Kiai Sufi Pejuang Negeri : Kiai Abbas Buntet

mengenal-kiai-abbas-buntet-kiai-sufi-pejuang-negeri

Kiai Abbas Buntet, Cirebon

Sosok Nusantara – Salah satu kiai yang menjadi pejuang pada masa revolusi ialah Kiai Abbas bin Abdul Jamil, Buntet Cirebon. Kiai Abbas merupakan kiai kharismatik, yang dikenal karena pengetahuan keislaman, keteduhan spiritual dan kekuatan ilmu kanuragan yang menjadikan beliau sebagai rujukan dalam perang kemerdekaan. Kiai Abbas, dikenal sebagai Angkatan Udara Nahdlatul Ulama, yang menghancurkan beberapa pesawat tempur tentara NICA, dalam perang kemerdekaan di Surabaya, November 1945. Uniknya, Kiai Abbas menggunakan bakiak, tasbih dan butiran pasir sebagai senjata untuk merontokkan pesawat tempur musuh. Bagaimana kisahnya?

Kiai Abbas merupakan putra sulung dari Kiai Abdul Jamil, pengasuh pesantren Buntet, Cirebon. Beliau lahir pada 24 Dzulhijjah 1300 H/1879 M, di Cirebon, Jawa Barat. Pada masa kecilnya, Kiai Abbas belajar mengaji dengan Kiai Nasuha Plered Cirebon dan Kiai Hasan, Jatisari. Setelah itu, Abbas kecil berkelana untuk mengaji ke Tegal, di bawah asuhan Kiai Ubaedah. Setelah itu, menuju Jombang, Jawa Timur untuk mengaji kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.
Pada kisaran tahun 1900an, Kiai Abbas datang untuk belajar ke pesantren Tebu Ireng, Jombang. Beliau datang bersama saudaranya, yakni Kiai Sholeh Zamzam, Kiai Abdullah Pengurangan, dan Kiai Syamsuri Wanatar. Pada waktu itu, pesantren Tebu Ireng masih sering diganggu oleh musuh, yakni berandal-berandal lokal di sekitar Pabrik Gula Cukir. Bersama santri-santri lainnya, Kiai Abbas membantu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari melawan bandit lokal yang mengganggu pesantren. Akhirnya, para berandal lokal dan bandit-bandit kecil kalah dalam adu ilmu kanuragan (Masyamul Huda, 2014). PesantrenTebu Ireng menjadi aman, serta jadi rujukan santri untuk mengaji.
Ketika belajar di pesantren, bakat sebagai pemimpin, ahli ilmu, ahli strategi dan watak periang sudah terlihat dalam diri Kiai Abbas. Beliau berkawan karib dengan Kiai Wahab Chasbullah, putra Kiai Chasbullah Said, Tambakberas, Jombang. Setelah melalang buana di pesantren Jawa, Kiai Abbas kemudian menikah dan berangkat haji ke tanah suci. Di tanah Arab, Kiai Abbas bertemu dengan banyak kawan asal Nusantara yang belajar di Hijaz. Ia banyak diskusi dengan mereka, untuk memperdalam pengetahuan agama dan wawasan global.
Kemudian, Kiai Abbas pulang sebentar ke tanah air, dan kembali lagi ke tanah suci untuk belajar. Di Makkah, Kiai Abbas menjadi santri Syekh Ahmad Zubaidi. Kiai Abbas juga belajar kepada Syekh Mahfudh at-Termasi dan Syaikh Chatib al-Minangkabawi. Di tanah suci, Kiai Abbas dengan tekun belajar, diskusi dan menggelar pelbagai majlis ilmu bersama kawan-kawannya. Pada usia 40 tahun, Kiai Abbas mendapatkan tugas sebagai pengajar.

