UTD (Untung Tiap Detik)

Terinspirasi dari tulisan sahabat cerdasku, Denny Siregar. Hidup ini bukan soal kalah-menang. Top!!

Ada dua cara untuk kamu menyikapi hidup, menang-kalah atau untung-rugi. Prinsip menang-kalah itu logika dualitas, logika kompetisi, logika persaingan, logika harus ada pihak yang jadi pemenang dan pihak yang jadi pecundang. Harus ada yang naik, harus ada yang dijatuhkan. Capek, kalau seperti itu.

Dalam sejarah, tokoh-tokoh hebat dunia kemanusiaan, para manusia pegiat pencerahan mengambil logika untung-rugi, dimana mereka selalu berada di pihak UTD (Untung Tiap Detik). Yang dimaksud bukan untung finansial, tapi untung tiap detik memegang prinsip ketuhanan dan kemanusiaan.

Tidak ada kerugian yang paling bangkrut daripada mengorbankan nilai diri demi meraih kesenangan sesaat. Dan tidak ada keuntungan yang lebih besar dan lebih agung daripada diri yang berpegang teguh pada kebenaran, ketuhanan dan kemanusiaan.

utd

Hidup yang sangat singkat ini, terlalu murah dan kehilangan nilai keabadiannya, ketika tidak dimanfaatkan untuk nilai-nilai yang sesuai dengan kemuliaan diri. Kamu mengalami kerugian dan kebangkrutan, saat detik-detik hidupmu kamu fungsikan untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan keagungan nilai dirimu. Dirimu yang begitu tak ternilai dan itu  sangat merugikan. Jika tidak difungsikan untuk membangun sejarah kemanusiaan dan peradaban.

Siapakah mereka yang UTD (Untung Tiap Detik) ?

Mereka adalah manusia yang mengambil setiap kesempatan hidupnya untuk membangun kualitas dirinya, kualitas spiritualnya, kualitas intelektualnya, kualitas hidup aktualnya. Tiap detik, dia memberi makna bagi kehidupan diri dan alam lingkungannya. Tiap saat, mereka mengambil kesempatan untuk berbagi, untuk menjadi bagian dari solusi, untuk melayani.

Mereka untung tiap detik. Mereka terlahir ke dunia sebagai hadiah istimewa bagi kehidupan sesama dan alam semesta. Fisik mereka terkubur, tapi karya-karya mereka masih memberi sumbangan abadi bagi alam, manusia dan kemanusiaan. Jasad mereka terkubur, tapi nama mereka tidak ikut terkubur.

Mereka hanya berpihak kepada keuntungan. Ketika banyak orang memecah-belah, mereka menyatukan. Ketika orang lain menebar kebencian, mereka menebar cinta dan kasih sayang. Ketika orang sibuk menebar penderitaan, mereka menebar kebahagiaan, ketika orang mengembangkan persaingan, mereka mengembangkan kerjasama menang-menang.

Mereka tidak pernah kehilangan momen unruk mengambil keuntungan demi keuntungan. Dimana ada kesempatan memberi manfaat, mereka hadiahkan diri mereka hadir sebagai manfaat. Dimana ada problem, mereka ambil kesempatan untuk menjadi solusi. Mereka hadir ke dunia ini seolah sebagai hadiah istimewa bagi alam semesta.

Mereka tidak pernah merugi. Mereka untung tiap detik.

Mungkin, kita pernah pendengar kisah heroik satu manusia yang tidak pernah merugi. Demi mempertahankan misi ketuhanan dan kemanusiaan, harus menderita tebasan pedang beracun di lehernya. Manusia suci itu berkata, “AKU BERUNTUNG, DEMI TUHAN !!!”

Namanya tercatat abadi sebagai pahlawan, Jasmaninya terkubur namun aroma wanginya tercium hingga akhir zaman. Sementara si pembunuh, menuai celaan abadi. Dia merugi selamanya dari kesempatan umurnya yang sangat singkat.

Ketika nama-nama manusia yang hidupnya memberi manfaat disebut, aroma wangi tercium dari namanya. Alam semesta kehilangan dan merindukannya. Ketika orang-orang yang hidupnya memberi penderitaan disebut, segenap alam semesta mengutuk dan menyesali kehadirannya. Alangkah kasihan dan menderita kedua orang tua yang telah melahirkannya.

 

Kamu masih punya waktu untuk menyelesaikan sisa umurmu, untuk merugi atau untuk

UTD (UNTUNG TIAP DETIK).

Hingga hari ini ketika nama Sukarno, Gandhi, Madam Teresa, Che Guevara, Leo Tolstoy disebut. Setiap orang merindukan mereka. Karya-karya mereka masih dinikmati dan masih memberi semangat, meski jasad mereka tertanam di bumi. Mereka memberi sumbangan bagi kehidupan sehingga nisan mereka tertulis di dalam setiap dada para pengagumnya di setiap zaman.

