UTD (Untung Tiap Detik)

Terinspirasi dari tulisan sahabat cerdasku, Denny Siregar. Hidup ini bukan soal kalah-menang. Top!!

Ada dua cara untuk kamu menyikapi hidup, menang-kalah atau untung-rugi. Prinsip menang-kalah itu logika dualitas, logika kompetisi, logika persaingan, logika harus ada pihak yang jadi pemenang dan pihak yang jadi pecundang. Harus ada yang naik, harus ada yang dijatuhkan. Capek, kalau seperti itu.

Dalam sejarah, tokoh-tokoh hebat dunia kemanusiaan, para manusia pegiat pencerahan mengambil logika untung-rugi, dimana mereka selalu berada di pihak UTD (Untung Tiap Detik). Yang dimaksud bukan untung finansial, tapi untung tiap detik memegang prinsip ketuhanan dan kemanusiaan.

Tidak ada kerugian yang paling bangkrut daripada mengorbankan nilai diri demi meraih kesenangan sesaat. Dan tidak ada keuntungan yang lebih besar dan lebih agung daripada diri yang berpegang teguh pada kebenaran, ketuhanan dan kemanusiaan.

utd

Hidup yang sangat singkat ini, terlalu murah dan kehilangan nilai keabadiannya, ketika tidak dimanfaatkan untuk nilai-nilai yang sesuai dengan kemuliaan diri. Kamu mengalami kerugian dan kebangkrutan, saat detik-detik hidupmu kamu fungsikan untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan keagungan nilai dirimu. Dirimu yang begitu tak ternilai dan itu  sangat merugikan. Jika tidak difungsikan untuk membangun sejarah kemanusiaan dan peradaban.

Siapakah mereka yang UTD (Untung Tiap Detik) ?

Mereka adalah manusia yang mengambil setiap kesempatan hidupnya untuk membangun kualitas dirinya, kualitas spiritualnya, kualitas intelektualnya, kualitas hidup aktualnya. Tiap detik, dia memberi makna bagi kehidupan diri dan alam lingkungannya. Tiap saat, mereka mengambil kesempatan untuk berbagi, untuk menjadi bagian dari solusi, untuk melayani.

Mereka untung tiap detik. Mereka terlahir ke dunia sebagai hadiah istimewa bagi kehidupan sesama dan alam semesta. Fisik mereka terkubur, tapi karya-karya mereka masih memberi sumbangan abadi bagi alam, manusia dan kemanusiaan. Jasad mereka terkubur, tapi nama mereka tidak ikut terkubur.

Mereka hanya berpihak kepada keuntungan. Ketika banyak orang memecah-belah, mereka menyatukan. Ketika orang lain menebar kebencian, mereka menebar cinta dan kasih sayang. Ketika orang sibuk menebar penderitaan, mereka menebar kebahagiaan, ketika orang mengembangkan persaingan, mereka mengembangkan kerjasama menang-menang.

Mereka tidak pernah kehilangan momen unruk mengambil keuntungan demi keuntungan. Dimana ada kesempatan memberi manfaat, mereka hadiahkan diri mereka hadir sebagai manfaat. Dimana ada problem, mereka ambil kesempatan untuk menjadi solusi. Mereka hadir ke dunia ini seolah sebagai hadiah istimewa bagi alam semesta.

Mereka tidak pernah merugi. Mereka untung tiap detik.

Mungkin, kita pernah pendengar kisah heroik satu manusia yang tidak pernah merugi. Demi mempertahankan misi ketuhanan dan kemanusiaan, harus menderita tebasan pedang beracun di lehernya. Manusia suci itu berkata, “AKU BERUNTUNG, DEMI TUHAN !!!”

Namanya tercatat abadi sebagai pahlawan, Jasmaninya terkubur namun aroma wanginya tercium hingga akhir zaman. Sementara si pembunuh, menuai celaan abadi. Dia merugi selamanya dari kesempatan umurnya yang sangat singkat.