Mengembangkan Pesantren Buntet

Sekembali ke tanah air, Kiai Abbas kemudian mengembangkan pesantren Buntet, yang menjadi peninggalan ayahandanya. Di bawah asuhan Kiain Abbas, pesantren Buntet menjadi ramai oleh santri dan terkenal sebagai salah satu rujukan dalam mengaji serta memperdalam ilmu Islam. Bagi Kiai Abbas, siapa saja boleh datang untuk mengaji di pesantren, untuk belajar berbagai macam ilmu. Pengetahuan dan wawasan yang diperoleh Kiai Abbas ketika belajar di pesantren dan mengaji di tanah suci, digunakan untuk menguatkan model pendidikan pesantren Buntet. Di pesantren ini, pada masa Kiai Abbas, bermacam ilmu diajarkan, dari ilmu al-Qur’an, ilmu Qiroat, Hadist, Tauhid hingga kanuragan menjadi bagian dari tradisi pembelajaran santri.
Kiai Abbas, selain mengasuh santri, juga menjadi _mursyid_ tarekat Syattariyah dan _muqoddam_ tarekat Tijaniyyah. Dalam catatan Muhaimin AG, Kiai Abbas termasuk sosok kiai dengan pikiran yang terbuka. Ketika beberapa Kiai menolak tarekat Tijaniyyah, Kiai Abbas menerima sebagai salah satu alternatif dalam laku batin. Di Cirebon, dalam perkembangannya, tarekat Tijaniyah berkembang, dengan Kiai Abbas dan Kiai Annas sebagai muqoddamnya. Kiai Annas kemudian melahirkan beberapa kiai yang menjadi penerus muqoddam dalam praktik tarekat Tijaniyyah: Kiai Muhammad (Brebes), Kiai Bakri (Kasepuhan, Cirebon), Kiai Muhammad Rais (Cirebon), Kiai Murtadho (Buntet), Kiai Abdul Khair, Kiai Hawi (Buntet), serta Kiai Soleh (Pesawahan). Sedangkan, Kiai Abbas mencetak beberapa penerus dalam tarekat ini, yakni: Kiai Badruzzaman (Garut), Kiai Ustman Dlomiri (Cimahi, Bandung), serta Kiai Saleh dan Kiai Hawi (Buntet) (Muhaimin, 2006: 264).
Kiai Abbas menjadikan pesantren Buntet sebagai rujukan santri. Beliau menambah staf pengajar untuk mengakomodasi kebutuhan santri-santri dalam belajar berbagai macam ilmu. Kiai Abbas juga mendirikan madrasah yang dipadukan dengan pendidikan sekolah. Madrasah inilah yang dinamakan Abna’oel Wathan, yang menegaskan visi perjuangan Kiai Abbas dalam membangun fondasi negara.

 


Pejuang Revolusi

Kiai Abbas Buntet merupakan murid dari ulama Nusantara yang menjadi penyambung sanad para kiai: Kiai Nawawi al Bantani dan Syech Mahfudh at-Tirmasi. Selain Kiai Nawawi, ada beberapa murid lain yang juga menjadi kiai-kiai penting di Jawa, sebagai jaringan penggerak Nahdlatul Ulama. Di antaranya: Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muhammad Bakri bin Nur, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Muammar bin Baidlawi Lasem, Kiai Ma’shum bin Muhammad Lasem, Haji Ilyas (Serang), Tubagus Muhammad Asnawi dan Abdul Ghaffar dari Caringin (Burhanuddin, 116).
Kiai Abbas, adalah sosok pejuang yang mencintai tanah air, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau menggembleng santri agar semangat memperjuangkan agama dan negara. Bahkan, pesantren Buntet juga menjadi markas latihan laskar Hizbullah, Sabilillah, dan pasukan PETA. Kiai Abbas juga membentuk dua regu laskar santri, yang dinamakan Asybal dan Athfal.
Dikisahkan, dalam pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas menggenggam pasir yang ditaburkan ke arah musuh. Aksi ini membuat musuh kocar-kacir, karena seakan-akan pasir yang ditaburkan menjadi meriam dan bom yang menghancurkan.
Sebelum pertempuran ini, Kiai Abbas juga ikut andil dalam keputusan Resolusi Jihad, yang merupakan keputusan para Kiai dalam rapat Nahdlatul Ulama di Bubutan, Surabaya, pada 21-22 Oktober 1945. Beberapa kiai, di antaranya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Abbas Buntet, Kiai Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya berkumpul dalam sebuah majlis untuk membahas penyerbuan tentara NICA (_Netherlands Indies Civil Administration_). Fatwa Jihad yang digelorakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari akhirnya menjadi catatan sejarah, sebagi pengobar semangat kaum santri untuk berjuang mempetahankan negeri.
Pada pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas ikut membaur dengan pejuang dari kalangan Kiai yang berpusat di Markas Ulama, di rumah Kiai Yasin Blauran Surabaya. Di rumah ini, para kiai berkumpul untuk merancang strategi, menyusun komando serta memberikan suwuk/doa kepada para santri pejuang yang bertempur melawan penjajah (Amin, 2008: 72)
Setelah masa perjuangan kemerdekaan, Kiai Abbas mendapat amanah sebagai anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat)—yang kedudukannya sebagai DPR sementara. Kiai Abbas mewakili area Jawa Barat, dalam kedudukannya sebagai anggota KNIP.
Kiai Abbas dikenal sebagai kiai yang memiliki ilmu kedigdayaan yang tinggi pada masa hidupnya. Beliau tak hanya berilmu agama mendalam, namun juga dikenal digdaya dan ampuh. Kemampuan Kiai Abbas dalam bidang -psychokinesys- yang berangkat dari Cirebon menuju Surabaya dalam sekejap hentakan kaki, merupakan karomah yang diberikan Allah kepada beliau (Amin, 2008: 72). Inilah potret Kiai Abbas yang berjuang dengan ikhlas dan rela untuk menjaga negeri dari tangan penjajah. Sudah selayaknya, perjuangan Kiai Abbas menjadi referensi pewaris negeri, sebagai pahlawan dari kaum santri.

