Urus KTP

Entah jatuh dimana KTP sebagai kartu tanda pengenal identitasku hilang. Aku mesti mengurus surat bukti kehilangan ke polisi. Lalu ke kelurahan. Aku harus mengurusnya segera karena minggu ini aku akan ke Bali untuk acara pelatihan. Yang aku dengar tentang birokrasi di negri ini selalu agak malesin. Malesin dia mah. Amit-amit berurusan sama birokrasi, sama polisi, sama kelurahan. Kalau bisa dipersulit buat apa dipermudah ?  Dan seterusnya dan seterusnya.

cerminan diri.jpg

 

Aku sedang belajar memerdekakan diriku dari segala informasi negatif. Aku tidak mau menerima begitu saja omongan-omongan yang datang menghampiri telingaku, tentang apa saja. Urusan ini dan itu di luar sana, konon tidak baik itu bukan urusanku. Urusanku yang paling dekat denganku adalah diriku sendiri.

 

Sebaik apapun di luar diriku, jika dalam diriku bermasalah maka semua nampak tidak baik. Karena aku mengukur segalanya dengan ukuran selera diriku. Seburuk apapun kondisi di luar diriku tidak akan memengaruhi kebahagiaanku. Karena kebahagiaan hanya bercerita dan memanifestasi tentang dirinya sendiri.

 

Aku berprasangka baik. Semua baik. Polisi baik. Petugas kelurahan baik. Proses birokrasi baik. Dan semua berjalan baik. Di kantor polisi ternyata mereka luar biasa baik. Penuh senyum. Melayani dengan cepat. Dan dalam waktu 10 menit aku menerima surat bukti kehilangan.

 

Surat tersebut aku bawa ke kelurahan. Ternyata antre. Pas giliranku. Petugas menanyakan persoalanku. Aku berikan surat dari kepolisian. Dia baca surat tersebut. “Oh tunggu ya pak sebentar kami print out KTP yang baru. Mungkin 15 menit prosesnya. Bapak tunggu di luar. Silahkan..?” Kata petugas kelurahan begitu ramahnya.

 

Betul. Belum 15 menit aku dipanggil dan menerima KTP baru. Aku ucapkan terimakasih dan terimakasih.

 

Kawan, ternyata segala yang di luar diri kita hanyalah bayangan kita. Baik buruk apa yang di luar kita, kitalah yang menciptakannya bermula dari pikiran, kita lalu turun menjadi tindakan kemudian menjadi sikap. Dan sikap mu akan menjadi cermin bagi alam lingkungan dan orang-orang yang berinteraksi denganmu.

 

Daripada kamu berilusi tentang dunia luar yang akan mereaksimu begini dan begitu, mengapa kamu tidak mengelola sesuatu yang real,  yang sangat dekat denganmu yaitu dirimu sendiri. Hidup ini hanya soal menyikapi saja. Kamu hanya menerima hukum sebab akibat yang kamu bangun.

 

Kalau kata orang Melayu…

 

Jika kau tak pandai manari, jangan bumi dibilang baguncang.

Akhirnya, satu jam yang lalu aku sudah mengantongi KTP baru. Ternyata pula bukan soal KTP isunya, tapi bagaimana belajar hidup berpancasila dimulai dari diri sendiri.

 

Advertisements

Dobrak , Bongkar Kebiasaan Lama

“Dobrak , Bongkar Kebiasaan Lama”
Kata Iwan Fals

Apa yang mesti didobrak bung Iwan ?

bongkar.jpg

 

Aku coba menjawab sendiri. Ya, kamu ternyata sadar tidak sadar sedang terpenjara dalam kotak-kotak sempit yang disebut ISME. Materialisme, spiritualisme, kapitalisme, sosialisme, individualisme, nasionalisme, demokratisme, hedonisme, feodalisme, imperialisme, pluralisme, idealisme, rasisme, skripturalisme, intelektualisme, rasionalisme, emosionalisme dan humanisme.

 

Kamu dimasukkan ke dalam kotak isme. Mulailah tanpa kritikal kamu menyuarakan idealisme itu, rasionalisme itu, nasionalisme itu dan segala isme itu. Kamu masuk dalam kotak.

 

Kamu pun kehilangan kemerdekaan dirimu. Kamu mulai membela tuhan ilusimu itu. Nasionalisme mendoktrinkan bahwa right or wrong is my own country. Kapitalisme mendoktrinkanmu time is money. Demokratisme mendogmamu suara rakyat suara Tuhan. Feodalisme mengajarkanmu the survival of the fittest. Rasionalisme mu mengajarkanmu keyakinan ilmu adalah yang empirik jika tidak empirik bukanlah ilmu, dst.

