ini tidak menghambur-hamburkan waktu, tenaga, dan enerzi memerangi yang bukan musuh. Kamu tidak sadar diciptakan musuh musuh ilusi dengan dibenturkan perbedaan perbedaan suku, ras, agama, partai dan golongan, sehingga kamu lupa terhadap musuhmu yang sebenarnya.

 

Perbedaan itu keniscayaan hidup bukan agar bersaing, tapi agar saling melengkapi. Perbedaan itu kekayaan dan keindahan. Jika kamu menjadi kaya semua kehidupan ini malah tidak berjalan. Malah tidak ada pembangunan. Tidak ada saling mengisi. Tidak ada yang jadi bos dan tidak ada perniagaan.

 

Bayangkan jika semua orang adalah dokter, atau semua adalah politisi, atau semua orang pintar, atau se,ua orang bodoh. Kehidupan ini berlangsung survive dan dinamis berkat adanya perbedaan. Perbedaan mesti disikapi agar saling mengisi dan melengkapi. Perbedaan itu aset. Perbedaan itu kekayaan. Perbedaan itu kelengkapan. Perbedaan itu dinamika. Perbedaan itu romantika. Perbedaan itu mekanika hidup. Perbedaan itu keniscayaan. Perbedaan itu kenyataan.

 

Yang diperlukan bagaimana mengorganisasikan, mengkoordinasikan, mengharmonikan perbedaan menjadi kekuatan. Perbedaan bukan menjadi alasan untuk bermusuhan. Perbedaan harus disikapi sebagai, saling ketergantungan untuk saling melengkapi segala kekurangan yang ada pada masing-masing elemen bangsa. Sinergi terjadi ketika ada perbedaan kaya miskin, bodoh pintar, pemimpin rakyat dst.

 

Bayangkan jika mobilmu adalah gas semua, atau rem semua, atau setir semua, atau lampu semua.

 

Energi bangsa ini habis percuma selama berpuluh-puluh tahun, karena keliru mendefinisikan musuh. Keliru memetakan musuhnya.

 

Bangsa ini akan maju pesat melampaui bangsa manapun jika orientasinya ketuhanan. Ketuhanannya akan mewujudkan kemanusiaan. Kemanusiaannya akan mewujudkan keadilan. Keadilannya akan menerima perbedaan.

 

Saat itu maka setiap anak bangsa akan berkata dalam satu sikap yg cerdas dan elegan :

SIAPAPUN KAMU BUKAN MUSUHKU.

 

Musuh kita yg hrs kita perangi dg segala daya upaya dan kesungguhan bersama adalah kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, kemunduran, ketidakadilan dan perpecahan.

 

‪#‎kuhadiahkan‬ tulisanku ini buat Adam Melati

Imperialisme adalah Watak

Kawan, Imperialisme ialah politik untuk menguasai , dengan paksaan, suatu wilayah demi kepentingan diri sendiri yang dijadikan sebagai imperiumnya.

imperialisme

Imperialisme, Oleh Eza Azerila

 

Imperialisme adalah watak. Watak ini terdapat pada setiap orang yang rakus, yang karena rakusnya itu ia ingin menguasai pihak lain, orang lain, suku lain, atau bangsa lain. Imperialisme tidak ada hubungannya dengan ras, dengan suku bangsa, dengan warna kulit.

 

Imperialisme hanya berhubungan dengan watak. Siapapun yang punya watak ingin menguasai menjajah dan menderitakan pihak lain, dengan pengaruh yang dimiliki, dengan kekuasaan yang ada, dengan jabatan yang tersedia, dengan organisasi yang dipimpin, maka ia adalah imperialis sejati. Meskipun kulitnya sama dengan kulitmu, bahasanya sama dengan bahasamu, agamanya sama dengan agamamu, ideologinya sama dengan ideologimu.

 

Watak itu adalah watak purba, watak reptil, watak orang yang terlambat perkembangan kedewasaan kemanusiaannya. Demi dirinya ia mau sejahtera sendiri, mau enak sendiri, mau untung sendiri, mau kenyang sendiri, mau senang sendiri. Dia tidak pernah berpikir tentang kemajuan bangsa, tentang kemanusiaan, tentang masa depan bangsa, tentang kemuliaan dirinya dan bangsa.