Penulis :

Munawir Aziz, Koordinator Teraju Indonesia, Wakil Sekretaris LTN PBNU, (@MunawirAziz)

Referensi:

Abdul Ghoffir Muhaimin, The Islamic Tradition of Cirebon: Ibadat and Adat among Javanese Muslim, Canberra: ANU Press, 2006.
_____________________________. Pesantren and Tarekat in the Modern Era: An Account of the Transmission of Traditional Islam in Java, Jakarta, Studia Islamika, 1997.
Abdul Wahid, Peranan Pondok Pesantren Buntet Cirebon bagi Kemajuan Lingkungan Pendidikan di Lingkungan Sekitar 1958-2009, Universitas Negeri Semarang, 2012.
Hasan AZ, Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara, Yogyakarta: LKIS. 2014.
Jajat Burhanuddin, Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia, Jakarta: Mizan, 2012.
Samsul Munir Amin, Karomah Para Kiai, Yogyakarta: LKIS. 2008.
Sumber : NU Online
Advertisements

UTD (Untung Tiap Detik)

Terinspirasi dari tulisan sahabat cerdasku, Denny Siregar. Hidup ini bukan soal kalah-menang. Top!!

Ada dua cara untuk kamu menyikapi hidup, menang-kalah atau untung-rugi. Prinsip menang-kalah itu logika dualitas, logika kompetisi, logika persaingan, logika harus ada pihak yang jadi pemenang dan pihak yang jadi pecundang. Harus ada yang naik, harus ada yang dijatuhkan. Capek, kalau seperti itu.

Dalam sejarah, tokoh-tokoh hebat dunia kemanusiaan, para manusia pegiat pencerahan mengambil logika untung-rugi, dimana mereka selalu berada di pihak UTD (Untung Tiap Detik). Yang dimaksud bukan untung finansial, tapi untung tiap detik memegang prinsip ketuhanan dan kemanusiaan.

Tidak ada kerugian yang paling bangkrut daripada mengorbankan nilai diri demi meraih kesenangan sesaat. Dan tidak ada keuntungan yang lebih besar dan lebih agung daripada diri yang berpegang teguh pada kebenaran, ketuhanan dan kemanusiaan.

utd

Hidup yang sangat singkat ini, terlalu murah dan kehilangan nilai keabadiannya, ketika tidak dimanfaatkan untuk nilai-nilai yang sesuai dengan kemuliaan diri. Kamu mengalami kerugian dan kebangkrutan, saat detik-detik hidupmu kamu fungsikan untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan keagungan nilai dirimu. Dirimu yang begitu tak ternilai dan itu  sangat merugikan. Jika tidak difungsikan untuk membangun sejarah kemanusiaan dan peradaban.

Siapakah mereka yang UTD (Untung Tiap Detik) ?