Advertisements

Dicari! Pemimpin Dunia

Dicari! Pemimpin Dunia.

dicari-pemimpin-dunia

Dunia hari ini, masih belum mencapai cita-cita idealnya. Masih terkungkung dalam ilusi tribalismenya. Masih terkotak-kotak dalam ilusi nasionalismenya. Masih terjerat dalam hayalan chauvinistiknya. Masih terpenjara dalam ideologi-ideologi sektoral parsialnya. Masih terbawa dalam gagasan saling menguasai oleh dan terhadap bangsa lain. Masih bermental zaman batu dengan kemasan teknologi.

Belum ada kemajuan. Masih menggunakan logika yang kuat yang menang. Yang kuat yang menguasai. The survival of the fittest. Sejak ribuan tahun lamanya, belum ada kemajuan berarti. Masih doyan perang, demi penguasaan dan penjajahan. Masih sangat primitif. Yang membedakan hanya alat-alat perang yang digunakan. Tetapi watak perang dan doyan membunuh demi menguasai bangsa lain masih sama. Watak barbarnya belum berubah sama sekali. Watak primitifnya masih sangat kuat.

Ciri ciri watak primitif adalah berorientasi pada penguasaan demi keberlangsungan hidup fisik biologis. Bahkan dunia hari ini dengan watak primitifnya lebih ganas. Lebih massive. Daya jangkaunya lebih jauh. Daya cakupnya lbh luas. Daya melumpuhkannya lebih efektif dan akurat.

Dunia hari ini disebut maju hanya di tingkat teknikal. Di level teknologi. Di kelas instrumental. Di skala alat-alat belaka. Wataknya tidak punya kemajuan. Kesadarannya jalan di tempat. Beda kaum primitif sekarang dengan yang dulu hanya di level instrumental equipment. Dahulu mereka naik kuda sekarang naik tank baja. Dahulu mereka pakai senjata panah beracun sekarang mereka gunakan senjata berhulu ledak nuklir. Jiwa barbariannya sama.

Dunia Barat dan Timur dengan ideologinya gagal membawa dunia pada kemajuan. Pada kedamaian. Pada kemanusiaan. Pada keadilan. Mengapa ?

Karena ideologinya berporos pada materialisme.

Dalam dunia yang sekarang ini materialisme menjadi satu-satunya ukuran kebenaran. Satu-satunya standar pembelaan diri. Meski tuhan disebut, agama diberi ruang, dan hak asasi manusia dikumandangkan, tapi semuanya hanya berfungsi sebagai alat untuk menegakkan watak materialismenya. Tuhan, kemanusiaan, dan agama masuk dalam domain alat dan instrumen penguasaan kaum materialisme.

Jiwa materialis adalah jiwanya kaum barbar dan primitif yang berjaya pada 500 juta tahun lalu. Watak mereka watak kanibal. Watak reptil. Orientasi watak reptil adalah pada pemenuhan kebutuhan biologis : watak dasarnya adalah hidup untuk makan, minum, dan berkembang biak. Tidak ada kegiatan yang lebih suci bagi kaum materialis kecuali makan, minum, dan berkembang biak. Demi orientasi makan, minum, dan berkembang biak ini, maka kaum primitif sangat possesif, sangat protektif, sangat reaktif, dan sangat defensif destruktif.

Mereka dengan berbagai cara, metode, teknik dan strategi untuk dapat menguasai sumberdaya alam untuk kelestarian hidup ras mereka. Untuk keselamatan mereka. Untuk kenyamanan mereka. Di sinilah watak penjajahan mental primitif beroperasi.

Kepemimpinan dunia yang disebut negara-negara maju sebenarnya ilusi. Mereka gagal membawa umat manusia pada cita-cita ideal kemanusiaan. Dari segi teknologi memang maju tapi dari segi watak dasar primitif, mereka masih jalan di tempat. Sampai hari ini umat manusia masih dalam pencarian model kepemimpinan ideal yang membawa mereka pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan kebijaksanaan, dan keadilan.

Kepemimpinan dunia ideal harus datang dari konsep ideologi yang ideal. Dan berita gembiranya, ideologi ideal yang akan membawa umat manusia pada kemajuan nilai hakikinya adalah ideologi yang berorientasi pada ketuhanan, kemanusiaan, kebijaksanaan, kebenaran dan keadilan. Dan ideologi itu hanya ada di nusantara ini.

Jadi darimanakah pemimpin dunia itu akan muncul ?

Dengan logika ini maka calon pemimpin dunia itu berasal dari nusantara.