 

Para pengidap penyakit imperialisme ini mau mengorbankan kemuliaan dirinya demi kerakusan mereka, demi membangun kesenangan diri mereka, demi kesejahteraan mereka.

 

Kawan, penyakit inilah yang diderita oleh Inggris ketika menyerang Surabaya.

 

Kawan, memang Belanda sudah pergi, Jepang sudah pulang, Inggris sudah hengkang, tapi persoalannya apakah bangsa ini sudah benar benar terlepas dari imperialisme ?

 

Apakah makna ketika Sukarno mengatakan “Perjuanganku lebih mudah karna aku menghadapi imperialisme asing, dan perjuanganmu akan lebih sulita karna menghadapi imperialisme bangsa sendiri..”.

 

Kawan, berdoalah kepada Tuhanmu agar penyakit imperialisme tidak hinggap di dirimu.

Mengukir dan Mengukur Cinta

Mengukir dan Mengukur Cinta

Meta Thomson dan Richard A H Nainggolan

ukiran

Mengukir dan Mengukur Cinta, Oleh Eza Azerila

“Kamu adalah cinta. Apapun yang kamu cintai, itulah kamu.”  Kataku pada suatu kali.

 

“Maksudnya ?”

 

“Maksudnya, cinta itu ialah mengukir diri dengan bentuk dan rupa apa yang kamu cintai. Cinta itu ukiran hidup. Cinta itu kualitas. Cinta itu mengukir kualitas suatu yang kamu cintai untuk selanjutnya ia menjadi kualitas dirimu.”

 

“Misalnya ??”

 

“Misalnya, jika kamu mencintai Tuhan maka kamu mengukir dirimu dengan kualitas-kualitas ketuhanan. Ya, sebagaimana kualitas Tuhan yang Maha Mengasihi kamupun mengukir kualitas mengasihi, Tuhan Maha Pemurah, kamupun mengukir kualitas kemurahan hati, Tuhan Maha begini dan begitu, kamu pun mengukir kualitas-Nya yang begini dan begitu. Akhirnya kamu adalah cintamu dan cintamu adalah dirimu.”

 

Jadi, setiap orang yang mencintai sesuatu ia mengukir dirinya dengan kualitas-kualitas yang dicintai itu. Seseorang menjadi sesuatu yang dicintainya dan sesuatu yang dicintainya menjadi dirinya.

 

Orang boleh saja lisannya mengatakan bahwa dirinya mencintai Tuhan, tapi jika yang terukir dalam dirinya adalah kualitas-kualitas setan. Maka pengakuan lisannya tidak bermakna dan tidak berlaku. Yang berlaku adalah kualitas yang diukirnya itu. Dan begitu pula sebaliknya.

 

Jadi siapakah kamu ?

 

Kamu adalah apa yang kamu cintai. Apakah yang kamu cintai ?

Apapun yang kualitas-kualitasnya kamu ukir menjadi kualitasmu maka itulah dirimu.

 

Sesuatu disebut sesuatu bukan karena bentuk dan nama yang membungkusnya, tapi karena sifat dan kualitas yang diukir dan menyelimutinya. Pada akhirnya, kamu akan menjadi sesuatu yang kamu ukir. Kamu bisa menjadi apa saja. Tergantung kualitas apa yang kamu cintai dan kamu ukir.

 

Kamu bisa menjadi setan, saat kualitas kualitas setan yang kamu ukir : panas, marah-marah, memfitnah, pendengki, pembenci, penghasut, permusuhan, pemecah-belah, gemar menciptakan penderitaan, gemar mengutuk, mencari kesalahan, kepalsuan, dusta, dst.

 

Kamu bisa menjadi hewan, saat kualitas-kualitas hewan yan kamu ukir : berorientasi hidup pada seputar makan, minum, seks, hidup penuh aksi-reaksi demi keamanan, keselamatan, dan kenyamanan.

 

“Terus, maksudnya mengukur itu apa ?”

 

“Ya, setelah kamu mengukir kecintaanmu dan dirimu terukir dengan kualitas-kualitasnya, saat itu segala sesuatu di luar dirimu kamu ukur dengan diri ukiranmu itu. Enak dan tidak enak, selera dan tidak selera, asyik dan tidak asyik, suka dan tidak suka, menyenangkan atau tidak semuanya kamu ukur, kamu timbang, dan kamu nilai berdasarkan dirimu itu.”