Mereka adalah manusia yang mengambil setiap kesempatan hidupnya untuk membangun kualitas dirinya, kualitas spiritualnya, kualitas intelektualnya, kualitas hidup aktualnya. Tiap detik, dia memberi makna bagi kehidupan diri dan alam lingkungannya. Tiap saat, mereka mengambil kesempatan untuk berbagi, untuk menjadi bagian dari solusi, untuk melayani.

Mereka untung tiap detik. Mereka terlahir ke dunia sebagai hadiah istimewa bagi kehidupan sesama dan alam semesta. Fisik mereka terkubur, tapi karya-karya mereka masih memberi sumbangan abadi bagi alam, manusia dan kemanusiaan. Jasad mereka terkubur, tapi nama mereka tidak ikut terkubur.

Mereka hanya berpihak kepada keuntungan. Ketika banyak orang memecah-belah, mereka menyatukan. Ketika orang lain menebar kebencian, mereka menebar cinta dan kasih sayang. Ketika orang sibuk menebar penderitaan, mereka menebar kebahagiaan, ketika orang mengembangkan persaingan, mereka mengembangkan kerjasama menang-menang.

Mereka tidak pernah kehilangan momen unruk mengambil keuntungan demi keuntungan. Dimana ada kesempatan memberi manfaat, mereka hadiahkan diri mereka hadir sebagai manfaat. Dimana ada problem, mereka ambil kesempatan untuk menjadi solusi. Mereka hadir ke dunia ini seolah sebagai hadiah istimewa bagi alam semesta.

Mereka tidak pernah merugi. Mereka untung tiap detik.

Mungkin, kita pernah pendengar kisah heroik satu manusia yang tidak pernah merugi. Demi mempertahankan misi ketuhanan dan kemanusiaan, harus menderita tebasan pedang beracun di lehernya. Manusia suci itu berkata, “AKU BERUNTUNG, DEMI TUHAN !!!”

Namanya tercatat abadi sebagai pahlawan, Jasmaninya terkubur namun aroma wanginya tercium hingga akhir zaman. Sementara si pembunuh, menuai celaan abadi. Dia merugi selamanya dari kesempatan umurnya yang sangat singkat.

Ketika nama-nama manusia yang hidupnya memberi manfaat disebut, aroma wangi tercium dari namanya. Alam semesta kehilangan dan merindukannya. Ketika orang-orang yang hidupnya memberi penderitaan disebut, segenap alam semesta mengutuk dan menyesali kehadirannya. Alangkah kasihan dan menderita kedua orang tua yang telah melahirkannya.

 

Kamu masih punya waktu untuk menyelesaikan sisa umurmu, untuk merugi atau untuk

UTD (UNTUNG TIAP DETIK).

Hingga hari ini ketika nama Sukarno, Gandhi, Madam Teresa, Che Guevara, Leo Tolstoy disebut. Setiap orang merindukan mereka. Karya-karya mereka masih dinikmati dan masih memberi semangat, meski jasad mereka tertanam di bumi. Mereka memberi sumbangan bagi kehidupan sehingga nisan mereka tertulis di dalam setiap dada para pengagumnya di setiap zaman.

Three Questions

Ada tiga pertanyaan penting yang jawabannya mengarahkan pada kesadaran.

Pertama, siapakah manusia yang paling berharga ?

Kedua, apakah tindakan yang paling bernilai ?

Ketiga, kapankah melakukan tindakan yang paling
tepat ?

three-questions

Atas pertanyaan yang pertama : Manusia yang paling berharga adalah yang paling dekat dengan dirimu. Dan manusia yang paling dekat denganmu adalah dirimu sendiri.

Atas pertanyaan kedua : Tindakan yang paling bernilai adalah memberi pelayanan terbaik kepada manusia yang terdekat dengan dirimu. Melakukan perhatian sempurna kepada dirimu sendiri. Manusia yang terdekat dengan dirimu itu, yaitu dirimu itu. Paling berhak menerima pelayanan terbaik olehmu sebelum kamu melakukannya pada siapapun. Jika kamu ingin memberi cinta, berilah cinta itu padanya. Jika kamu ingin membagi kebahagiaan, berikanlah kebahagiaan itu padanya sebelum yang lain. Jika kamu ingin melakukan pendidikan, lakukanlah seoptimal mungkin kepadanya sebelum kepada yang lain.