Ketika nama-nama manusia yang hidupnya memberi manfaat disebut, aroma wangi tercium dari namanya. Alam semesta kehilangan dan merindukannya. Ketika orang-orang yang hidupnya memberi penderitaan disebut, segenap alam semesta mengutuk dan menyesali kehadirannya. Alangkah kasihan dan menderita kedua orang tua yang telah melahirkannya.

 

Kamu masih punya waktu untuk menyelesaikan sisa umurmu, untuk merugi atau untuk

UTD (UNTUNG TIAP DETIK).

Hingga hari ini ketika nama Sukarno, Gandhi, Madam Teresa, Che Guevara, Leo Tolstoy disebut. Setiap orang merindukan mereka. Karya-karya mereka masih dinikmati dan masih memberi semangat, meski jasad mereka tertanam di bumi. Mereka memberi sumbangan bagi kehidupan sehingga nisan mereka tertulis di dalam setiap dada para pengagumnya di setiap zaman.

Advertisements

Three Questions

Ada tiga pertanyaan penting yang jawabannya mengarahkan pada kesadaran.

Pertama, siapakah manusia yang paling berharga ?

Kedua, apakah tindakan yang paling bernilai ?

Ketiga, kapankah melakukan tindakan yang paling
tepat ?

three-questions

Atas pertanyaan yang pertama : Manusia yang paling berharga adalah yang paling dekat dengan dirimu. Dan manusia yang paling dekat denganmu adalah dirimu sendiri.

Atas pertanyaan kedua : Tindakan yang paling bernilai adalah memberi pelayanan terbaik kepada manusia yang terdekat dengan dirimu. Melakukan perhatian sempurna kepada dirimu sendiri. Manusia yang terdekat dengan dirimu itu, yaitu dirimu itu. Paling berhak menerima pelayanan terbaik olehmu sebelum kamu melakukannya pada siapapun. Jika kamu ingin memberi cinta, berilah cinta itu padanya. Jika kamu ingin membagi kebahagiaan, berikanlah kebahagiaan itu padanya sebelum yang lain. Jika kamu ingin melakukan pendidikan, lakukanlah seoptimal mungkin kepadanya sebelum kepada yang lain.

Sedemikian berharga dan tak ternilainya manusia yang terdekat denganmu itu, sehingga dia paling berhak atas seluruh kebaikan yang kamu ingin berikan. Dia lebih berhak atas cintamu, sebelum kamu berikan kepada yang lain.

Ketika dia lapar, maka kamu tidak boleh membiarkannya kelaparan. Dia lapar spiritual, lapar intelektual, lapar kebahagiaan, lapar pengetahuan, lapar kasih sayang. Sudahkah kamu penuhi rasa laparnya itu..?

Apakah kamu begitu tega memberikan waktumu pada yang jauh, sementara manusia yang paling dekat dengan dirimu kamu abaikan begitu saja, tidak kamu dengarkan dia meminta, mengemis dan menjerit ?

Ada apa denganmu, sehingga kamu tidak mendengar keluh kesahnya. Meminta gizi yang paling disukainya ?

Berupa gizi spiritual, gizi intelektual, gizi ilmu, gizi hikmat, dan gizi kebijaksanaan ?

Ada apa denganmu, sehingga kamu begitu sibuk melakukan ini dan itu kepada yang jauh, sementara manusia yang paling dekat dan paling berharga bagimu kamu lupakan dan kamu abaikan ?

Tidak ada tindakan yang lebih bernilai dan lebih bermakna daripada memenuhi tanggungjawabmu terhadapnya. Terhadap dirimu sendiri…

Kata Leo Tolstoy, seorang sastrawan Rusia yang tulisan tulisannya memengaruhi Gandhi , “Semua orang berfikir untuk mengubah dunia, tetapi tak seorangpun berfikir untuk mengubah diri sendiri.”.

 

Atas pertanyaan yang ketiga : Kapankah waktu yang paling tepat untuk melayani segala kebutuhan manusia yang paling dekat dan paling berharga itu ?

Waktu yang paling tepat adalah SEKARANG. Jangan menunggu sampai dia mati kelaparan.

