Pujian Eksistensial

Ada ungkapan sangat bijak. “Jangan ceritakan tentang dirimu pada siapapun. Karena mereka yang mencintaimu tidak butuh itu. Dan mereka yang membencimu takkan mempercayai itu “.

So wise!

Sebenarnya yang dimaksudkan adalah jangan ceritakan dirimu secara lisan tentang kehebatan dirimu. Adapun secara realitas, segenap eksistensimu adalah cerita dirimu. Seluruh keberadaan lahir-batinmu adalah cerita terbuka tentang dirimu. Meski kamu tidak mengatakannya secara lisan, meski kamu tidak menceritakannya secara ungkapan dan tulisan.

cerita-hidup

Saat kamu murung, dirimu sedang menceritakan penderitaannya. Saat kamu tersenyum, dirimu sedang menceritakan kebahagiaannya. Duduk dan berdirimu, diam dan gerakmu, tawa dan tangismu sedang menceritakan kepada alam siapakah dirimu. Apakah dirimu sebuah cerita horor, cerita fiksi atau cerita nonfiksi. Semua kehidupaan dapat membaca dan merekamnya.

Dalam cerita itu kamu adalah sutradara dan kamu pula aktor pelakunya. Ilustrasinya begini.

Setelah ujian kenaikan kelas, diumumkan bahwa anakmu juara satu. Karena biasanya mamanya yang hadir menemani ambil rapot, sang mama langsung mengatakan kepada anaknya, “Wahh. Hebat kamu nak. Nggak percuma jadi anak mama.. Sukses selalu ya nak..!? “.

Itu sebentuk pujian. Pujian itu bersifat lisan. Bersifat verbal.

Mendengar laporan dari mamanya bahwa anakmu juara satu, kamu bergegas ke toko HP. Sesampai di rumah kamu langsung memeluk, menciumi dan berkata padanya, “Ini papa belikan HP tercanggih atas kecanggihan prestasimu “.

Kamu juga memuji tapi dalam bentuk yang lebih nyata, yaitu HP. Pujianmu pujian aktual. Lebih kuat dari pada pujian verbal, dari pada pujian kata-kata.

Pertanyaannya, dapatkah lahir pujian verbal yang dari mamanya itu dan pujian aktual yang dari papanya itu. Jika tidak ada prestasi gemilang sang anak ?

Tentu tidak.

Ketika sang anak mendengar pujian lisan dari mamanya dan pujian aktual dari papanya, seolah sang anak sedang berkata, “Karena aku hebat, maka mama dan papa bilang hebat. Akulah kehebatan yang nyata. Kehebatan yang tidak berupa cerita verbal atau ungkapan. Akulah kehebatan itu sendiri. Akulah pujian itu sendiri.”

Eksistensi si anak sedang menceritakan kehebatan dirinya dalam bentuk nyata. Bukan dalam bentuk cerita-cerita lisan. Bukan pengakuan-pengakuan. Dia bukan sedang cerita tentang kehebatan, namun dialah kehebatan itu sediri. Dialah kehebatan yang nyata. Dialah kehebatan yang bukan kata-kata.

Semua konsep-konsep kebaikan, kebenaran, keadilan, kebijaksanaan, keindahan, cinta dan kasih sayang, awalnya berupa huruf-huruf yang terangkai menjadi kata. Saat semuanya terukir nyata, maka bagaikan Gandhi.

Semua itu sedemikian terukir nyata, sehingga dialah kebaikan itu, dialah keadilan itu, dialah kebijaksanaan itu, dialah cinta itu dan dialah kemurahan itu.

Pujian bertingkat tingkat, verbal agar menjadi aktual. Aktualisasi agar menjadi eksistensial. Pujian verbal berupa penilaian dari luar, bisa benar bisa saja tidak sesuai dengan realitasnya. Tapi pujian eksistensial adalah kehebatan yang terukir di dalam diri menjadi begitu nyata.

Realitas dirimu sedang bercerita dan cerita dirimu ada yang sudi membacanya, ada pula yang tidak sudi. Betapapun, meski mulutmu diam seribu bahasa, dirimu sedang tiada henti-hentinya bercerita. Apakah cerita dirimu menghibur dan menginspirasi atau berupa cerita horor yang menakutkan, kamulah yang menulisnya dalam lembaran-lembaran kisah yang paling nyata.

Siapa dan Apa ?

