Three Questions

Ada tiga pertanyaan penting yang jawabannya mengarahkan pada kesadaran.

Pertama, siapakah manusia yang paling berharga ?

Kedua, apakah tindakan yang paling bernilai ?

Ketiga, kapankah melakukan tindakan yang paling
tepat ?

three-questions

Atas pertanyaan yang pertama : Manusia yang paling berharga adalah yang paling dekat dengan dirimu. Dan manusia yang paling dekat denganmu adalah dirimu sendiri.

Atas pertanyaan kedua : Tindakan yang paling bernilai adalah memberi pelayanan terbaik kepada manusia yang terdekat dengan dirimu. Melakukan perhatian sempurna kepada dirimu sendiri. Manusia yang terdekat dengan dirimu itu, yaitu dirimu itu. Paling berhak menerima pelayanan terbaik olehmu sebelum kamu melakukannya pada siapapun. Jika kamu ingin memberi cinta, berilah cinta itu padanya. Jika kamu ingin membagi kebahagiaan, berikanlah kebahagiaan itu padanya sebelum yang lain. Jika kamu ingin melakukan pendidikan, lakukanlah seoptimal mungkin kepadanya sebelum kepada yang lain.

Sedemikian berharga dan tak ternilainya manusia yang terdekat denganmu itu, sehingga dia paling berhak atas seluruh kebaikan yang kamu ingin berikan. Dia lebih berhak atas cintamu, sebelum kamu berikan kepada yang lain.

Ketika dia lapar, maka kamu tidak boleh membiarkannya kelaparan. Dia lapar spiritual, lapar intelektual, lapar kebahagiaan, lapar pengetahuan, lapar kasih sayang. Sudahkah kamu penuhi rasa laparnya itu..?

Apakah kamu begitu tega memberikan waktumu pada yang jauh, sementara manusia yang paling dekat dengan dirimu kamu abaikan begitu saja, tidak kamu dengarkan dia meminta, mengemis dan menjerit ?

Ada apa denganmu, sehingga kamu tidak mendengar keluh kesahnya. Meminta gizi yang paling disukainya ?

Berupa gizi spiritual, gizi intelektual, gizi ilmu, gizi hikmat, dan gizi kebijaksanaan ?

Ada apa denganmu, sehingga kamu begitu sibuk melakukan ini dan itu kepada yang jauh, sementara manusia yang paling dekat dan paling berharga bagimu kamu lupakan dan kamu abaikan ?

Tidak ada tindakan yang lebih bernilai dan lebih bermakna daripada memenuhi tanggungjawabmu terhadapnya. Terhadap dirimu sendiri…

Kata Leo Tolstoy, seorang sastrawan Rusia yang tulisan tulisannya memengaruhi Gandhi , “Semua orang berfikir untuk mengubah dunia, tetapi tak seorangpun berfikir untuk mengubah diri sendiri.”.

 

Atas pertanyaan yang ketiga : Kapankah waktu yang paling tepat untuk melayani segala kebutuhan manusia yang paling dekat dan paling berharga itu ?

Waktu yang paling tepat adalah SEKARANG. Jangan menunggu sampai dia mati kelaparan.

Ku hadiahkan tulisan ini kepada manusia yang terdekat dengan diriku Eza Azerila, Ilham Ghanya Ilham, Jimy Jangkrick, Sapta Furniture, Bundanya Fadel, Tri Saleh Mokodongan, Mohammad Sodikin, Edwin Walakandou,Eve Hutagalung, James Gulo, Esi Teja, Thomas Al Akbar Siregar, Wins Tri,Meta Thomson, Tody Xavier Agiar Branco, Juen Black, Amirah LayLa, Irfan Pelizzolli, Ridhwan Kulaniy, Adhit Sabarno, Radinda Amelia, Asriana Kibtiyah, Tantowi Jouhari, Nikmat Tanjung, Husin Siregar, Eliza M Permatasari, Ritawaty Florentina, Putri Aurellel Camila, Jimy Jangkrick,De Fatah, Satriyo Aljawi, Brusman Kennedy, dll

Advertisements

Dobrak , Bongkar Kebiasaan Lama

“Dobrak , Bongkar Kebiasaan Lama”
Kata Iwan Fals

Apa yang mesti didobrak bung Iwan ?

bongkar.jpg

 

Aku coba menjawab sendiri. Ya, kamu ternyata sadar tidak sadar sedang terpenjara dalam kotak-kotak sempit yang disebut ISME. Materialisme, spiritualisme, kapitalisme, sosialisme, individualisme, nasionalisme, demokratisme, hedonisme, feodalisme, imperialisme, pluralisme, idealisme, rasisme, skripturalisme, intelektualisme, rasionalisme, emosionalisme dan humanisme.