Ku hadiahkan tulisan ini kepada manusia yang terdekat dengan diriku Eza Azerila, Ilham Ghanya Ilham, Jimy Jangkrick, Sapta Furniture, Bundanya Fadel, Tri Saleh Mokodongan, Mohammad Sodikin, Edwin Walakandou,Eve Hutagalung, James Gulo, Esi Teja, Thomas Al Akbar Siregar, Wins Tri,Meta Thomson, Tody Xavier Agiar Branco, Juen Black, Amirah LayLa, Irfan Pelizzolli, Ridhwan Kulaniy, Adhit Sabarno, Radinda Amelia, Asriana Kibtiyah, Tantowi Jouhari, Nikmat Tanjung, Husin Siregar, Eliza M Permatasari, Ritawaty Florentina, Putri Aurellel Camila, Jimy Jangkrick,De Fatah, Satriyo Aljawi, Brusman Kennedy, dll

Dua Cara Beragama

Cara Beragama.jpg

“Eza, bagaimana ciri ciri orang beragama yang baik dan benar..?” Ada yang bertanya gitu.

“Apapun agamamu, tidak perlu dioplos. Yang penting kamu tahu cara beragama itu hanya ada dua.” Ku bilang. “Cara beragama Pancasila. Dan cara beragama Pancagila. Itu saja.” lanjutku.

Cara beragama Pancasila. Dengan agama yang kamu anut, kamu semakin mengenal bahwa Tuhan itu Maha Esa. Bahwa Tuhan itu Bersifat luhur Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemurah, Maha Mencintai, Maha Memberi, Maha Membahagiakan, Maha Menolong, Maha Memaafkan dst, dst. Setelah melalui agamamu kamu mengenal Tuhan begitu Agung dan Luhur, lalu kamu mengukir kemanusiaanmu dengan sifat-sifat dan nilai-nilai luhur itu, kamu menjadi lebih mencintai, lebih mengasihi, lebih menyayangi, lebih melayani, lebih bijaksana dst.

Kemudian menjadilah kamu manusia yang cinta persatuan, cinta sesama manusia, cinta bhinneka tunggal ika, cinta gotong-royong dst. Maka lahirlah pada dirimu jiwa kerakyatan yang siap dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan berujung pada terwujudnya keadilan sosial di negerimu. Itu cara beragama Pancasila.

Tapi, apapun agamamu, sehebat apapun agama itu menurut pengakuanmu. Namun jika tak ada ketuhanan di sana, tak ada cinta di sana, tak ada kasih sayang di sana, tak ada kemurahan di sana, tak ada kelembutan di sana dst. Lalu kamu dapati dirimu begitu kering dari nilai ketuhanan, dari cinta dan kasih sayang, dari kemurahan, dari pelayanan, dari kepedulian, dan membuat kamu menjadi anti persatuan, tidak suka dengan ciptaan Tuhan, selalu mencari perbedaan, gemar perpecahan, doyan permusuhan, keranjingan fitnah dan kebencian, dan akhirnya kamu tidak berjiwa kerakyatan, maunya hanya memimpin padahal tidak punya kemampuan. Sehingga bangsa ini semakin jauh dari keadilan, dari kedamaian, dari persatuan, dari pembangunan karena hanya sibuk tenggelam dalam problem dan persoalan, maka itu namanya cara beragama jenis kedua. Itu yang disebut cara beragama PANCAGILA Semakin beragama semakin GILA.

Ternyata jika kamu tidak berpancasila ya berpancagila.

Urus KTP

Entah jatuh dimana KTP sebagai kartu tanda pengenal identitasku hilang. Aku mesti mengurus surat bukti kehilangan ke polisi. Lalu ke kelurahan. Aku harus mengurusnya segera karena minggu ini aku akan ke Bali untuk acara pelatihan. Yang aku dengar tentang birokrasi di negri ini selalu agak malesin. Malesin dia mah. Amit-amit berurusan sama birokrasi, sama polisi, sama kelurahan. Kalau bisa dipersulit buat apa dipermudah ?  Dan seterusnya dan seterusnya.

cerminan diri.jpg

 

Aku sedang belajar memerdekakan diriku dari segala informasi negatif. Aku tidak mau menerima begitu saja omongan-omongan yang datang menghampiri telingaku, tentang apa saja. Urusan ini dan itu di luar sana, konon tidak baik itu bukan urusanku. Urusanku yang paling dekat denganku adalah diriku sendiri.