Hidup ini adalah aktifitas jual beli dalam artian yang sangat luas. Bukan dalam artian bisnis, perdagangan atau perniagaan. Bukan itu. Tuhan pun konon, sedang melakukan aktifitas jual-beli. Dalam kegiatan jual-beli ini, ada “barang” sebagai produk yang di “jual”. Apapun yang ingin kamu sampaikan pada pihak lain agar diterima olehnya, itu disebut sebagai produk. Jika kamu ingin menyampaikan soal keyakinan, maka agama dan ketuhanan adalah produkmu. Jika barang-barang tertentu yang ingin kamu tawarkan, maka barang itulah produkmu.

cintadankepentingan

Ada dua tipe orang dalam peristiwa yang disebut sebagai proses jual beli ini. Satu orang yang menjual produknya, berorientasi pada siapa. Sedangkan yang satu berorientasi pada “apa”. Mereka yang hebat dalam penjualan, selalu berorientasi pada kesiapaan dirinya. Bukan keapaan produk yang dijualnya. Baik itu dalam hal jual-beli di bidang politik, sosial, perdagangan, pendidikan bahkan keagamaan. Sebaik apapun produk yang kamu jual, namun jika nilai baik produk itu tidak teraksentuasi dari dalam dirimu. Maka produk itu takkan ada nilainya. Gandhi dan Teresa tidak menjual barang yang merknya “kasih sayang”. Mereka tidak menjual apa itu kasih sayang, tapi mereka memperkenalkan wujud kasih sayang berupa diri mereka. Mereka tidak menjual “apa” tapi mereka memproyeksikan “siapa” mereka.

Sukarno tidak menjual tentang apa itu keberanian, apa itu kesantunan politik, apa itu persatuan. Tapi dia tampil sebagai sosok siapa dirinya, dia lebih memproyeksikan dirinya yang berani, dirinya yang santun, dirinya yang selalu membangun sebab-sebab persatuan.

Sebenarnya kamu tidak perlu meyakin-yakinkan siapapun tentang Tuhanmu, proyeksikan saja ketuhanan dalam dirimu dan kamu tidak perlu berbusa-busa mulutmu meyakinkan bahwa kamu akan membangun bangsa dan negeri ini. Jika kamu terpilih, lakukan saja oleh dirimu dan nantipun orang-orang tahu siapa sejatinya dirimu. Orang-orang membutuhkan dirimu bukan janji-janjimu. Orang-orang butuhkan persatuanmu, bukan cerita-cerita persatuan. Orang-orang butuh keadilanmu, bukan cerita-cerita tentang keadilanmu. Orang-orang butuh kesiapaanmu, bukan apa-apa yang kamu ceritakan.

Orang-orang ingin melihat kehebatan Tuhan dan kedahsyatan kasih saying-Nya dari dalam dirimu, bukan dari cerita-cerita kosongmu yang tak terbukti. Orang-orang ingin menyaksikan kebenaran agamamu berupa sikap benarmu, pikiran benarmu, tindakan benarmu, kebiasaan benarmu. Bukan cerita-cerita tentang apa itu kebenaran yang tak terlihat sedikitpun terpancar dari dalam dirimu.

Orang-orang hebat, fokus dan sibuk membentuk kualitas kesiapaan diri mereka daripada keapaan sesuatu yang diperkenalkannya pada siapapun. Dengan kualitas-kualitas itu, mereka menjalani hidup lebih survive, lebih tangguh, lebih wise, lebih santun, lebih jujur, lebih ke dalam diri daripada ke luar. Mereka tidak sibuk tentang apa, tapi lebih sibuk dan menghabiskan waktu bagi diri, bagaimana segala nilai-nilai luhur itu terukir untuk menjadi “siapa” mereka.

Mereka berjumlah sedikit karena mereka mutiara, karena mereka intan berlian, dan di antara yang sedikit itu adalah kamu. Ya, kamu sahabat terdekatku.

 

Three Questions

Ada tiga pertanyaan penting yang jawabannya mengarahkan pada kesadaran.

Pertama, siapakah manusia yang paling berharga ?

Kedua, apakah tindakan yang paling bernilai ?

Ketiga, kapankah melakukan tindakan yang paling
tepat ?

three-questions

Atas pertanyaan yang pertama : Manusia yang paling berharga adalah yang paling dekat dengan dirimu. Dan manusia yang paling dekat denganmu adalah dirimu sendiri.