 

“Jadi, kamu jangan heran jika selera setiap orang berbeda, kesenangannya berbeda, dunianya berbeda, pandangannya berbeda, karena ukiran dirinya berbeda. Jangan samakan Sukarno dengan Hitler. Meski sama-sama orator dan sama-sama agitator, tapi secara kualitas ukiran berbeda, Sukarno inspirator, Hitler provokator. Sukarno memerdekakan, Hitler memenjarakan. Sukarno mencerahkan, Hitler menghipnotis. Sukarno suka perdamaian dunia, Hitler gemar kehancuran dunia, dst dst.”

 

Siapakah kamu ?

Kamu adalah sesuatu yang kamu ukir. Apakah sesuatu yg kamu ukir ?

Yang kamu ukir adalah sesuatu yang kamu cintai. Apakah yang tidak kamu cintai ?

Apapun yang tidak sesuai dengan ukiran cintamu maka kamu tidak akan pernah mencintainya.
Cinta dalam bentuk, warna, pola, dan skala apapun hanya bercerita tentang dirinya.
Kamu adalah ukiran cintamu. Apa yang kamu cintai dan kamu ukir itulah dirimu.

Now, do you know who really you are…??!!

Kamu Selalu Bertemu Dengan Sesuatu Yang Kamu Pertuhankan

Oleh : Eza Azerila

tuhan-pertuhankan

Tuhan yang kamu Pertuhankan, Oleh Eza Azerila

Kawan. Setiap orang pasti menemui Tuhannya. Setiap orang hanya menemui Tuhannya masing-masing. Tuhanmu adalah apa yang menjadi pusat perhatianmu, apa yang kamu cintai, apa yang kamu gandrung habis kepadanya, apa yang kamu bela mati-matian deminya, apa yang kamu mau berkorban apa saja deminya, apa yang kamu punya ketergantungan padanya.

 

Apa pun yang kamu cintai sedemikian rupa yang membuatmu selalu mengingatnya, yang membuatmu memperjuangkannya, yang membuatmu tergila-gila padanya, yang membuatmu tidak ingin berpisah darinya, yang membuatmu menjadikannya ukuran kebenaran dan keberpihakan, itulah Tuhanmu. Itulah yang kamu Pertuhankan.

 

Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa menghendaki agar Dialah Tuhanmu itu. Dia menghendaki agar Dialah yang menjadi pusat perhatianmu, agar Dia yang menjadi ukuran kebenaran . Dia menghendaki agar hanya Dia yang dipertuhankan.

 

Kawan. Tuhanmu adalah sesuatu yang kamu pertuhankan. Kamu hanya akan bertemu kepada sesuatu yang kamu pertuhankan itu. Seseorang diberi ruang untuk memilih apakah Tuhan Yang Maha Kuasa yang dipertuhankan atau selain-Nya.

 

Jika Tuhan Yang Maha Kuasa yang kamu pertuhankan, maka kamu niscaya akan bertemu kepada-Nya. Jika sesuatu selain-Nya yang kamu pertuhankan, kamu pun dipastikan bertemu dengan Tuhanmu itu.

 

Siapa atau apakah yang kamu pertuhankan ?

Itulah Tuhanmu, itulah yang pasti akan kamu temui dan dia menemuimu. Setiap saat dan kesempatan, kamu selalu bertemu dengan yang kamu pertuhankan.

 

Kawan. Selamanya kamu takkan pernah mau berpisah dengan apa yang kamu pertuhankan. Bagaimana mungkin kamu berpisah darinya ?

Karena kamu selalu ingin bersamanya, memperhatikannya, membelanya, mempertahankannya, memperjuangkannya, memeluknya, dan menjadikannya pusat perhatianmu satu-satunya.

 

Tidakkah kamu perhatikan ada seseorang yang telah mempertuhankan dirinya sendiri ?

Mempertuhankan kepetingannya, gagasannya, idenya, hasratnya, hobinya ?

 

Adakah pula yang mempertuhankan agamanya, partainya, jabatannya, dsb..?

 

Kawan. Semakin lemah sesuatu yang kamu pertuhankan semakin lemah dirimu, semakin kuat yang kamu pertuhankan semakin kuat dirimu. Dengan begitu, mengapa kamu tidak pertuhankan saja Dia Yang Maha Adi Daya dan Maha Abadi sehingga kamu ikut menjadi adi daya dan menjadi berkeabadian ???