Sedemikian berharga dan tak ternilainya manusia yang terdekat denganmu itu, sehingga dia paling berhak atas seluruh kebaikan yang kamu ingin berikan. Dia lebih berhak atas cintamu, sebelum kamu berikan kepada yang lain.

Ketika dia lapar, maka kamu tidak boleh membiarkannya kelaparan. Dia lapar spiritual, lapar intelektual, lapar kebahagiaan, lapar pengetahuan, lapar kasih sayang. Sudahkah kamu penuhi rasa laparnya itu..?

Apakah kamu begitu tega memberikan waktumu pada yang jauh, sementara manusia yang paling dekat dengan dirimu kamu abaikan begitu saja, tidak kamu dengarkan dia meminta, mengemis dan menjerit ?

Ada apa denganmu, sehingga kamu tidak mendengar keluh kesahnya. Meminta gizi yang paling disukainya ?

Berupa gizi spiritual, gizi intelektual, gizi ilmu, gizi hikmat, dan gizi kebijaksanaan ?

Ada apa denganmu, sehingga kamu begitu sibuk melakukan ini dan itu kepada yang jauh, sementara manusia yang paling dekat dan paling berharga bagimu kamu lupakan dan kamu abaikan ?

Tidak ada tindakan yang lebih bernilai dan lebih bermakna daripada memenuhi tanggungjawabmu terhadapnya. Terhadap dirimu sendiri…

Kata Leo Tolstoy, seorang sastrawan Rusia yang tulisan tulisannya memengaruhi Gandhi , “Semua orang berfikir untuk mengubah dunia, tetapi tak seorangpun berfikir untuk mengubah diri sendiri.”.

 

Atas pertanyaan yang ketiga : Kapankah waktu yang paling tepat untuk melayani segala kebutuhan manusia yang paling dekat dan paling berharga itu ?

Waktu yang paling tepat adalah SEKARANG. Jangan menunggu sampai dia mati kelaparan.

Ku hadiahkan tulisan ini kepada manusia yang terdekat dengan diriku Eza Azerila, Ilham Ghanya Ilham, Jimy Jangkrick, Sapta Furniture, Bundanya Fadel, Tri Saleh Mokodongan, Mohammad Sodikin, Edwin Walakandou,Eve Hutagalung, James Gulo, Esi Teja, Thomas Al Akbar Siregar, Wins Tri,Meta Thomson, Tody Xavier Agiar Branco, Juen Black, Amirah LayLa, Irfan Pelizzolli, Ridhwan Kulaniy, Adhit Sabarno, Radinda Amelia, Asriana Kibtiyah, Tantowi Jouhari, Nikmat Tanjung, Husin Siregar, Eliza M Permatasari, Ritawaty Florentina, Putri Aurellel Camila, Jimy Jangkrick,De Fatah, Satriyo Aljawi, Brusman Kennedy, dll

Dua Cara Beragama

Cara Beragama.jpg

“Eza, bagaimana ciri ciri orang beragama yang baik dan benar..?” Ada yang bertanya gitu.

“Apapun agamamu, tidak perlu dioplos. Yang penting kamu tahu cara beragama itu hanya ada dua.” Ku bilang. “Cara beragama Pancasila. Dan cara beragama Pancagila. Itu saja.” lanjutku.

Cara beragama Pancasila. Dengan agama yang kamu anut, kamu semakin mengenal bahwa Tuhan itu Maha Esa. Bahwa Tuhan itu Bersifat luhur Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemurah, Maha Mencintai, Maha Memberi, Maha Membahagiakan, Maha Menolong, Maha Memaafkan dst, dst. Setelah melalui agamamu kamu mengenal Tuhan begitu Agung dan Luhur, lalu kamu mengukir kemanusiaanmu dengan sifat-sifat dan nilai-nilai luhur itu, kamu menjadi lebih mencintai, lebih mengasihi, lebih menyayangi, lebih melayani, lebih bijaksana dst.

Kemudian menjadilah kamu manusia yang cinta persatuan, cinta sesama manusia, cinta bhinneka tunggal ika, cinta gotong-royong dst. Maka lahirlah pada dirimu jiwa kerakyatan yang siap dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan berujung pada terwujudnya keadilan sosial di negerimu. Itu cara beragama Pancasila.