 

Kamu dimasukkan ke dalam kotak isme. Mulailah tanpa kritikal kamu menyuarakan idealisme itu, rasionalisme itu, nasionalisme itu dan segala isme itu. Kamu masuk dalam kotak.

 

Kamu pun kehilangan kemerdekaan dirimu. Kamu mulai membela tuhan ilusimu itu. Nasionalisme mendoktrinkan bahwa right or wrong is my own country. Kapitalisme mendoktrinkanmu time is money. Demokratisme mendogmamu suara rakyat suara Tuhan. Feodalisme mengajarkanmu the survival of the fittest. Rasionalisme mu mengajarkanmu keyakinan ilmu adalah yang empirik jika tidak empirik bukanlah ilmu, dst.

 

Kawan, you are beyond what you think about your own self. You are beyond everything. Kamu tak terbatas. Tak ada yang dapat membatasi wujud dirimu yang sebenarnya. Ketika kamu menerima kebanggaan isme-isme itu, kamu telah disematkan dengan kebanggaan ilusi. Mulailah saat itu kamu mengukur segala sesuatu dengan keterbatasan ismemu.

 

“Ternyata kamu anti nasionalisme ya !!!?”

 

Nasionality yes. Nasionalism no.Individuality yes, individualsm no. Spirituality yes, spiritualism no. Material yes, materialism no. Idealty yes idealism no. Rational yes rationalism no. Humanity yes humanism no.

 

Dobrak!!! Karena isme-isme itu telah memenjarakanmu. Isme-isme itu adalah kebiasaan lama, yang kamu telan begitu saja.

 

Aku semakin jatuh cinta pada Pancasila. Sila pertamanya adalah ketuhanan dan sila keduanya adalah kemanusiaan. Di hadapan gagasan ketuhanan dan kemanusiaan nasionality yes, nationalsm no. Kebangsaan hanyalah bersifat wawasan ekologis, geografis dan demografis. Keindonesiaanmu tidak membuatmu dapat berbuat semau-mau tanpa nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Dengan Pancasilamu, kamu tidak menganut dogma nasionalisme “right or wrong is my country”.

 

Kebanggaanmu hanya sebatas kebangsaan atau nationality. Bukan nasionalisme.

 

“Tapi kita sudah terlanjur terbiasa mengatakan nasionalisme… !??”

Ya, namanya juga lagi tidak sadar. Mau dibilang apa ?  Makanya kata bung Iwan Fals :

 

DOBRAK KEBIASAAN LAMA!!!

 

Merdeka!!! Mari bung, rebut kembali. Rebut kembali kebanggaanmu sebagai manusia terbaik dengan nilai-nilai yang membuatmu merdeka, rebut kembali nilai-nilai luhur nenek moyangmu yang luar biasa, berpegang pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebijaksanaan, keadilan yang tak terbatas teritorial Barat maupun Timur.

Dobrak !!!

 

Saat kamu dapat mendobrak dan membongkar ruang-ruang sempit isme-isme yang memenjarakanmu, maka saat itu realitasmu adalah keseluruhan individual juga sosial, spiritual juga material, nasional juga internasional, ketuhanan juga kemanusiaan, kapital juga komunal, parsial juga universal. Dan saat itu tak ada gagasan yang lebih murni darimu.
Dobrak dan bongkar !!!

(sambil tersenyum maniez).

 

Kalau bung Denny Siregar mendobraknya sambil ngopi.