Siapakah dia itu ?

Salah satu calonnya adalah kamu, dirimu.

SEMAKIN MENGUAT DIRIMU MENGUKIR NILAI NILAI PANCASILA, SEMAKIN MENGUAT PULA KAMU SEBAGAI CALON PEMIMPIN DUNIA.

.

Hanya Pancasila yang memenuhi syarat sempurna, menjadi ideologi dunia. Ideologi Pancasila begitu universal. Adakah yang lebih agung daripada isu ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan. Adakah yang dapat menyatukan umat manusia dari perbedaan suku, ras, kebangsaan, dan agama selain Pancasila.

Sedemikian hebat ideologi yang kamu warisi ini, maka kamu dijauhkan dari warisan ideologimu karena jika kamu menguat dengan ideologimu, kepemimpinan dunia kamulah yang paling pantas dan paling berhak atasnya.

Risalah 69 – Politik Kepemimpinan

Gandaria, 16 Maret 2016
Oleh: Eza Azerila

image

Spiritualitas

KURSUS POLITIK ADILUHUR

Risalah 69 / Politik Kepemimpinan

Indonesiaku..

Tuhan telah memberimu kebebasan dan kemerdekaan memilih tindakan dan sikap. Tak ada yang dapat leluasa memilihkan nasibmu kecuali dirimu.

Suatu ketika datang anak muda kepada seseorang yang sangat berwibawa dan kharismatik serta dianggap sakti sehingga ia menjadi rujukan masyarakat dalam segala persoalan hidup. Dia sangat dekat dengan Tuhan. Doanya selalu dikabulkan.

Anak muda : Aku ingin menjadi orang baik, tuan Guru…

Orang Tua : Bagus sekali cita citamu..

A M : Aku mohon kerelaan Tuhan dan kerelaanmu untuk keinginanku itu, Guru..

OT : (berdiam sejenak, lalu menepuk pundak anak muda, ia berkata) , hmmm…, sudah, sudah anak muda. Tuhan sudah rela kamu ingin menjadi baik. Dan akupun sudah rela.

Tinggal meunggu seorang lagi, maka terlaksanalah keinginanmu itu…

AM : Guru. Bukankah Tuhan dan engkau sudah rela? Lalu, siapakah yang masih aku tunggu kerelaannya, sehingga keinginanku terlaksana?

OT : Yang satu ini sangat menentukan anak muda. Tanpa dia tak satupun keinginan dan cita cita dapat terlaksana, ia adalah dirimu sendiri…

image

The Real Leader is...

Indonesiaku..

Apapun keinginan, apa pun cita-citamu, harus dapat dukungan dari dirimu sendiri. Tanpa dukungan dirimu semua kebaikan, segala keinginan, setiap cita-cita tak akan pernah terjadi.

Kamulah yang menciptakan nasibmu. Nasibmu tergantung pada karakter yang kamu bangun. Karaktermu tergantung pada kebiasaanmu yang berulang-ulang kamu lakukan (eksistensial realistis). Kebiasaanmu tercipta dari pola pikirmu. Pola pikirmu terlahir dari pandangan duniamu. Pandangan duniamu tercipta dari semangat dan spiritualitasmu.

Tindakan politikmu hari ini tercipta dari kebiasaan yang telah lama kamu ulang-ulang dan tertanam di alam bawah sadarmu.

Untuk menjadi berguna dan bermanfaat, kamu mesti mengulang-ulang perbuatan dan tindakan baikmu, sedemikian rupa sehingga kamu melakukannya tanpa berpikir lagi. Sehingga kamu hanya bisa berbuat baik dan kamu tak mampu berlaku jahat karena program kejahatan tidak tersimpan dalam memorimu, karena pikiran jahat tidak terekam dalam chip mentalmu.

Mereka yang tiba-tiba saja mengobral janji akan berbuat baik ini dan itu, demi rakyat begini dan begono, padahal selama ini kebiasaannya buruk, merugikan, tega, dan reputasi buruknya sudah terekam dalam memori mental dan alam bawah sadarnya, maka mereka hanya menjalankan sesuatu yang ada dalam rekaman jiwanya itu. Apa yang baru dia janjikan tidak akan mampu menghapus rekaman yang sudah termuat di kedalaman jiwa, di relung mentalnya.

Indonesiaku..

Memang ini zaman instan, bikin mie instan, kopi instan, dsb. Tapi di dunia kepemimpinan tidak berlaku sesuatu yang instan dan siap saji. Seorang pemimpin lahir dari pergolakan, dari romantika dan dinamika kehidupan. Bicara pemimpin adalah bicara jam terbang, bukan bicara siap saji.

Salam Kemandirian..