 

Sebaik apapun di luar diriku, jika dalam diriku bermasalah maka semua nampak tidak baik. Karena aku mengukur segalanya dengan ukuran selera diriku. Seburuk apapun kondisi di luar diriku tidak akan memengaruhi kebahagiaanku. Karena kebahagiaan hanya bercerita dan memanifestasi tentang dirinya sendiri.

 

Aku berprasangka baik. Semua baik. Polisi baik. Petugas kelurahan baik. Proses birokrasi baik. Dan semua berjalan baik. Di kantor polisi ternyata mereka luar biasa baik. Penuh senyum. Melayani dengan cepat. Dan dalam waktu 10 menit aku menerima surat bukti kehilangan.

 

Surat tersebut aku bawa ke kelurahan. Ternyata antre. Pas giliranku. Petugas menanyakan persoalanku. Aku berikan surat dari kepolisian. Dia baca surat tersebut. “Oh tunggu ya pak sebentar kami print out KTP yang baru. Mungkin 15 menit prosesnya. Bapak tunggu di luar. Silahkan..?” Kata petugas kelurahan begitu ramahnya.

 

Betul. Belum 15 menit aku dipanggil dan menerima KTP baru. Aku ucapkan terimakasih dan terimakasih.

 

Kawan, ternyata segala yang di luar diri kita hanyalah bayangan kita. Baik buruk apa yang di luar kita, kitalah yang menciptakannya bermula dari pikiran, kita lalu turun menjadi tindakan kemudian menjadi sikap. Dan sikap mu akan menjadi cermin bagi alam lingkungan dan orang-orang yang berinteraksi denganmu.

 

Daripada kamu berilusi tentang dunia luar yang akan mereaksimu begini dan begitu, mengapa kamu tidak mengelola sesuatu yang real,  yang sangat dekat denganmu yaitu dirimu sendiri. Hidup ini hanya soal menyikapi saja. Kamu hanya menerima hukum sebab akibat yang kamu bangun.

 

Kalau kata orang Melayu…

 

Jika kau tak pandai manari, jangan bumi dibilang baguncang.

Akhirnya, satu jam yang lalu aku sudah mengantongi KTP baru. Ternyata pula bukan soal KTP isunya, tapi bagaimana belajar hidup berpancasila dimulai dari diri sendiri.

 

Dobrak , Bongkar Kebiasaan Lama

“Dobrak , Bongkar Kebiasaan Lama”
Kata Iwan Fals

Apa yang mesti didobrak bung Iwan ?

bongkar.jpg

 

Aku coba menjawab sendiri. Ya, kamu ternyata sadar tidak sadar sedang terpenjara dalam kotak-kotak sempit yang disebut ISME. Materialisme, spiritualisme, kapitalisme, sosialisme, individualisme, nasionalisme, demokratisme, hedonisme, feodalisme, imperialisme, pluralisme, idealisme, rasisme, skripturalisme, intelektualisme, rasionalisme, emosionalisme dan humanisme.

 

Kamu dimasukkan ke dalam kotak isme. Mulailah tanpa kritikal kamu menyuarakan idealisme itu, rasionalisme itu, nasionalisme itu dan segala isme itu. Kamu masuk dalam kotak.

 

Kamu pun kehilangan kemerdekaan dirimu. Kamu mulai membela tuhan ilusimu itu. Nasionalisme mendoktrinkan bahwa right or wrong is my own country. Kapitalisme mendoktrinkanmu time is money. Demokratisme mendogmamu suara rakyat suara Tuhan. Feodalisme mengajarkanmu the survival of the fittest. Rasionalisme mu mengajarkanmu keyakinan ilmu adalah yang empirik jika tidak empirik bukanlah ilmu, dst.