Dicari! Pemimpin Dunia

Dicari! Pemimpin Dunia.

dicari-pemimpin-dunia

Dunia hari ini, masih belum mencapai cita-cita idealnya. Masih terkungkung dalam ilusi tribalismenya. Masih terkotak-kotak dalam ilusi nasionalismenya. Masih terjerat dalam hayalan chauvinistiknya. Masih terpenjara dalam ideologi-ideologi sektoral parsialnya. Masih terbawa dalam gagasan saling menguasai oleh dan terhadap bangsa lain. Masih bermental zaman batu dengan kemasan teknologi.

Belum ada kemajuan. Masih menggunakan logika yang kuat yang menang. Yang kuat yang menguasai. The survival of the fittest. Sejak ribuan tahun lamanya, belum ada kemajuan berarti. Masih doyan perang, demi penguasaan dan penjajahan. Masih sangat primitif. Yang membedakan hanya alat-alat perang yang digunakan. Tetapi watak perang dan doyan membunuh demi menguasai bangsa lain masih sama. Watak barbarnya belum berubah sama sekali. Watak primitifnya masih sangat kuat.

Ciri ciri watak primitif adalah berorientasi pada penguasaan demi keberlangsungan hidup fisik biologis. Bahkan dunia hari ini dengan watak primitifnya lebih ganas. Lebih massive. Daya jangkaunya lebih jauh. Daya cakupnya lbh luas. Daya melumpuhkannya lebih efektif dan akurat.

Dunia hari ini disebut maju hanya di tingkat teknikal. Di level teknologi. Di kelas instrumental. Di skala alat-alat belaka. Wataknya tidak punya kemajuan. Kesadarannya jalan di tempat. Beda kaum primitif sekarang dengan yang dulu hanya di level instrumental equipment. Dahulu mereka naik kuda sekarang naik tank baja. Dahulu mereka pakai senjata panah beracun sekarang mereka gunakan senjata berhulu ledak nuklir. Jiwa barbariannya sama.

Dunia Barat dan Timur dengan ideologinya gagal membawa dunia pada kemajuan. Pada kedamaian. Pada kemanusiaan. Pada keadilan. Mengapa ?

Karena ideologinya berporos pada materialisme.

Dalam dunia yang sekarang ini materialisme menjadi satu-satunya ukuran kebenaran. Satu-satunya standar pembelaan diri. Meski tuhan disebut, agama diberi ruang, dan hak asasi manusia dikumandangkan, tapi semuanya hanya berfungsi sebagai alat untuk menegakkan watak materialismenya. Tuhan, kemanusiaan, dan agama masuk dalam domain alat dan instrumen penguasaan kaum materialisme.

Jiwa materialis adalah jiwanya kaum barbar dan primitif yang berjaya pada 500 juta tahun lalu. Watak mereka watak kanibal. Watak reptil. Orientasi watak reptil adalah pada pemenuhan kebutuhan biologis : watak dasarnya adalah hidup untuk makan, minum, dan berkembang biak. Tidak ada kegiatan yang lebih suci bagi kaum materialis kecuali makan, minum, dan berkembang biak. Demi orientasi makan, minum, dan berkembang biak ini, maka kaum primitif sangat possesif, sangat protektif, sangat reaktif, dan sangat defensif destruktif.

Mereka dengan berbagai cara, metode, teknik dan strategi untuk dapat menguasai sumberdaya alam untuk kelestarian hidup ras mereka. Untuk keselamatan mereka. Untuk kenyamanan mereka. Di sinilah watak penjajahan mental primitif beroperasi.

Kepemimpinan dunia yang disebut negara-negara maju sebenarnya ilusi. Mereka gagal membawa umat manusia pada cita-cita ideal kemanusiaan. Dari segi teknologi memang maju tapi dari segi watak dasar primitif, mereka masih jalan di tempat. Sampai hari ini umat manusia masih dalam pencarian model kepemimpinan ideal yang membawa mereka pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan kebijaksanaan, dan keadilan.

Kepemimpinan dunia ideal harus datang dari konsep ideologi yang ideal. Dan berita gembiranya, ideologi ideal yang akan membawa umat manusia pada kemajuan nilai hakikinya adalah ideologi yang berorientasi pada ketuhanan, kemanusiaan, kebijaksanaan, kebenaran dan keadilan. Dan ideologi itu hanya ada di nusantara ini.