Atas pertanyaan kedua : Tindakan yang paling bernilai adalah memberi pelayanan terbaik kepada manusia yang terdekat dengan dirimu. Melakukan perhatian sempurna kepada dirimu sendiri. Manusia yang terdekat dengan dirimu itu, yaitu dirimu itu. Paling berhak menerima pelayanan terbaik olehmu sebelum kamu melakukannya pada siapapun. Jika kamu ingin memberi cinta, berilah cinta itu padanya. Jika kamu ingin membagi kebahagiaan, berikanlah kebahagiaan itu padanya sebelum yang lain. Jika kamu ingin melakukan pendidikan, lakukanlah seoptimal mungkin kepadanya sebelum kepada yang lain.

Sedemikian berharga dan tak ternilainya manusia yang terdekat denganmu itu, sehingga dia paling berhak atas seluruh kebaikan yang kamu ingin berikan. Dia lebih berhak atas cintamu, sebelum kamu berikan kepada yang lain.

Ketika dia lapar, maka kamu tidak boleh membiarkannya kelaparan. Dia lapar spiritual, lapar intelektual, lapar kebahagiaan, lapar pengetahuan, lapar kasih sayang. Sudahkah kamu penuhi rasa laparnya itu..?

Apakah kamu begitu tega memberikan waktumu pada yang jauh, sementara manusia yang paling dekat dengan dirimu kamu abaikan begitu saja, tidak kamu dengarkan dia meminta, mengemis dan menjerit ?

Ada apa denganmu, sehingga kamu tidak mendengar keluh kesahnya. Meminta gizi yang paling disukainya ?

Berupa gizi spiritual, gizi intelektual, gizi ilmu, gizi hikmat, dan gizi kebijaksanaan ?

Ada apa denganmu, sehingga kamu begitu sibuk melakukan ini dan itu kepada yang jauh, sementara manusia yang paling dekat dan paling berharga bagimu kamu lupakan dan kamu abaikan ?

Tidak ada tindakan yang lebih bernilai dan lebih bermakna daripada memenuhi tanggungjawabmu terhadapnya. Terhadap dirimu sendiri…

Kata Leo Tolstoy, seorang sastrawan Rusia yang tulisan tulisannya memengaruhi Gandhi , “Semua orang berfikir untuk mengubah dunia, tetapi tak seorangpun berfikir untuk mengubah diri sendiri.”.

 

Atas pertanyaan yang ketiga : Kapankah waktu yang paling tepat untuk melayani segala kebutuhan manusia yang paling dekat dan paling berharga itu ?

Waktu yang paling tepat adalah SEKARANG. Jangan menunggu sampai dia mati kelaparan.

Ku hadiahkan tulisan ini kepada manusia yang terdekat dengan diriku Eza Azerila, Ilham Ghanya Ilham, Jimy Jangkrick, Sapta Furniture, Bundanya Fadel, Tri Saleh Mokodongan, Mohammad Sodikin, Edwin Walakandou,Eve Hutagalung, James Gulo, Esi Teja, Thomas Al Akbar Siregar, Wins Tri,Meta Thomson, Tody Xavier Agiar Branco, Juen Black, Amirah LayLa, Irfan Pelizzolli, Ridhwan Kulaniy, Adhit Sabarno, Radinda Amelia, Asriana Kibtiyah, Tantowi Jouhari, Nikmat Tanjung, Husin Siregar, Eliza M Permatasari, Ritawaty Florentina, Putri Aurellel Camila, Jimy Jangkrick,De Fatah, Satriyo Aljawi, Brusman Kennedy, dll

Sintesa Cinta

Dalam ilmu logika dikenal dialektika tesa vs anti tesa melahirkan sintesa. Dan sintesa inipun menjadi tesa baru yang dihadapkan dengan anti tesa, sehingga melahirkan sintesa baru. Dan begitu seterusnya, tesa-anti tesa dan sintesa ini menyempurna.

sintesa Cinta.jpg

Dialektika adalah cara berpikir dualitas untuk menemukan unitas yang disebut sintesa. Segala dualitas akan bertemu dalam satu pernikahan yang melahirka anak yang tidak dual lagi yaitu sintesa. Logika beroperasi di alam dialektis dan dualitas. Cinta mengawinkan keduanya dan hanya beroperasi di alam sintesa. Sintesa cinta namanya.