Tapi, apapun agamamu, sehebat apapun agama itu menurut pengakuanmu. Namun jika tak ada ketuhanan di sana, tak ada cinta di sana, tak ada kasih sayang di sana, tak ada kemurahan di sana, tak ada kelembutan di sana dst. Lalu kamu dapati dirimu begitu kering dari nilai ketuhanan, dari cinta dan kasih sayang, dari kemurahan, dari pelayanan, dari kepedulian, dan membuat kamu menjadi anti persatuan, tidak suka dengan ciptaan Tuhan, selalu mencari perbedaan, gemar perpecahan, doyan permusuhan, keranjingan fitnah dan kebencian, dan akhirnya kamu tidak berjiwa kerakyatan, maunya hanya memimpin padahal tidak punya kemampuan. Sehingga bangsa ini semakin jauh dari keadilan, dari kedamaian, dari persatuan, dari pembangunan karena hanya sibuk tenggelam dalam problem dan persoalan, maka itu namanya cara beragama jenis kedua. Itu yang disebut cara beragama PANCAGILA Semakin beragama semakin GILA.

Ternyata jika kamu tidak berpancasila ya berpancagila.

Sintesa Cinta

Dalam ilmu logika dikenal dialektika tesa vs anti tesa melahirkan sintesa. Dan sintesa inipun menjadi tesa baru yang dihadapkan dengan anti tesa, sehingga melahirkan sintesa baru. Dan begitu seterusnya, tesa-anti tesa dan sintesa ini menyempurna.

sintesa Cinta.jpg

Dialektika adalah cara berpikir dualitas untuk menemukan unitas yang disebut sintesa. Segala dualitas akan bertemu dalam satu pernikahan yang melahirka anak yang tidak dual lagi yaitu sintesa. Logika beroperasi di alam dialektis dan dualitas. Cinta mengawinkan keduanya dan hanya beroperasi di alam sintesa. Sintesa cinta namanya.

Dalam perkembangan hidup, kita-kita terlatih untuk berlogika. Alam logika ini, sangat diperlukan agar kita dapat memilih dan memilah antara dua hal benar dan salah, menang dan kalah, baik dan buruk dst. Namun pada tingkat kedewasaan tertentu logika kita semakin berkebijaksanaan.

Saat dia berkebijaksanaan maka dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu alam cinta.

Di alam cinta tidak ada lagi dialektika. Tidak ada lagi dualitas. Tidak ada lagi baik buruk, benar salah, menang kalah. Yang ada hanya satu. Yang ada sintesa dari keduanya. Dalam logika kita cenderung untuk memilih satu pihak dari suatu masalah yang kita hadapi. Seolah kita harus memilih ini atau itu sebagai satu-satunya cara kita memperhatikan situasinya : jika sesuatu itu benar maka logikanya, kebalikannya pasti salah. Jika satu sisi menang maka sisi lainnya pasti kalah.

Namun saat logikamu sudah tunduk dalam alam cintamu, maka kamu mulai bersikap dengan pola sintesa. Sintesa cinta, istilahku. Saat itu kamu tidak lagi berpikir dualitas. Tapi kamu mengolah dialektika yang bermuara pada sintesa. Dengan takaran-takaran unsur kimiawi dari dua hal yang nampaknya berbeda itu kekuatan cintamu akan menemukan sikap harmoni, selaras dan kompromi. Kekuatan cintamu akan berupaya mencari jalan keluar yang bukan siapa salah siapa benar, siapa menang siapa kalah.

Dan ketika kekuatan cinta beropersi di dirimu maka kamu tidak ada keinginan salah satu berada di pihak yang kalah. Ketika tidak seorang pun yang harus kalah, bukankah semua keluar menjadi pemenang. Namun ketika cinta absen dari dirimu. Kamu ingin melihat satu pihak pemenang dan satu pihak sebagai pecundang, dan di saat itu yang terjadi sesungguhnya adalah tidak ada yang menang.

Sintesa cinta mencari kebenaran. Berpikir dualitas mencari alasan-alasan pembenaran. Sintesa cinta menghimpun dan mengharmonikan serta mendekatkan jarak perbedaan. Berpikir dualitas mencari-cari alasan dan membuat persoalan sepele jadi seperti kiamat. Sintesa cinta memadukan. Bersikap dualitas menceraikan.