 

Kawan, you are beyond what you think about your own self. You are beyond everything. Kamu tak terbatas. Tak ada yang dapat membatasi wujud dirimu yang sebenarnya. Ketika kamu menerima kebanggaan isme-isme itu, kamu telah disematkan dengan kebanggaan ilusi. Mulailah saat itu kamu mengukur segala sesuatu dengan keterbatasan ismemu.

 

“Ternyata kamu anti nasionalisme ya !!!?”

 

Nasionality yes. Nasionalism no.Individuality yes, individualsm no. Spirituality yes, spiritualism no. Material yes, materialism no. Idealty yes idealism no. Rational yes rationalism no. Humanity yes humanism no.

 

Dobrak!!! Karena isme-isme itu telah memenjarakanmu. Isme-isme itu adalah kebiasaan lama, yang kamu telan begitu saja.

 

Aku semakin jatuh cinta pada Pancasila. Sila pertamanya adalah ketuhanan dan sila keduanya adalah kemanusiaan. Di hadapan gagasan ketuhanan dan kemanusiaan nasionality yes, nationalsm no. Kebangsaan hanyalah bersifat wawasan ekologis, geografis dan demografis. Keindonesiaanmu tidak membuatmu dapat berbuat semau-mau tanpa nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Dengan Pancasilamu, kamu tidak menganut dogma nasionalisme “right or wrong is my country”.

 

Kebanggaanmu hanya sebatas kebangsaan atau nationality. Bukan nasionalisme.

 

“Tapi kita sudah terlanjur terbiasa mengatakan nasionalisme… !??”

Ya, namanya juga lagi tidak sadar. Mau dibilang apa ?  Makanya kata bung Iwan Fals :

 

DOBRAK KEBIASAAN LAMA!!!

 

Merdeka!!! Mari bung, rebut kembali. Rebut kembali kebanggaanmu sebagai manusia terbaik dengan nilai-nilai yang membuatmu merdeka, rebut kembali nilai-nilai luhur nenek moyangmu yang luar biasa, berpegang pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebijaksanaan, keadilan yang tak terbatas teritorial Barat maupun Timur.

Dobrak !!!

 

Saat kamu dapat mendobrak dan membongkar ruang-ruang sempit isme-isme yang memenjarakanmu, maka saat itu realitasmu adalah keseluruhan individual juga sosial, spiritual juga material, nasional juga internasional, ketuhanan juga kemanusiaan, kapital juga komunal, parsial juga universal. Dan saat itu tak ada gagasan yang lebih murni darimu.
Dobrak dan bongkar !!!

(sambil tersenyum maniez).

 

Kalau bung Denny Siregar mendobraknya sambil ngopi.

Dicari! Pemimpin Dunia

Dicari! Pemimpin Dunia.

dicari-pemimpin-dunia

Dunia hari ini, masih belum mencapai cita-cita idealnya. Masih terkungkung dalam ilusi tribalismenya. Masih terkotak-kotak dalam ilusi nasionalismenya. Masih terjerat dalam hayalan chauvinistiknya. Masih terpenjara dalam ideologi-ideologi sektoral parsialnya. Masih terbawa dalam gagasan saling menguasai oleh dan terhadap bangsa lain. Masih bermental zaman batu dengan kemasan teknologi.

Belum ada kemajuan. Masih menggunakan logika yang kuat yang menang. Yang kuat yang menguasai. The survival of the fittest. Sejak ribuan tahun lamanya, belum ada kemajuan berarti. Masih doyan perang, demi penguasaan dan penjajahan. Masih sangat primitif. Yang membedakan hanya alat-alat perang yang digunakan. Tetapi watak perang dan doyan membunuh demi menguasai bangsa lain masih sama. Watak barbarnya belum berubah sama sekali. Watak primitifnya masih sangat kuat.

Ciri ciri watak primitif adalah berorientasi pada penguasaan demi keberlangsungan hidup fisik biologis. Bahkan dunia hari ini dengan watak primitifnya lebih ganas. Lebih massive. Daya jangkaunya lebih jauh. Daya cakupnya lbh luas. Daya melumpuhkannya lebih efektif dan akurat.