Dalam perkembangan hidup, kita-kita terlatih untuk berlogika. Alam logika ini, sangat diperlukan agar kita dapat memilih dan memilah antara dua hal benar dan salah, menang dan kalah, baik dan buruk dst. Namun pada tingkat kedewasaan tertentu logika kita semakin berkebijaksanaan.

Saat dia berkebijaksanaan maka dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu alam cinta.

Di alam cinta tidak ada lagi dialektika. Tidak ada lagi dualitas. Tidak ada lagi baik buruk, benar salah, menang kalah. Yang ada hanya satu. Yang ada sintesa dari keduanya. Dalam logika kita cenderung untuk memilih satu pihak dari suatu masalah yang kita hadapi. Seolah kita harus memilih ini atau itu sebagai satu-satunya cara kita memperhatikan situasinya : jika sesuatu itu benar maka logikanya, kebalikannya pasti salah. Jika satu sisi menang maka sisi lainnya pasti kalah.

Namun saat logikamu sudah tunduk dalam alam cintamu, maka kamu mulai bersikap dengan pola sintesa. Sintesa cinta, istilahku. Saat itu kamu tidak lagi berpikir dualitas. Tapi kamu mengolah dialektika yang bermuara pada sintesa. Dengan takaran-takaran unsur kimiawi dari dua hal yang nampaknya berbeda itu kekuatan cintamu akan menemukan sikap harmoni, selaras dan kompromi. Kekuatan cintamu akan berupaya mencari jalan keluar yang bukan siapa salah siapa benar, siapa menang siapa kalah.

Dan ketika kekuatan cinta beropersi di dirimu maka kamu tidak ada keinginan salah satu berada di pihak yang kalah. Ketika tidak seorang pun yang harus kalah, bukankah semua keluar menjadi pemenang. Namun ketika cinta absen dari dirimu. Kamu ingin melihat satu pihak pemenang dan satu pihak sebagai pecundang, dan di saat itu yang terjadi sesungguhnya adalah tidak ada yang menang.

Sintesa cinta mencari kebenaran. Berpikir dualitas mencari alasan-alasan pembenaran. Sintesa cinta menghimpun dan mengharmonikan serta mendekatkan jarak perbedaan. Berpikir dualitas mencari-cari alasan dan membuat persoalan sepele jadi seperti kiamat. Sintesa cinta memadukan. Bersikap dualitas menceraikan.

Cinta bermuara pada sintesa menang-menang. Bersikap dualitas berakhir menang kalah. Cinta berbahasa spiritual. Dualitas adalah bahasa hukum.

Firman hukum berbunyi, gigi dibalas gigi, mata dibalas mata. Firman cinta berbunyi, jika ditampar pipi kirimu berikanlah pipi kanamu. Firman sintesa cinta berbunyi, dan balasan keburukan adalah keburukan yang setimpal dengannya, namun siapa yang memaafkan dan memperbaiki hubungan maka dia menerima efek balasan tak terhingga dari sisi Tuhan. Memaafkan adalah kekuatan. Jika kamu dalam posisi kuat membalas dan mampu namun kamu memaafkan itulah kekuatan cinta namanya. Tapi saat kamu tidak punya kekuatan membalas lalu kamu memaafkan itu ketertindasan namanya.

Apapun, tak ada yang lebih kuat daripada cinta. Karena cinta adalah kekuatan Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

When there is God there is Love
Where there is love there is life
When there is real life there is happiness

Urus KTP

Entah jatuh dimana KTP sebagai kartu tanda pengenal identitasku hilang. Aku mesti mengurus surat bukti kehilangan ke polisi. Lalu ke kelurahan. Aku harus mengurusnya segera karena minggu ini aku akan ke Bali untuk acara pelatihan. Yang aku dengar tentang birokrasi di negri ini selalu agak malesin. Malesin dia mah. Amit-amit berurusan sama birokrasi, sama polisi, sama kelurahan. Kalau bisa dipersulit buat apa dipermudah ?  Dan seterusnya dan seterusnya.

cerminan diri.jpg

 

Aku sedang belajar memerdekakan diriku dari segala informasi negatif. Aku tidak mau menerima begitu saja omongan-omongan yang datang menghampiri telingaku, tentang apa saja. Urusan ini dan itu di luar sana, konon tidak baik itu bukan urusanku. Urusanku yang paling dekat denganku adalah diriku sendiri.

 

Sebaik apapun di luar diriku, jika dalam diriku bermasalah maka semua nampak tidak baik. Karena aku mengukur segalanya dengan ukuran selera diriku. Seburuk apapun kondisi di luar diriku tidak akan memengaruhi kebahagiaanku. Karena kebahagiaan hanya bercerita dan memanifestasi tentang dirinya sendiri.