Cinta bermuara pada sintesa menang-menang. Bersikap dualitas berakhir menang kalah. Cinta berbahasa spiritual. Dualitas adalah bahasa hukum.

Firman hukum berbunyi, gigi dibalas gigi, mata dibalas mata. Firman cinta berbunyi, jika ditampar pipi kirimu berikanlah pipi kanamu. Firman sintesa cinta berbunyi, dan balasan keburukan adalah keburukan yang setimpal dengannya, namun siapa yang memaafkan dan memperbaiki hubungan maka dia menerima efek balasan tak terhingga dari sisi Tuhan. Memaafkan adalah kekuatan. Jika kamu dalam posisi kuat membalas dan mampu namun kamu memaafkan itulah kekuatan cinta namanya. Tapi saat kamu tidak punya kekuatan membalas lalu kamu memaafkan itu ketertindasan namanya.

Apapun, tak ada yang lebih kuat daripada cinta. Karena cinta adalah kekuatan Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

When there is God there is Love
Where there is love there is life
When there is real life there is happiness

Urus KTP

Entah jatuh dimana KTP sebagai kartu tanda pengenal identitasku hilang. Aku mesti mengurus surat bukti kehilangan ke polisi. Lalu ke kelurahan. Aku harus mengurusnya segera karena minggu ini aku akan ke Bali untuk acara pelatihan. Yang aku dengar tentang birokrasi di negri ini selalu agak malesin. Malesin dia mah. Amit-amit berurusan sama birokrasi, sama polisi, sama kelurahan. Kalau bisa dipersulit buat apa dipermudah ?  Dan seterusnya dan seterusnya.

cerminan diri.jpg

 

Aku sedang belajar memerdekakan diriku dari segala informasi negatif. Aku tidak mau menerima begitu saja omongan-omongan yang datang menghampiri telingaku, tentang apa saja. Urusan ini dan itu di luar sana, konon tidak baik itu bukan urusanku. Urusanku yang paling dekat denganku adalah diriku sendiri.

 

Sebaik apapun di luar diriku, jika dalam diriku bermasalah maka semua nampak tidak baik. Karena aku mengukur segalanya dengan ukuran selera diriku. Seburuk apapun kondisi di luar diriku tidak akan memengaruhi kebahagiaanku. Karena kebahagiaan hanya bercerita dan memanifestasi tentang dirinya sendiri.

 

Aku berprasangka baik. Semua baik. Polisi baik. Petugas kelurahan baik. Proses birokrasi baik. Dan semua berjalan baik. Di kantor polisi ternyata mereka luar biasa baik. Penuh senyum. Melayani dengan cepat. Dan dalam waktu 10 menit aku menerima surat bukti kehilangan.

 

Surat tersebut aku bawa ke kelurahan. Ternyata antre. Pas giliranku. Petugas menanyakan persoalanku. Aku berikan surat dari kepolisian. Dia baca surat tersebut. “Oh tunggu ya pak sebentar kami print out KTP yang baru. Mungkin 15 menit prosesnya. Bapak tunggu di luar. Silahkan..?” Kata petugas kelurahan begitu ramahnya.

 

Betul. Belum 15 menit aku dipanggil dan menerima KTP baru. Aku ucapkan terimakasih dan terimakasih.

 

Kawan, ternyata segala yang di luar diri kita hanyalah bayangan kita. Baik buruk apa yang di luar kita, kitalah yang menciptakannya bermula dari pikiran, kita lalu turun menjadi tindakan kemudian menjadi sikap. Dan sikap mu akan menjadi cermin bagi alam lingkungan dan orang-orang yang berinteraksi denganmu.

 

Daripada kamu berilusi tentang dunia luar yang akan mereaksimu begini dan begitu, mengapa kamu tidak mengelola sesuatu yang real,  yang sangat dekat denganmu yaitu dirimu sendiri. Hidup ini hanya soal menyikapi saja. Kamu hanya menerima hukum sebab akibat yang kamu bangun.

 

Kalau kata orang Melayu…

 

Jika kau tak pandai manari, jangan bumi dibilang baguncang.

