Pujian Eksistensial

Ada ungkapan sangat bijak. “Jangan ceritakan tentang dirimu pada siapapun. Karena mereka yang mencintaimu tidak butuh itu. Dan mereka yang membencimu takkan mempercayai itu “.

So wise!

Sebenarnya yang dimaksudkan adalah jangan ceritakan dirimu secara lisan tentang kehebatan dirimu. Adapun secara realitas, segenap eksistensimu adalah cerita dirimu. Seluruh keberadaan lahir-batinmu adalah cerita terbuka tentang dirimu. Meski kamu tidak mengatakannya secara lisan, meski kamu tidak menceritakannya secara ungkapan dan tulisan.

cerita-hidup

Saat kamu murung, dirimu sedang menceritakan penderitaannya. Saat kamu tersenyum, dirimu sedang menceritakan kebahagiaannya. Duduk dan berdirimu, diam dan gerakmu, tawa dan tangismu sedang menceritakan kepada alam siapakah dirimu. Apakah dirimu sebuah cerita horor, cerita fiksi atau cerita nonfiksi. Semua kehidupaan dapat membaca dan merekamnya.

Dalam cerita itu kamu adalah sutradara dan kamu pula aktor pelakunya. Ilustrasinya begini.

Setelah ujian kenaikan kelas, diumumkan bahwa anakmu juara satu. Karena biasanya mamanya yang hadir menemani ambil rapot, sang mama langsung mengatakan kepada anaknya, “Wahh. Hebat kamu nak. Nggak percuma jadi anak mama.. Sukses selalu ya nak..!? “.

Itu sebentuk pujian. Pujian itu bersifat lisan. Bersifat verbal.

Mendengar laporan dari mamanya bahwa anakmu juara satu, kamu bergegas ke toko HP. Sesampai di rumah kamu langsung memeluk, menciumi dan berkata padanya, “Ini papa belikan HP tercanggih atas kecanggihan prestasimu “.

Kamu juga memuji tapi dalam bentuk yang lebih nyata, yaitu HP. Pujianmu pujian aktual. Lebih kuat dari pada pujian verbal, dari pada pujian kata-kata.

Pertanyaannya, dapatkah lahir pujian verbal yang dari mamanya itu dan pujian aktual yang dari papanya itu. Jika tidak ada prestasi gemilang sang anak ?

Tentu tidak.

Ketika sang anak mendengar pujian lisan dari mamanya dan pujian aktual dari papanya, seolah sang anak sedang berkata, “Karena aku hebat, maka mama dan papa bilang hebat. Akulah kehebatan yang nyata. Kehebatan yang tidak berupa cerita verbal atau ungkapan. Akulah kehebatan itu sendiri. Akulah pujian itu sendiri.”

Eksistensi si anak sedang menceritakan kehebatan dirinya dalam bentuk nyata. Bukan dalam bentuk cerita-cerita lisan. Bukan pengakuan-pengakuan. Dia bukan sedang cerita tentang kehebatan, namun dialah kehebatan itu sediri. Dialah kehebatan yang nyata. Dialah kehebatan yang bukan kata-kata.

Semua konsep-konsep kebaikan, kebenaran, keadilan, kebijaksanaan, keindahan, cinta dan kasih sayang, awalnya berupa huruf-huruf yang terangkai menjadi kata. Saat semuanya terukir nyata, maka bagaikan Gandhi.

Semua itu sedemikian terukir nyata, sehingga dialah kebaikan itu, dialah keadilan itu, dialah kebijaksanaan itu, dialah cinta itu dan dialah kemurahan itu.

Pujian bertingkat tingkat, verbal agar menjadi aktual. Aktualisasi agar menjadi eksistensial. Pujian verbal berupa penilaian dari luar, bisa benar bisa saja tidak sesuai dengan realitasnya. Tapi pujian eksistensial adalah kehebatan yang terukir di dalam diri menjadi begitu nyata.

Realitas dirimu sedang bercerita dan cerita dirimu ada yang sudi membacanya, ada pula yang tidak sudi. Betapapun, meski mulutmu diam seribu bahasa, dirimu sedang tiada henti-hentinya bercerita. Apakah cerita dirimu menghibur dan menginspirasi atau berupa cerita horor yang menakutkan, kamulah yang menulisnya dalam lembaran-lembaran kisah yang paling nyata.

Kelas-kelas Orang Beragama

Kelas-kelas Orang Beragama

image

Basic, Intermediate, Advance.

“Eza Azerila, agamamu apa sih? , tanya seseorg, ” kok, tulisan tulisannya gak pakai dalil-dalil dari kitab suci agama?”

Agama itu urusan pribadi masing-masing’ Kataku. Apapun agamamu yang penting kamu bertuhan dan memuji-Nya sedemikian rupa sehingga kamu jadi pujian itu sendiri.

Maksudnya..!!?

Ya, jangan berhenti memuji. Gitu aja.

Maksudnya..!!?

Ya, berhenti memuji berarti gagal bertuhan. Gagal bertuhan ya berarti gagal beragama.

Maksudnya..!!?

Ya, kamu memuji terus sampaiiii kamu jadi pujian..

Maksudnya..!!?

Begini…
Memuji itu ada tiga tingkatan. Lisan. Tindakan. Kenyataan.

Trusss..

Ketika kamu mengatakan pada Tuhanmu, ” Wahai Cinta, Duhai Yang Maha Kasih Sayang…, dst..
Itu kamu memuji-Nya secara lisan. Saat itu kamu sedang beragama di grade satu. Kelas basic. Kamu belum kuat. Meski kamu benar itu.

Manakala ketika lisanmu mengucapkan kasih sayang sementara kamu mengembangkan hidup penuh kebencian dan permusuhan, maka kamu disebut berhenti di pujian lisan. Kamu nggak naik kelas duanya. Kelas Intermediate.

Namun, ketika pujian lisanmu, kamu barengi dengan tindakan kasih sayang, mencintai,, mengasihi, bermurah hati, menolong, melayani dst, maka saat itu kamu sudah masuk grade dua. Kelas Intermediate. Kamu semakin menguat. Itu namanya pujian tindakan, pujian aktual. Lebih nyata daripada pujian lisan, daripada pujian verbal.

Truss…!?

Nah, kamu jangan berhenti di tindakan. Masih bisa luntur. Karna masih mood-mood-an. Kalo lagi mood bertindak, kalo lagi gak mood malas bertindak.

Caranya..!?

Caranya kamu terus mengulang ulang tindakan kasih sayangmu, terus-menerus, nggak pakai bosen nggak pakai malas, nggak pakai jedah, sehingga tindakanmu menjadi ukiran, menjadi karakter, menjadi satu dg dirimu, menjadi eksistensial. Saat itulah pujianmu menjadi nyata. Mengapa?
Karena kamu telah bermetamorpsa menjadi pujian itu sendiri. Kamu telah menjadi kasih sayang itu sendiri. Kamulah cinta itu sendiri.

Merindukanmu, merindukan cinta. Merindukan cinta, merindukanmu. Kamu adalah cinta, dan cinta adalah dirimu.

Keep love until you become the love it self. Until you are absolutely what they call love is…

Itu cara beragama, memuji Tuhan berujung sampai menjadi pujian, dimulai latihan lisan (verbal), tindakan (aktual), dan berujung di pujian paling kuat dan nyata (eksistensial) .

Semua agama menuntun ke proses ini. Jadi kalo ada yang beragama merusak berarti dia di kelas berapa..??

Ini perlu diketahui orang-orang beragama agar tidak mudah terprovokasi.

Ooo, pantaaassss..??!!