 

Aku berprasangka baik. Semua baik. Polisi baik. Petugas kelurahan baik. Proses birokrasi baik. Dan semua berjalan baik. Di kantor polisi ternyata mereka luar biasa baik. Penuh senyum. Melayani dengan cepat. Dan dalam waktu 10 menit aku menerima surat bukti kehilangan.

 

Surat tersebut aku bawa ke kelurahan. Ternyata antre. Pas giliranku. Petugas menanyakan persoalanku. Aku berikan surat dari kepolisian. Dia baca surat tersebut. “Oh tunggu ya pak sebentar kami print out KTP yang baru. Mungkin 15 menit prosesnya. Bapak tunggu di luar. Silahkan..?” Kata petugas kelurahan begitu ramahnya.

 

Betul. Belum 15 menit aku dipanggil dan menerima KTP baru. Aku ucapkan terimakasih dan terimakasih.

 

Kawan, ternyata segala yang di luar diri kita hanyalah bayangan kita. Baik buruk apa yang di luar kita, kitalah yang menciptakannya bermula dari pikiran, kita lalu turun menjadi tindakan kemudian menjadi sikap. Dan sikap mu akan menjadi cermin bagi alam lingkungan dan orang-orang yang berinteraksi denganmu.

 

Daripada kamu berilusi tentang dunia luar yang akan mereaksimu begini dan begitu, mengapa kamu tidak mengelola sesuatu yang real,  yang sangat dekat denganmu yaitu dirimu sendiri. Hidup ini hanya soal menyikapi saja. Kamu hanya menerima hukum sebab akibat yang kamu bangun.

 

Kalau kata orang Melayu…

 

Jika kau tak pandai manari, jangan bumi dibilang baguncang.

Akhirnya, satu jam yang lalu aku sudah mengantongi KTP baru. Ternyata pula bukan soal KTP isunya, tapi bagaimana belajar hidup berpancasila dimulai dari diri sendiri.

 

Dobrak , Bongkar Kebiasaan Lama

“Dobrak , Bongkar Kebiasaan Lama”
Kata Iwan Fals

Apa yang mesti didobrak bung Iwan ?

bongkar.jpg

 

Aku coba menjawab sendiri. Ya, kamu ternyata sadar tidak sadar sedang terpenjara dalam kotak-kotak sempit yang disebut ISME. Materialisme, spiritualisme, kapitalisme, sosialisme, individualisme, nasionalisme, demokratisme, hedonisme, feodalisme, imperialisme, pluralisme, idealisme, rasisme, skripturalisme, intelektualisme, rasionalisme, emosionalisme dan humanisme.

 

Kamu dimasukkan ke dalam kotak isme. Mulailah tanpa kritikal kamu menyuarakan idealisme itu, rasionalisme itu, nasionalisme itu dan segala isme itu. Kamu masuk dalam kotak.

 

Kamu pun kehilangan kemerdekaan dirimu. Kamu mulai membela tuhan ilusimu itu. Nasionalisme mendoktrinkan bahwa right or wrong is my own country. Kapitalisme mendoktrinkanmu time is money. Demokratisme mendogmamu suara rakyat suara Tuhan. Feodalisme mengajarkanmu the survival of the fittest. Rasionalisme mu mengajarkanmu keyakinan ilmu adalah yang empirik jika tidak empirik bukanlah ilmu, dst.

 

Kawan, you are beyond what you think about your own self. You are beyond everything. Kamu tak terbatas. Tak ada yang dapat membatasi wujud dirimu yang sebenarnya. Ketika kamu menerima kebanggaan isme-isme itu, kamu telah disematkan dengan kebanggaan ilusi. Mulailah saat itu kamu mengukur segala sesuatu dengan keterbatasan ismemu.

 

“Ternyata kamu anti nasionalisme ya !!!?”

 

Nasionality yes. Nasionalism no.Individuality yes, individualsm no. Spirituality yes, spiritualism no. Material yes, materialism no. Idealty yes idealism no. Rational yes rationalism no. Humanity yes humanism no.

 

Dobrak!!! Karena isme-isme itu telah memenjarakanmu. Isme-isme itu adalah kebiasaan lama, yang kamu telan begitu saja.