Akhirnya, satu jam yang lalu aku sudah mengantongi KTP baru. Ternyata pula bukan soal KTP isunya, tapi bagaimana belajar hidup berpancasila dimulai dari diri sendiri.

 

Dobrak , Bongkar Kebiasaan Lama

“Dobrak , Bongkar Kebiasaan Lama”
Kata Iwan Fals

Apa yang mesti didobrak bung Iwan ?

bongkar.jpg

 

Aku coba menjawab sendiri. Ya, kamu ternyata sadar tidak sadar sedang terpenjara dalam kotak-kotak sempit yang disebut ISME. Materialisme, spiritualisme, kapitalisme, sosialisme, individualisme, nasionalisme, demokratisme, hedonisme, feodalisme, imperialisme, pluralisme, idealisme, rasisme, skripturalisme, intelektualisme, rasionalisme, emosionalisme dan humanisme.

 

Kamu dimasukkan ke dalam kotak isme. Mulailah tanpa kritikal kamu menyuarakan idealisme itu, rasionalisme itu, nasionalisme itu dan segala isme itu. Kamu masuk dalam kotak.

 

Kamu pun kehilangan kemerdekaan dirimu. Kamu mulai membela tuhan ilusimu itu. Nasionalisme mendoktrinkan bahwa right or wrong is my own country. Kapitalisme mendoktrinkanmu time is money. Demokratisme mendogmamu suara rakyat suara Tuhan. Feodalisme mengajarkanmu the survival of the fittest. Rasionalisme mu mengajarkanmu keyakinan ilmu adalah yang empirik jika tidak empirik bukanlah ilmu, dst.

 

Kawan, you are beyond what you think about your own self. You are beyond everything. Kamu tak terbatas. Tak ada yang dapat membatasi wujud dirimu yang sebenarnya. Ketika kamu menerima kebanggaan isme-isme itu, kamu telah disematkan dengan kebanggaan ilusi. Mulailah saat itu kamu mengukur segala sesuatu dengan keterbatasan ismemu.

 

“Ternyata kamu anti nasionalisme ya !!!?”

 

Nasionality yes. Nasionalism no.Individuality yes, individualsm no. Spirituality yes, spiritualism no. Material yes, materialism no. Idealty yes idealism no. Rational yes rationalism no. Humanity yes humanism no.

 

Dobrak!!! Karena isme-isme itu telah memenjarakanmu. Isme-isme itu adalah kebiasaan lama, yang kamu telan begitu saja.

 

Aku semakin jatuh cinta pada Pancasila. Sila pertamanya adalah ketuhanan dan sila keduanya adalah kemanusiaan. Di hadapan gagasan ketuhanan dan kemanusiaan nasionality yes, nationalsm no. Kebangsaan hanyalah bersifat wawasan ekologis, geografis dan demografis. Keindonesiaanmu tidak membuatmu dapat berbuat semau-mau tanpa nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Dengan Pancasilamu, kamu tidak menganut dogma nasionalisme “right or wrong is my country”.

 

Kebanggaanmu hanya sebatas kebangsaan atau nationality. Bukan nasionalisme.

 

“Tapi kita sudah terlanjur terbiasa mengatakan nasionalisme… !??”

Ya, namanya juga lagi tidak sadar. Mau dibilang apa ?  Makanya kata bung Iwan Fals :

 

DOBRAK KEBIASAAN LAMA!!!

 

Merdeka!!! Mari bung, rebut kembali. Rebut kembali kebanggaanmu sebagai manusia terbaik dengan nilai-nilai yang membuatmu merdeka, rebut kembali nilai-nilai luhur nenek moyangmu yang luar biasa, berpegang pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebijaksanaan, keadilan yang tak terbatas teritorial Barat maupun Timur.

Dobrak !!!

 

Saat kamu dapat mendobrak dan membongkar ruang-ruang sempit isme-isme yang memenjarakanmu, maka saat itu realitasmu adalah keseluruhan individual juga sosial, spiritual juga material, nasional juga internasional, ketuhanan juga kemanusiaan, kapital juga komunal, parsial juga universal. Dan saat itu tak ada gagasan yang lebih murni darimu.
Dobrak dan bongkar !!!

(sambil tersenyum maniez).

 

Kalau bung Denny Siregar mendobraknya sambil ngopi.