 

Kawan, you are beyond what you think about your own self. You are beyond everything. Kamu tak terbatas. Tak ada yang dapat membatasi wujud dirimu yang sebenarnya. Ketika kamu menerima kebanggaan isme-isme itu, kamu telah disematkan dengan kebanggaan ilusi. Mulailah saat itu kamu mengukur segala sesuatu dengan keterbatasan ismemu.

 

“Ternyata kamu anti nasionalisme ya !!!?”

 

Nasionality yes. Nasionalism no.Individuality yes, individualsm no. Spirituality yes, spiritualism no. Material yes, materialism no. Idealty yes idealism no. Rational yes rationalism no. Humanity yes humanism no.

 

Dobrak!!! Karena isme-isme itu telah memenjarakanmu. Isme-isme itu adalah kebiasaan lama, yang kamu telan begitu saja.

 

Aku semakin jatuh cinta pada Pancasila. Sila pertamanya adalah ketuhanan dan sila keduanya adalah kemanusiaan. Di hadapan gagasan ketuhanan dan kemanusiaan nasionality yes, nationalsm no. Kebangsaan hanyalah bersifat wawasan ekologis, geografis dan demografis. Keindonesiaanmu tidak membuatmu dapat berbuat semau-mau tanpa nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Dengan Pancasilamu, kamu tidak menganut dogma nasionalisme “right or wrong is my country”.

 

Kebanggaanmu hanya sebatas kebangsaan atau nationality. Bukan nasionalisme.

 

“Tapi kita sudah terlanjur terbiasa mengatakan nasionalisme… !??”

Ya, namanya juga lagi tidak sadar. Mau dibilang apa ?  Makanya kata bung Iwan Fals :

 

DOBRAK KEBIASAAN LAMA!!!

 

Merdeka!!! Mari bung, rebut kembali. Rebut kembali kebanggaanmu sebagai manusia terbaik dengan nilai-nilai yang membuatmu merdeka, rebut kembali nilai-nilai luhur nenek moyangmu yang luar biasa, berpegang pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebijaksanaan, keadilan yang tak terbatas teritorial Barat maupun Timur.

Dobrak !!!

 

Saat kamu dapat mendobrak dan membongkar ruang-ruang sempit isme-isme yang memenjarakanmu, maka saat itu realitasmu adalah keseluruhan individual juga sosial, spiritual juga material, nasional juga internasional, ketuhanan juga kemanusiaan, kapital juga komunal, parsial juga universal. Dan saat itu tak ada gagasan yang lebih murni darimu.
Dobrak dan bongkar !!!

(sambil tersenyum maniez).

 

Kalau bung Denny Siregar mendobraknya sambil ngopi.

Pemuda Pedas yang Angkat Bicara

Oleh: Ridhwan Kulaniy

2ue4apg

Sihir Demokrasi – MLM

Bung Eza dalam Program KURSUS POLITIK ADILUHUR nya menyebutkan bahwa Demokrasi di usung oleh sihir. Sehingga banyak manusia, banyak rakyat yang tersuntik emosionalnya untuk meyakini Demokrasi dan menggunakannya sebagai Ideologi diri mereka sendiri. Yang pada skala lebih besarnya, kini Demokrasi di semat-sematkan dengan Ideologi Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Begitulah Demokrasi, di tunjang dengan Neo-Modernisme dan Naturalisme di tambah dengan doktrin-doktrin Masyarakat Madani ala Barat. Begitu mampu menyentuh emosional manusia, sehingga menafikkan logika dan akal sehatnya. Parahnya seolah benar-benar tersihir dan melupakan Pancasila sebagai Ideologi Negara.

Seperti yang saya bilang, bahwa teriakan-teriakan Kedaulatan berbalut kepentingan yang mengandung Partikel-partikel Marketing, itu layaknya sebuah sihir pula.

Bahasa kekiniannya itu kaya Agen MLM. Merangsang Emosional seseorang untuk meraih simpati dan akhirnya ikut menyuarai dan menyetujui apa yang sedang di Promosikan tersebut.

Ini nampak makin menggelikan bagi saya pribadi.

Jika Bung Denny Siregar berpesan lewat Manis dan Pahitnya Kopi, Bung Eza lebih menyampaikannya lewat manisnya Cinta.

Sedangkan saya lebih berbakat untuk menghasilkan Pedasnya kritikkan.

Malam-malam gini, makan Indomie rebus dgn potongan Cabe Hijau diatasnya, menjadi sangat menggoda di lidah.