Dunia hari ini disebut maju hanya di tingkat teknikal. Di level teknologi. Di kelas instrumental. Di skala alat-alat belaka. Wataknya tidak punya kemajuan. Kesadarannya jalan di tempat. Beda kaum primitif sekarang dengan yang dulu hanya di level instrumental equipment. Dahulu mereka naik kuda sekarang naik tank baja. Dahulu mereka pakai senjata panah beracun sekarang mereka gunakan senjata berhulu ledak nuklir. Jiwa barbariannya sama.

Dunia Barat dan Timur dengan ideologinya gagal membawa dunia pada kemajuan. Pada kedamaian. Pada kemanusiaan. Pada keadilan. Mengapa ?

Karena ideologinya berporos pada materialisme.

Dalam dunia yang sekarang ini materialisme menjadi satu-satunya ukuran kebenaran. Satu-satunya standar pembelaan diri. Meski tuhan disebut, agama diberi ruang, dan hak asasi manusia dikumandangkan, tapi semuanya hanya berfungsi sebagai alat untuk menegakkan watak materialismenya. Tuhan, kemanusiaan, dan agama masuk dalam domain alat dan instrumen penguasaan kaum materialisme.

Jiwa materialis adalah jiwanya kaum barbar dan primitif yang berjaya pada 500 juta tahun lalu. Watak mereka watak kanibal. Watak reptil. Orientasi watak reptil adalah pada pemenuhan kebutuhan biologis : watak dasarnya adalah hidup untuk makan, minum, dan berkembang biak. Tidak ada kegiatan yang lebih suci bagi kaum materialis kecuali makan, minum, dan berkembang biak. Demi orientasi makan, minum, dan berkembang biak ini, maka kaum primitif sangat possesif, sangat protektif, sangat reaktif, dan sangat defensif destruktif.

Mereka dengan berbagai cara, metode, teknik dan strategi untuk dapat menguasai sumberdaya alam untuk kelestarian hidup ras mereka. Untuk keselamatan mereka. Untuk kenyamanan mereka. Di sinilah watak penjajahan mental primitif beroperasi.

Kepemimpinan dunia yang disebut negara-negara maju sebenarnya ilusi. Mereka gagal membawa umat manusia pada cita-cita ideal kemanusiaan. Dari segi teknologi memang maju tapi dari segi watak dasar primitif, mereka masih jalan di tempat. Sampai hari ini umat manusia masih dalam pencarian model kepemimpinan ideal yang membawa mereka pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan kebijaksanaan, dan keadilan.

Kepemimpinan dunia ideal harus datang dari konsep ideologi yang ideal. Dan berita gembiranya, ideologi ideal yang akan membawa umat manusia pada kemajuan nilai hakikinya adalah ideologi yang berorientasi pada ketuhanan, kemanusiaan, kebijaksanaan, kebenaran dan keadilan. Dan ideologi itu hanya ada di nusantara ini.

Jadi darimanakah pemimpin dunia itu akan muncul ?

Dengan logika ini maka calon pemimpin dunia itu berasal dari nusantara.

Siapakah dia itu ?

Salah satu calonnya adalah kamu, dirimu.

SEMAKIN MENGUAT DIRIMU MENGUKIR NILAI NILAI PANCASILA, SEMAKIN MENGUAT PULA KAMU SEBAGAI CALON PEMIMPIN DUNIA.

.

Hanya Pancasila yang memenuhi syarat sempurna, menjadi ideologi dunia. Ideologi Pancasila begitu universal. Adakah yang lebih agung daripada isu ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan. Adakah yang dapat menyatukan umat manusia dari perbedaan suku, ras, kebangsaan, dan agama selain Pancasila.

Sedemikian hebat ideologi yang kamu warisi ini, maka kamu dijauhkan dari warisan ideologimu karena jika kamu menguat dengan ideologimu, kepemimpinan dunia kamulah yang paling pantas dan paling berhak atasnya.