Jadi darimanakah pemimpin dunia itu akan muncul ?

Dengan logika ini maka calon pemimpin dunia itu berasal dari nusantara.

Siapakah dia itu ?

Salah satu calonnya adalah kamu, dirimu.

SEMAKIN MENGUAT DIRIMU MENGUKIR NILAI NILAI PANCASILA, SEMAKIN MENGUAT PULA KAMU SEBAGAI CALON PEMIMPIN DUNIA.

.

Hanya Pancasila yang memenuhi syarat sempurna, menjadi ideologi dunia. Ideologi Pancasila begitu universal. Adakah yang lebih agung daripada isu ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan. Adakah yang dapat menyatukan umat manusia dari perbedaan suku, ras, kebangsaan, dan agama selain Pancasila.

Sedemikian hebat ideologi yang kamu warisi ini, maka kamu dijauhkan dari warisan ideologimu karena jika kamu menguat dengan ideologimu, kepemimpinan dunia kamulah yang paling pantas dan paling berhak atasnya.

Risalah 76 – Kamu adalah…?

Gandaria, 22 Maret 2016
Oleh: Eza Azerila

image

Spiritualitas Mewujudkan Ketuhanan pada Diri

KOMUNITAS MANUSIA INDONESIA
Komando

Program Cinta Tanah Air Indonesia

Suara Komunitas 76/ Kamu adalah…?

Komunitas terkasih..

Kamu adalah manusia. Manusia disebut manusia lebih karna spiritualitasnya, rasionalitasnya, emosionalitasnya, dan aktualitasnya. Bukan sekadar bentuk fisikal body nya.

Spiritualitasmu menciptakan pesona cinta, kemurahan, kebijaksanaan, kelembutan, keindahan, keluhuran, dan kasih sayang.

Rasionalitasmu melahirkan pesona tanggungjawab intelektual dalam berucap, berkata-kata, membuat pernyataan, menulis, bertanya dan menjawab pertanyaan dan persoalan.

Emosionalitasmu bukanlah emosionalisme yang mereaksi fenomena sosial, politik, ekonomi, dan persoalan kebangsaan. Emosionalitasmu terbimbing oleh spiritualtas dan rasionalitas sehingga kamu lebih responsif tidak reaktif, lebih produktif tidak sia-sia, lebih positif tidak negatif, lebih memahami ketimbang menuntut dipahami, lebih progresif daripada regresif, lebih konstruktif daripada destruktif, dan lebih realistis daripada ilut

image

Aktualitas Diri

if.

Aktualitasmu nyata, konkret, konklusif, menyelesaikan persoalan, tidak pilah-pilih dalam melayani, membuktikan kepedulian pada manusia dan kemanusiaan.

Kamu adalah manusia yang memberi manfaat kepada lingkungan dan sesama, sebisa yg kamu lakukan sesuai kecakapan, sesuai keahlian, sesuai skill, sesuai kemampuanmu dalam semangat spiritualitasmu itu, rasionalitasmu itu, emosionalitasmu itu, dan aktualitasmu itu.
Simbol-simbol ketuhanan, kemanusiaan, keagamaan, kepancasilaan, dan persatuan yang kamu deklarasikan tidak akan cemerlang dan tidak menarik jika kamu tidak mengukir kemanusiaanmu.

Semakin cemerlang spiritualitasmu semakinlah kamu berketuhanan, semakin kamu berketuhanan semakin pula kamu berkemanusiaan, semakin berkemanusiaan semakin cinta persatuan, semakin cinta persatuan semakin mewujud keadilan dan kesejahteraan. Saat itu kamu tak peduli lagi dengan sebutan-sebutan paling bertuhan, paling beragama, paling manusia pancasilais. Buat apa nama dan sebutan yang tidak menunjuk pada realitas yang dinamai?

Biarkan para pemerhatimu yang memberi nama yang pas buatmu. Bukan kamu yang memberi nama bahwa kamu adalah manusia merk ini atau bermerk begitu.

image

Tangalkan Egoisme

Buka bajumu, dan telanjanglah sehingga kamu dapat bergaul dengan siapa saja dengan rasa dan semangat yang egalitarian.

Selamat Tinggal Sikap Feodalisme !!