 

Aku semakin jatuh cinta pada Pancasila. Sila pertamanya adalah ketuhanan dan sila keduanya adalah kemanusiaan. Di hadapan gagasan ketuhanan dan kemanusiaan nasionality yes, nationalsm no. Kebangsaan hanyalah bersifat wawasan ekologis, geografis dan demografis. Keindonesiaanmu tidak membuatmu dapat berbuat semau-mau tanpa nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Dengan Pancasilamu, kamu tidak menganut dogma nasionalisme “right or wrong is my country”.

 

Kebanggaanmu hanya sebatas kebangsaan atau nationality. Bukan nasionalisme.

 

“Tapi kita sudah terlanjur terbiasa mengatakan nasionalisme… !??”

Ya, namanya juga lagi tidak sadar. Mau dibilang apa ?  Makanya kata bung Iwan Fals :

 

DOBRAK KEBIASAAN LAMA!!!

 

Merdeka!!! Mari bung, rebut kembali. Rebut kembali kebanggaanmu sebagai manusia terbaik dengan nilai-nilai yang membuatmu merdeka, rebut kembali nilai-nilai luhur nenek moyangmu yang luar biasa, berpegang pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebijaksanaan, keadilan yang tak terbatas teritorial Barat maupun Timur.

Dobrak !!!

 

Saat kamu dapat mendobrak dan membongkar ruang-ruang sempit isme-isme yang memenjarakanmu, maka saat itu realitasmu adalah keseluruhan individual juga sosial, spiritual juga material, nasional juga internasional, ketuhanan juga kemanusiaan, kapital juga komunal, parsial juga universal. Dan saat itu tak ada gagasan yang lebih murni darimu.
Dobrak dan bongkar !!!

(sambil tersenyum maniez).

 

Kalau bung Denny Siregar mendobraknya sambil ngopi.

Rahasia Kehebatan Sukarno, Gandhi dan Teresa

Setiap hariku semakin jatuh cinta pada Pancasila. Semakin tergila-gila. Semakin kesemsem. Semakin sakau.

Rahasia Kehebatan.jpg

 

“Ah. Pancasila biasa-biasa aja sih. Dari dulu juga gak berubah. Paling cuma lima butir sila itu. Hebat apanya..??!!”

 

Kamu kenal Sukarno ?

Gandhi ?

Madam Teresa ?

“Mereka hebat karena Pancasila” Kataku.

 

“Apalagi nih. Gandhi dimana ?  Madam Teresa dimana ?  Pancasila dimana… ?

Kalau Sukarno karena Pancasila, okelaah tapi kalau kehebatan Gandhi dan Madam Teresa karena Pancasila gimana ceritanya sih..?!!”

Satu miliar orang India, yang namanya mengemuka di dunia hanya Gandhi. Banyak keturunan Albania, yang mengguncang sejarah kemanusiaan cuma bunda Teresa. Jutaan penduduk Indonesia, yang namanya masih dikenang di dunia hanya Sukarno.

 

Kehebatan Gandhi bukan karena kebangsaan Indianya, bukan karena karir pengacaranya. Kehebatan Madam Teresa bukan karena ke-Albaniannya, bukan pula karena kebiarawatiannya. Kehebatan Sukarno bukan karena kebangsaan Indonesianya, bukan pula karena karirnya sebagai seorang insinyur.

 

Ketiga orang itu hebat, karena mengukir secara benar ke dalam dirinya nilai-nilai luhur ketuhanan, nilai-nilai mulia kemanusiaan, nilai-nilai suci persatuan, nilai-nilai agung kebijaksanaan, nilai-nilai sejati keadilan. Bukankah semua nilai itu adalah nilai-nilai Pancasila ? Lalu bukankah kehebatan mereka karena Pancasila ?

 

Jika Gandhi, dan Madam Teresa terbukti kehebatannya karena Pancasila, mengapa kamu yang punya Pancasila malah menganggap remeh warisan ideologimu itu ?

 

Kawan, Pancasila ini nilai-nilai universal yang hebat. Siapapun yang mengukir nilai-nilai itu maka dia jadi hebat.

 

Leluhurmu mewariskan nilai sedemikian luar biasa hebatnya. Dan kehebatan itu mesti terukir menjadi dirimu. Sehingga seluruh bangsa di dunia akan tercengang berdecak kagum, karena ternyata Pancasila bukan hanya melahirkan Sukarno. Tapi juga kamu-kamu yang sedang membaca artikel ini.