Hidup, Antara Cinta dan Kepentingan

Kusembahkan tulisan ini buat dinda Radinda Amelia

cintadankepentingan
“Hidup ini hanya soal sikap menyikapi. Tidak ada yang lain.” Kataku
“Maksudnya !!?”

 

Setiap orang selama hidupnya, ia hanya berada pada soal sikap menyikapi. Saat dia berinteraksi dengan dirinya saat itu ia menyikapi dirinya. Saat dia berinteraksi dengan lingkungannya, saat itu ia menyikapi lingkungannya. Saat ia berinteraksi dengan Tuhannya, saat itu bagaimana ia menyikapi Tuhannya. Saat dia berinteraksi dengan profesi atau pekerjaannya, saat itu ia menyikai profesinya. Dan saat ia berinteraksi dengan orang-orang, dengan orangtuanya, dengan sahabatnya, dengan kekasihnya dst, di saat itu dia menyikapi orrang-orang itu.

 

“Oooo yaa…, trusss.. !??”

 

“Lalu bagaimana soal sikap menyikapi pun hanya dua saja basisnya. Apakah ia berbasis cinta atau berbasis kepentingan. Gitu saja.” Kataku.

 

“Kalau yang berbasis cinta, cirinya apa.. !??”

 

Yang berbasis cinta, cirinya permanen seumur cinta itu sendiri. Yang berbasis kepentingan cirinya temporal, sebatas kepentingan itu sendiri.

 

Misalnya interaksimu dengan Tuhanmu, jika basisnya cinta kamu akan tetap bersemangat kepada-Nya . Betapapun doa-doamu seolah tidak mendapatkan jawaban dan pengabulan. Tapi, jika basisnya kepentingan maka kamu semangat kepada Tuhanmu saat memohon dan pergi saat permohonanmu sudah diberikan. Atau lesu saat kepentinganmu tidak kunjung kamu dapatkan. Karena hubunganmu kamu ukur sebatas kepentinganmu, sebatas hasratmu, sebatas seleramu, sebatas pihakmu.

 

Misalnya lagi, interaksimu dengan orang-orang dalam pergaulan sosial, politik, bisnis, ekonomi dsb. Jika basisnya cinta pergaulanmu tetap terpelihara dengan baik, tapi jika basisnya kepentingan hubunganmu berlangsung sebatas kepentinganmu apakah tercapai atau tidak. Sehingga ada ungkapan tiada yang abadi kecuali kepentingan. Ungkapan itu terjadi bukan hanya di dunia intrik. Tapi di kehidupan sehari-hari. Seharusnya ungkapan itu berbunyi tiada yang abadi selain cinta.

 

Sederhananya, sikap cintamu berorientasi permanent, keabadian, kebahagiaan, manfaat bagi semua pihak, kesetiaan, kesabaran, ketangguhan, kepedulian, dan tanggungjawab. Karena cintamu mengandung cherist every moment, peace every moment, happy ecerymoment. Sikap cintamu bertenaga, berenerzi, berkekuatan yg berasal dari inner-power, inner-beauty, inner-dynamic. Tak ada kekuatan apapun yang dapat merusak hubungan interaktifmu dengan apa dan siapapun jika basisnya adalah cinta.

 

Hubungan persahabatan, kekeluargaan, perjuangan, keagamaan, kemasyarakatan, pergerakan, keorganisasian, perintrikan, perekonomian, perniagaan, menjadi rusak biasanya karena dibangun atas fondasi yang rapuh. Fondasi kepentingan. Bangunan tegak selama kepentingan masih menjadi harapan. Ketika kepentingan sudah tak ada lagi, maka seluruh bangunan persahabatan, perniagaan, perpolitikan, kemasyarakatan tadi yang telah dibangun bertahun-tahun, runtuh dalam sekejap mata, roboh dalam hitungan kurang dari satu detik.

Hidup hanya soal sikap-menyikapi. Sikap-menyikapi hanya soal cinta atau kepentingan. Cinta berorientasi permanen. Kepentingan berorientasi temporal. Gitu saja kawan.

Selamat berinterkasi dan menyikapi hidup kawan.